Mahasiswa Bakar Flare, Kembang Api dan Spanduk Sebelum Bubar Jalan

Mahasiswa Bakar Flare
Mahasiswa bakar flare, kembang api dan spanduk sebagai tanda ditutupnya aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate Jalan Diponegoro No.25, Kota Bandung, Jumat 22 Maret 2024.

Bandung, tandabaca.id
Mahasiswa bakar flare, kembang api dan spanduk sebagai tanda ditutupnya aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate Jalan Diponegoro No.25, Kota Bandung, Jumat 22 Maret 2024.

Sebelum melakukan aksi bakar flare, kembang api dan spanduk, demonstran yang berasal dari kalangan mahasiswa terlebih dahulu buka puasa.

Setelah itu, mahasiswa secara bertahap membubarkan diri, aksi bubar jalannya demonstran itu berlangsung mulai pukul 18.30 WIB. Unjuk rasa ini berlangsung sejak pukul 16.00 WIB.

Mahasiswa asal berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung. Demo ke Gedung Sate untuk menuntut pemerintah segera menurunkan harga kebutuhan pokok.

Demonstran juga mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai untuk memberikan pengaruh politik di tengah masyarakat yang menjerit akibat ketidak pastian harga kebutuhan pokok.

Ketua BEM KEMA Unpad 2024, Fawwaz Ihza Mahendra, mengatakan pada aksi unjuk rasa ini pihaknya memiliki 12 tuntutan. Namun secara garis besar, adalah mengenai stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat

Kemudian poin lainnya adalah permasalahan perburukan demokrasi di Indonesia, juga mengenai hiruk-pikuk politik yang ada di istana.

“Kami memandang bahwa istana ini menjadi pembohong karena mereka selalu menyatakan demi rakyat, mereka menyatakan bahwa mereka merupakan perwakilan rakyat, tapi mereka tidak pernah melakukan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat,” kata Fawwaz di sela aksinya.

Hal inilah, katanya, yang membuat stabilitas harga kebutuhan pokok pada saat ini tak kunjung kembali ke harga normal.

Ia melihat bahwa tidak hanya mahasiswa yang merasakan dampak naiknya harga bahan pokok, tapi warga sekitar kampus.

“Kita merasakan kenaikan harga bahan pokok ini mempersulit mereka untuk melanjutkan hidup. Yang tadinya teman-teman dan warga yang bisa berjualan, tapi karena tiba-tiba ada kenaikan harga bahan pokok, mereka kesulitan,” katanya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *