Berita  

Bandung Kota Angklung, Sudah Sejauh Mana Gebyarnya, Bambunya Ekspor

Bandung Kota Angklung

Bandung, tandabaca.id
Bandung Kota Angklung Sudah Dicanangkan sejak 2 tahun lalu tetapi gebyarnya, biasa saja. Sebetulnya apa yang ingin didapat, saat tagline anyar itu dihembuskan.

Hal itulah yang mengemuka dalam focus group discussion yang digagar oleh Forum NgaDandanan Bandung di Jalan Bagusrangin Bandung, Selasa 2 April 2024.

Ratnarahayu Putriyati, Kepala Bidang Produk Budaya dan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisat Kota Bandung mengatakan kalau boleh diibaratkn Indonesia seperti terjajah dalam budaya.

Anak remaja justru senangnya musik K-pop, padahal Kota Bandung saja memiliki 1008 sanggar seni. Budaya manuskrip sudah susah ditemukan sejarahnya.

“Kita mengalami gempuran budaya luar, nuansa sunda tidak terasa di setiap lokasi yang ada di Bandung atau Jabar. Beda halnya dengan Bali yang nuansa gamelan Bali-nya kuat.”

“Hotel-hotel, tempat wisata jarang sekali bernuansa atau memutar musik sunda. Padahal Bandung Kota Angklung sudah dicanngkan sejak 21 Mei 2022. Seni budaya akan mulai disemarakan kembali. Sebab, budaya adalah unsur fundamental manusia,” katanya.

Disbudpar, kata Ratnarahayurutin, rutin melakukan anugerah budaya dan anugerah cagar budaya. Semua itu tidak lain dikarenakan, semua itu harus didaftarkan menjadi kekayaan Kota Bandung.

Disbudpar, jelas Ratnarahayu lagi, juga mengajak sanggar lingkung seni untuk memiliki media sosial, gunakan medsos tersebut untuk menarik wisatawan ke Kota Bandung.

“Para seniman harus mau berkolaborasi untuk terus bersinar dan berkiprah di Kota Bandung,” terangnya.

Angklung Udjo

Taufik Hidayat Udjo, perhimpunan usaha taman rekreasi mengatakan sejak 1977 Angklung Udjo fokus kembangkan usaha pariwisata, memberikan dukungan terhadap industri kreatif, berkolaborasi dengan komunitas lokal.

“Pemerintah tidak sungguh-sungguh peduli budaya, nyatanya lebih peduli proyek,” katanya.

Sebab, budaya kata Taufik berkaitan erat dengan lingkungan, mengembangkan agro wisata dan konservasi serta pemberdayaan.

“Jadi harus menjaga alam. Salah satunya kesenian angklung yang kini sudah mendunia,” katanya.

“Harus dikenalkan sejak dini. Pesan Almarhum Ujo Ngalagena, jangan bergantung pada Pemerintah,” pungkasnya.

M. Rizaldi, pegiat media bandung terkini mengatakan media memainkan peran kunci dalam menyuarakan dan promosi isu budaya.

“Kita tidak bisa bergerak sendiri, harus ada media sebagai jembatan publikasinya,” katanya.

Aldi, panggilan untuk Rizaldi juga mengatakan, banyak tantangan dalam hal promosi budaya, semua itu akibat serangan konten-konten tidak mendidik dan tidak menjual, yang jauh dari isu budaya.

“Justru malah menjual isu budaya asing. Konten kreator sekarang cenderung mengangkat budaya luar,” katanya.

Hanif, pemerhati mengatakan budaya harus dilihat bukan hanya sebatas kesenian dan ekspresi, melainkan harus lebih bijak dalam menilai.

“Kita tidak punya skema bahwa pembangunan ini dicapai atas dasar budaya. Harus melihat unsur kebudayaan di dalamnya.”

“Saat ini kita mengalami krisis ekologi, distrupsi teknologi, ancaman global.

Bambunya Ekspor

Dandan Reza Wardana, pegiat sekaligus penggagar FGD mengatakan festival memang harus sering dilakukan agar seni budaya kembali bergairah dan hidup. Tidak terkecuali angklung.

“Masyarakat harus terus diasah ingatannya, terkait kebudayaan,” katanya.

“Sanggar-sanggar seni pun harus kreatif dalam mencari peluang untuk bisa tampil,” tambahnya.

Dandan juga bertanya kepada Taufik Hidayat Udjo, Bambu Hitam untuk angklung didapat dari mana, apa semua hasil budidaya sendiri.

Ternyata Bambu Hitam, materil angklung harus diekpor dari luar bandung. Hasil budidaya kurang dari 10 persen, jadi harus diekspor.***

BACA INI JUGA
Kader Partai Demokrat Move On, Siap Menangkan Pilkada Jawa Barat dan Kota Bandung

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *