Wisuda UIC 2026 : 486 Lulusan Diminta Siap Hadapi Era AI dan Transformasi Global

Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta menggelar Wisuda Program Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025/2026 di Puri Ardhya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Selasa, 6 Oktober 2026. (Foto Humas UIC)

JAKARTA, TANDABACA.ID – Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta menggelar Wisuda Program Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025/2026 di Puri Ardhya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Selasa, 6 Oktober 2026. Lulusan Diminta Siap Hadapi Era AI dan Transformasi Global.

Prosesi wisuda tersebut menjadi momentum penting bagi UIC untuk menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, karakter, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi perubahan teknologi dan dinamika global.

Pada wisuda kali ini UIC mencatat lulusan berasal dari lima unit akademik, yakni Fakultas Sains dan Kesehatan, Fakultas Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial, Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum dan Humaniora, serta Sekolah Pascasarjana. Rekapitulasi fakultas mencatat total 486 lulusan Tahun Akademik 2025/2026.

Acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh pendidikan, antara lain Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., Koordinator Kopertais Wilayah I Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., Ketua Umum Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun (YPPIC) Dr. H. Edy Haryanto, S.H., M.H., serta Rektor Universitas Ibnu Chaldun Dr. Hj. Rahmah Marsinah, S.H., M.M., M.H.

Rektor: Lulusan Harus Adaptif dan Tetap Berintegritas

Rektor UIC Dr. Hj. Rahmah Marsinah menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti pada pemberian pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus membentuk karakter serta pola pikir yang membuat lulusan mampu menghadapi perubahan. Menurutnya, perkembangan teknologi, transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan sosial, dan dinamika ekonomi menuntut lulusan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Dalam sambutannya, Rektor menitipkan sejumlah pesan kepada para lulusan, antara lain agar tidak berhenti belajar, menjaga integritas, menjadi insan yang memberikan manfaat, berani menghadapi perubahan, serta tetap menjaga nama baik almamater.

“Keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi yang dapat Saudara capai, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat Saudara berikan,” ujar Rektor UIC kepada para wisudawan.

Ia juga menegaskan bahwa gelar akademik bukan merupakan akhir dari proses pembelajaran. Para lulusan diharapkan terus mengembangkan kompetensi sekaligus membuktikan nilai gelar akademik melalui karya dan pengabdian kepada masyarakat.

YPPIC Dorong Lulusan Berkontribusi bagi Masyarakat

Ketua Umum YPPIC Dr. H. Edy Haryanto, S.H., M.H. menyampaikan bahwa kelulusan bukan akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari perjalanan baru ketika para lulusan memasuki dunia kerja dan masyarakat.

Menurutnya, perubahan teknologi, persaingan global, dan berbagai tantangan kehidupan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang kuat.

“Sebagai lulusan Universitas Ibnu Chaldun, jadikan ilmu yang Saudara peroleh sebagai bekal untuk berkarya, memberikan manfaat, dan membangun masyarakat serta bangsa,” pesannya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga nama baik almamater dan menjalin hubungan dengan UIC setelah menyelesaikan pendidikan.

Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan dalam sambutannya menekankan pentingnya kontribusi nyata lulusan perguruan tinggi di tengah perubahan dunia kerja. Dia mengingatkan bahwa otomatisasi dan efisiensi industri berlangsung di berbagai sektor sehingga kompetensi teknis saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan profesional.

Karena itu, lulusan didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga memiliki keberanian menciptakan peluang dan lapangan kerja. Penguasaan teknologi pun diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menjadi pengguna, tetapi diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

“Kompetensi tersebut harus tetap dilandasi nilai keimanan dan moral. Hal ini sejalan dengan identitas UIC yang mengusung semangat menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta kokoh dalam iman dan takwa (IMTAQ),” kata Henri.

Nilai IPK Penting Tapi Bukan Satu-satunya

Sementara itu, Koordinator Kopertais Wilayah I, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., hadir sebagai salah satu tokoh pendidikan yang memberikan penguatan terhadap pentingnya pendidikan tinggi dalam membentuk lulusan yang memiliki kompetensi sekaligus karakter.

Prof Asep menekankan pentingnya karakter kepribadian. Menurutnya nilai IPK penting, tapi itu bukan satu-satunya cara untuk meraih kebersilan. “Tapi yang jauh lebih penting adalah kecerdasan di dalam beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.

Kehadiran Kopertais Wilayah I dalam momentum wisuda tersebut juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dengan lembaga pembina pendidikan tinggi keagamaan Islam dalam mendorong kualitas lulusan yang mampu menjawab tantangan perubahan zaman.

Irjen Pol. Andry Wibowo: “Pintar Saja Tidak Lagi Cukup”

Rangkaian kegiatan juga diperkuat dengan orasi ilmiah oleh Irjen Pol. Dr. H. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si., Analis Kebijakan Utama Bidang Jianbang Lemdiklat Polri.

Dalam orasi ilmiahnya yang mengangkat tema “Membangun Generasi Unggul, Berintegritas, Prediktif, dan Berkarakter: Menyiapkan Pemimpin Masa Depan yang Tangguh di Era Transformasi Global”, Andry Wibowo mengajak mahasiswa dan generasi muda memandang pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ijazah atau gelar, tetapi sebagai proses membangun manusia yang mampu berpikir, bekerja, mengambil keputusan, sekaligus mempertanggungjawabkan pilihannya.

Ia menilai generasi masa depan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, otomatisasi, perubahan lanskap pekerjaan global, ancaman siber, hoaks, perundungan hingga menurunnya kepedulian sosial.

Karena itu, menurut Andry, generasi masa depan tidak cukup hanya memiliki nilai akademik tinggi dan kemampuan teknologi.

“Pintar saja tidak lagi cukup; kita butuh generasi yang utuh,” tegasnya dalam naskah orasi ilmiah tersebut.

Salah satu perhatian utama dalam orasi ilmiah tersebut adalah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Andry menjelaskan bahwa AI berpotensi mengubah cara manusia belajar, bekerja, menganalisis informasi, mengambil keputusan, menciptakan sesuatu, hingga merancang masa depan. Transformasi tersebut mencakup perkembangan machine learning, deep learning, dan generative AI.

Namun, ia menekankan bahwa perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab manusia.

“AI dapat membantu manusia, tetapi manusia tetap harus menentukan tujuan, nilai, batas, dan pertanggungjawaban penggunaannya,” ujarnya dalam materi orasi.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut terhadap AI, tetapi juga tidak boleh menyerahkan seluruh kemampuan berpikir kepada teknologi. AI seharusnya digunakan untuk memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikan tanggung jawab berpikir.

Empat Pondasi Penting

Dalam orasinya, Andry Wibowo juga menekankan empat fondasi penting bagi generasi masa depan, yakni unggul, berintegritas, prediktif, dan berkarakter.

Generasi unggul ditandai dengan kompetensi tinggi, daya saing global, kemampuan belajar sepanjang hayat, serta penguasaan literasi sains, teknologi, finansial dan data.

Sementara itu, integritas diposisikan sebagai kompas moral di tengah perkembangan teknologi. Integritas tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, keberanian menyampaikan kebenaran dan konsistensi antara pikiran, perkataan serta tindakan.

Kemampuan prediktif diperlukan agar generasi muda mampu membaca tren, menganalisis risiko, mengantisipasi perubahan dan bergerak dari pola reaktif menjadi proaktif. Adapun karakter menjadi fondasi agar kompetensi dan kemajuan teknologi tetap diarahkan untuk kepentingan kemanusiaan.

Perwakilan Wisudawan: Gelar sebagai Awal Pengabdian

Semangat yang sama disampaikan perwakilan wisudawan Nadira Rahmadini, S.A.P., lulusan Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial, Ekonomi dan Bisnis, dengan IPK 3,93. Data tersebut tercantum dalam buku Wisuda UIC Tahun Akademik 2025/2026.

Nadira menuturkan wisuda bukanlah titik akhir pendidikan, melainkan awal bagi lulusan untuk mengimplementasikan pengetahuan, membangun profesionalisme, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui momentum wisuda dan orasi ilmiah tersebut, UIC menegaskan kembali arah pengembangan pendidikan tinggi yang memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai keislaman, integritas, karakter, serta tanggung jawab sosial.

Semangat tersebut sejalan dengan visi UIC untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, kreatif, inovatif dan kompetitif dalam pengembangan pemikiran Ibnu Chaldun serta kokoh dalam IPTEK dan IMTAQ. ***

BACA INI JUGA :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *