Berita  

Totok Suryanto : AI Harus Diposisikan sebagai Alat Bantu, Bukan Menggantikan Peran Jurnalis

Bandung, tandabaca.id – Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto mengatakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperbesar potensi dan kreativitas, bukan untuk menggantikan peran jurnalis.

Penjelasan tersebut disampaikan mantan wartawan Surabaya Pos ini dalam talk show bertajuk Masa Depan Pers : Tumbuh Adaptif dengan Teknologi, Terjaga Kualitas dengan Fakta. Acara berlangsung di Block71 Bandung, Innovation Factory, Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung, Kamis 24 September 2026.

Wakil Pemimpin Redaksi TV One menjelaskan AI sesungguhnya bukan barang baru di dunia jurnalistik, sudah ada sejak dahulu. Hanya sebutannya saja yang berbeda bank data.

Sesungguhnya AI hanya alat bantu agar jurnalis bisa meningkatkan produktivitas serta efisiensi, bukan pengendali utama karya jurnalistik.

“Manusia harus tetap memegang kendali penuh, untuk menentukan konteks, kebenaran informasi, dan keputusan akhir,” ktanya.

Dalam industri media seperti yang terjadi saat ini, insan pers didorong untuk mempelajari dan menguasai AI agar tidak merugi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya, mengatakan perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan bagi media, termasuk dalam proses mendapatkan dan mengolah informasi.

Namun, kemudahan tersebut juga perlu diikuti dengan kehati-hatian. Salah satunya ketika wartawan memanfaatkan AI untuk membantu proses produksi berita.

Menurut Fifi, informasi yang dihasilkan teknologi belum tentu sepenuhnya benar meskipun secara struktur terlihat meyakinkan.

Ia mencontohkan pernah menemukan informasi mengenai seorang tokoh nasional yang berubah setelah diproses menggunakan teknologi. Tokoh yang diketahui memiliki satu anak justru disebut mempunyai tiga anak.

“Jadi hal-hal tersebut yang harus kita benar-benar waspadai. Kita cek,” ujar Fifi.

Ia menilai AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu dalam kerja jurnalistik. Proses pengecekan dan verifikasi tetap diperlukan sebelum informasi dipublikasikan kepada masyarakat.

Ritme Ruang Redaksi

Perubahan teknologi juga membuat ritme ruang redaksi semakin cepat. Jika sebelumnya perubahan sebuah isu dapat dipantau dalam hitungan jam, kini perkembangan informasi bisa berubah dari menit ke menit.

“Sekarang itu perubahan bisa menit per menit,” kata Fifi.

Kondisi tersebut membuat media harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan kualitas pemberitaan.

Sebab, menurut Fifi, kepercayaan publik menjadi salah satu modal penting bagi media untuk terus bertahan.

“Trust atau kepercayaan itu tidak lahir secara instan. Reputasi itu dibangun bertahun-tahun, bisa runtuh dalam waktu satu hari,” tegasnya.

Dosen Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) Achmad Abdul Basith menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik dan verifikasi fakta di tengah perkembangan teknologi dan AI.

“AI dapat membantu produksi penunjang seperti ilustrasi atau foto, tetapi kerja verifikasi fakta yang disiplin tetap membutuhkan peran manusia,” katanya.***0***

BACA INI JUGA :
Siswa MTs Al Hudy Denpasar Raih Medali Perak di Olimpiade Matematika Nasional 2026
Jenal Aripin Tepis Tuduhan Dalang Demo, dan Jelaskan Polemik Perizinan Tambang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *