Si Pitung! Verdomt Het

Si Pitung! Verdomt Het
AWV (Scout) Hinne, sebelah kanan, bersama istri dan putri tunggalnya. Di film Si Pitoeng, Scout Hinne berambut pirang. Foto: Margreet van Till and David McKay, Banditary in West Java 1869-1942.

Jakarta, tandabaca.id
Entah gimana penulis skenario film Si Pitung nggak ngerti kata makian dalam Bahasa Belanda yang harus diucapkan Adolf WV Hinne, Kapolsek (Scout) Tanah Abang yang diperankan H Hamid Arief.

Akibatnya, semua yang nonton film itu — sampai yang baca tulisan ini — keliru mengucapkan kata makian itu. Ada yang menyebut verdomme, verdome sech, godverdome, atau apa lagi lah, seingat yang didengar dan sebisa yang diucapkan.

Yang benar adalah Verdomt Het, arti harfiahnya; Sialan.

Bahwa penulis skenario film Si Pitung itu, terutama yang dibintangi Dicky Zulkarnain, nggak riset sejarah. Si Pitung lahir 1866, berkarier 1892 dan terbunuh 1893. Saat itu, ucapan Verdomt Het belum ada.

Verdomt Het muncul tahun 1900 lewat buku Het leven in Nederlandsch-Indië karya Bas Veth. Kata itu populer di Hindia-Belanda, juga di Belanda, karena buku Het leven in Nederlandsch-Indië menimbulkan kemarahan di kalangan penduduk kulit putih Belanda dan non Belanda. Sebab buku itu berisi makian terhadap penduduk kulit putih Belanda, yang rata-rata kerja tak keras keras amat tapi gaji gede, hidup bermewah-mewah, suka flexing, dan lainnya.

Menurut Veth, mereka itu De Indischman verdomt het, alias orang kulit putih Belanda sialan.

Sebagai informasi, Si Pitung diangkat ke layar lebar dua kali. Pertama tahun 1931, pemerannya Herman Shim — lelaki keturunan Tionghoa. Pasangannya, Inning Resmini — penyanyi keroncong yang tampil bagus dalam film Rampok Preanger.

Film diproduksi Halimoen Film, dan disutradarai Wong Brothers, atau Wong Bersaudara, terdiri dari Nelson, Joshua, dan Othniel Wong.

Saya nggak tahu siapa yang berperan sebagai Scout Hinne, orang Jerman yang jadi musuh nomor wahid Si Pitung. Saya juga nggak tahu apakah kata Verdomt Het digunakan dalam film Si Pitoeng karaya Wong Brothers.***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

BACA INI JUGA
Mengapa Belanda Pake Batik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *