BOGOR, TANDABACA.ID – Rina Tri Handayani adalah sosok pengajar yang mengabdikan dirinya untuk mendampingi anak-anak disabilitas dalam mengekspresikan diri melalui seni tari.
Perjalanannya dimulai dari sebuah tawaran sederhana—mengisi kegiatan ekstrakurikuler tari di sebuah Sekolah Luar Biasa.
Meski sempat diliputi keraguan karena minimnya pengalaman mengajar anak berkebutuhan khusus, Rina memberanikan diri untuk mencoba.
Berbekal latar belakang sebagai pendukung kegiatan di sanggar tari Jaipong, ia melangkah dengan niat tulus: merangkul dan membuka ruang bagi potensi anak-anak yang selama ini tersembunyi.
Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan yang penuh makna.
Rina tidak hanya mengajarkan gerakan tari, tetapi juga membangun kepercayaan diri anak-anak disabilitas.
Ia melihat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya, melainkan tantangan yang bisa diolah menjadi kekuatan melalui pendekatan yang tepat.
BACA INI JUGA : Aksi Mengharukan Anak-Anak Disabilitas Bogor, Turun ke Jalan Untuk Berbagi
Dalam salah satu penampilannya di acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Budha Tzuchi, Rina mempersembahkan tarian Indang, sebuah tarian tradisional dari Sumatra Barat.
Tarian ini dipilih dengan pertimbangan khusus: gerakannya ringan, musiknya ceria, dan mudah diikuti oleh pemula.
Dengan kostum yang sederhana dan nyaman, anak-anak dapat menari dengan penuh kegembiraan tanpa merasa terbebani.
Pendekatan ini terbukti efektif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan inklusif.
Selain itu, Rina juga memperkenalkan tarian Merak, yang merupakan bagian dari tari Jaipong semi klasik.
Tarian ini dipilih bukan hanya karena nilai estetikanya, tetapi juga sebagai simbol penghormatan terhadap budaya lokal Jawa Barat.
Dalam konteks acara lintas budaya, kehadiran tarian ini menjadi wujud harmonisasi antara berbagai latar belakang, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah.
BACA INI JUGA : PWI Jaya dan Diskominfotik DKI Jakarta Matangkan Anugerah Jurnalistik MHT Awards 2026
Bagi Rina, seni tari bukan sekadar pertunjukan, tetapi sarana edukasi dan pelestarian budaya.
Ia meyakini bahwa budaya daerah harus terus dijaga dan dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui pendekatan kearifan lokal yang adaptif, generasi muda—termasuk anak-anak disabilitas—dapat lebih mudah memahami dan mencintai warisan budaya mereka.
Lebih dari itu, Rina berharap keberadaan sanggar disabilitas dapat menjadi wadah yang mendorong orang tua untuk lebih aktif mendukung anak-anak mereka.
Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam membuka peluang berekspresi dan mengembangkan bakat yang dimiliki setiap anak.
Dengan dedikasi dan ketulusan, Rina Tri Handayani telah membuktikan bahwa seni mampu menjadi jembatan inklusi—menghubungkan keterbatasan dengan kemungkinan, dan menghadirkan harapan melalui setiap gerakan tari.
(Benny Firmanto/Biro Bogor Raya)














Terima kasih Pemred, editingnya kereen…jaya tandabaca makin sukses