Jakarta, tandabaca.id
𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 1664, 𝘑𝘰𝘰𝘴𝘵 𝘚𝘤𝘩𝘰𝘶𝘵𝘦𝘯 — 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨 & 𝘥𝘪𝘱𝘭𝘰𝘮𝘢𝘵 𝘝𝘖𝘊 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘬𝘢𝘱 — dihukum cekik 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘣𝘶 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘉𝘢𝘵𝘢𝘷𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘰𝘥𝘰𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯
Kalimat di atas ditulis Gijsber Heeck, seorang pejabat VOC, dalam memoarnya. Dari memoar Heeck ini pula sejarawan tahu betapa Schouten adalah pria berpengetahuan luas dengan kecerdasan luar biasa.
“Di luar bakatnya yang hebat, Schouten adalah penjahat munafik, penggoda banyak orang, dan diam-diam menggunakan keunggulan dan otoritasnya untuk memaksa orang ke luar dari jalan kesusilaan, menjerumuskannya ke dalam kekotoran memalukan, demi memuaskan nafsi bejat yang jahat,” tulis Heeck.
SIAPA SCHOUTEN
Lahir di Belanda tahun 1600, Schouten beremigrasi ke Hindia-Belanda tahun 1622. Ia segera dikirim ke Ayutthaya, ibu kota Kerajaan Siam, untuk terlibat dalam manufakttur dan perdagangan. Tak lama kemudian, tahun 1624, pelaut Willem Janssen mengangkatnya sebagai sekretaris untuk kunjungan eksplorasi dan pengintaian perdagangan ke Jepang tahun 1625.
Tahun 1633, Schouten kembali ke Siam dan — menurut situs executedtoday.com — berhasil menjilat Raja Prasat Thong untuk memenangkan konsesi perdagangan yang menguntungkan pribadi dan menempatkannya di kursi eksekutif VOC.
Schouten melakukan survei geografi, masyarakat, politik Siam, dan diterbitkan tahun 1638. Laporan itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi rujukan untuk orang-orang Eropa yang akan memasuki Siam. Meski banyak laporan lain menyusul, laporan Schouten masih sangat penting untuk dibaca siapa pun.
Tahun 1640 Schouten kembali ke Batavia dengan semua popularitas yang dimiliki. Dua tahun kemudian ia melengkapi ekspedisi pelaut Abel Tasman ke Pasifik Barat Daya, mengelilingi Australia, dan menemukan Selandia Baru.
Abel Tasman menabalkan namanya di salah satu pulau yang ditemui, yang kini dikenal sebagai Pulau Tasmania. Ia juga memberi nama pulau kecil di lepas pantai Pulau Tasmania dengan nama Pulau Schouten.
SCHOUTEN DIJEBAK
Penyimpangan seksual Schouten semakin menjadi-jadi sekembalinya dari pelayaran bersama Abel Tasman. Seperti ditulis Heeck, Schouten merayu lelaki ganteng yang diinginkan untuk memenuhi hasrat sekstualnya.
Ia berhasil merayu beberapa, tapi tak sadar saat dijebak seorang pria Prancis pada Juni 1644. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara, dan diinterogasi. Schouten mengakui kejahatannya.
Sejarawan Peter Boomgaard mengatakan ada ketakutan akan murka Tuhan jika yang memerintah di Batavia saat itu tidak mengambil tindakan drastis, yaitu menghukum pelaku sodomi dengan hukuman cekik dan dibakar.
Masyarakat Belanda saat itu, di satu sisi, sangat relijius dan tidak mentolerir penyimpangan seksual dan pelacuran.
Namun, menurut Boomgaard, VOC justru menggoda murka Tuhan. Mereka yang bertugas di militer menghabiskan bertahun-tahun di lingkungan yang didominasi laki-laki. Kebanyakan di atas kapal, di pos-pos perdagangan yang terlarang bagi perempuan Eropa.
Tidak aneh jika Schouten dengan sukarela mengakui perbuatannya. Dalam catatan pelayaran yang dibuat, dan dibaca banyak pejabat VOC, Schouten menulis; “Para pedeta mereka, juga banyak kaum bangsawan, sangat menyukai sodomi, nafsu yang tidak wajar, tidak dianggap dosa, atau hal yang memalukan di antara mereka.”
Schouten juga mengatakan selalu menjadi mitra pasif saat bersenggama dengan sesama jenis. Sejak melaut kembali ke negara induk tahun 1637, Schouten mengaku telah melakukan hubungan sesama jenis dengan 19 pria berbeda. Tiga di antaranya adalah pelaut, tentara, dan seorang burgher — atau orang bebas dalam strata sosial Batavia. Ketiganya hidup dalam kesedihan.***
Oleh Teguh Setiawan penulis buku toponimi Jakarta
BACA INI JUGA
Roti Hijau dan Penangkapan Kaum Gay di Hindia Belanda 1938
Ketika Pejabat Tinggi VOC Dihukum cekik 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 Akibat Sodomi














Responses (2)