Khas  

Banjir Sumatera Tak Juga Nasional, Korupsinikus: Siapa Mau Tanggung Jawab?

Banjir Sumatera Tak Juga Nasional, Korupsinikus: Siapa Mau Tanggung Jawab? Dalam catatan melipir, Ia bukan manusia biasa. Ia legenda kutukan—sedikit mirip Malin Kundang.

Esai Satire – Harri Safiari

PADA 26 November 2025, banjir dan longsor melanda Sumatera. Lebih dari seribu nyawa melayang, ratusan hilang, ribuan rumah dan infrastruktur hancur. Peristiwa ini cukup mengguncang Korupsinikus—tokoh legendaris yang kembali bersinar di Negara Konoha Raya (NKR).

“Duka mendalam,” ujarnya dengan suara empuk dan terlatih, di sela forum nasional bertajuk megah: Sekali Berkorupsi, Pantang Surut Dilepaskan. Simpati sudah. Status bencana nasional? “Kok belum, ya?”

Siapa Korupsinikus?

Dalam catatan melipir, Ia bukan manusia biasa. Ia legenda kutukan—sedikit mirip Malin Kundang. Dulu bocah yang memergoki ritual bagi-bagi uang haram. Ia disumpah: bila membocorkan rahasia atau ikut korupsi, ia akan menjadi batu. Kutukan itu aktif saat amplop ke-2005 ia buka—tepat ketika resmi menjadi pegawai negara. Seketika, ia membatu!

Patungnya sempat disalahpahami sebagai temuan Phitecantropus Erectus dan dipajang ratusan tahun di sudut Museum Geologi. Hingga suatu hari, petir menyambar, Wi-Fi G-7 aktif, dan Korupsinikus hidup kembali.Mujurnya, ia tak menjadi zombie ya?
Ia bersahabat dengan Rubi, bocah jujur yang penuh tanya. Sejak itu, Korupsinikus menjelma ikon nasional: guru besar korupsi yang efisien, bijak, licin, kebal hukum, serta laris manis sebagai narasumber media.

Soal Banjir Sumatera

“Menetapkan bencana nasional itu sensitif,” katanya, sedikit malu-malu.
“Nanti terbuka relasi mesra negara dan pengusaha. Jutaan hektar hutan yang berubah jadi kebun sawit bisa ikut terseret. Deforestasi jadi terang-benderang. Siapa mau tanggung jawab?”

Ia tersenyum tipis.

“Tenang saja. Di NKR, kasus besar sering nyungsep entah ke mana. Rakyat juga cepat lupa.”
Netizen mendesak. Korupsinikus menenangkan:
“Akan ada jalan tengah. Gengsi pemerintah pasti luluh.”

Jalan tengah seperti apa?

“Belum tahu. Yang penting muncul dulu tandanya.”
Ia menutup dengan nada saleh:
“Kalau darurat nasional ditetapkan, bantuan maksimal, internasional datang, korban segera pulih. Gengsi seharusnya bukan soal. Menunggu wangsit kali ya?”

Harapan Rubi

Pagi berikutnya, Rubi—aktivis antikorupsi yang hidup pas-pasan karena konsisten menolak amplop—bersuara lebih keras:

“Korban besar. Wilayah luas. Dampak sosial-ekonomi nyata. Yang kecil justru gengsi. Ini bagaimana, nasib jutaan rakyat dipertaruhkan loh?!”

Ia menatap kamera, datar:

“Kalau bencana sebesar ini masih ditimbang, mungkin yang nasional bukan bencananya—tapi korupsinya.”

Ia menarik napas, lalu menutup lirih:

“Bahkan bisa jadi, di tengah bencana, korupsinya justru disiapkan lebih rapi, lebih masif, dan lebih terstruktur. Amit-amit…”
(Selesai)

Bandung, tandabaca.id

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *