Konon, Sang Buron TCH Penyekap Wanita di Bandung, Kata Korupsinikus: Oplas Paket Hemat!
Fiksi Satire: Harri Safiari
Konon…
Di Negeri Tanpa Cermin, kabar selalu berlari lebih cepat daripada logika. Ada yang berbisik bahwa seorang buronan yang sedang diburu aparat sejak akhir Juni 2026, mulai kehabisan akal. Foto wajahnya sudah beredar di mana-mana. Hadiah bagi pemberi informasi pun sudah diumumkan.
Maka lahirlah ide paling revolusioner dalam sejarah kepanikan.
Operasi plastik (oplas) paket hemat.
Bukan di rumah sakit.
Bukan di klinik.
Apalagi di luar negeri.
Melainkan di sebuah “Pusat Transformasi Wajah Ekonomis”, dengan slogan yang sangat meyakinkan:
“Kalau wajah tak bisa mengubah nasib, setidaknya bisa mengubah cara pandang tetangga dekat dan tetangga jauh (apalagi?!).”
Biayanya murah. Sangat murah.
Konon, bahan bakunya berasal dari ember plastik bekas yang sudah pensiun menjadi tempat adukan semen.
Ditangani Siapa?
Dokternya—entah dokter apa—bertanya,
“Target wajahnya seperti siapa?”
Sang buronan menjawab mantap,
“Pokoknya jangan seperti foto DPO.”
Operasi pun dimulai.
Tiga jam.
Empat lem kulit dan tulang lunak.
Lima lapis dempul, seadanya.
Dan beberapa liter keberanian.
Akhirnya operasi dinyatakan selesai.
“Selamat,” kata sang dokter.
“Berhasil?”
“Berhasil.”
“Wajah saya berubah?”
“Berubah total.”
“Tak mungkin dikenali?”
“Betul.”
Beneran, Ember?
Sang buronan melonjak kegirangan.
Namun dokter menambahkan pelan,
“Soalnya sekarang wajah Anda lebih mirip ember bekas daripada manusia.”
Esok harinya, aparat memang sempat kebingungan.
Bukan karena wajahnya terlalu tampan.
Melainkan karena teknologi pengenal wajah ikut bingung memilih kategori, error semua!
“Manusia?”
“Bukan.”
“Ember?”
“Juga bukan.”
“Patung?”
“Hampir.”
Barang Daur Ulang?
Sementara itu, para pemulung malah geger, malah mulai saling bertanya,
“Itu barang daur ulang siapa yang bisa jalan sendiri?”
Begitulah…
Di Negeri Tanpa Cermin, selalu ada orang yang percaya bahwa mengganti wajah lebih mudah daripada mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Padahal hukum mungkin sesekali terlambat.
Tetapi jejak, kesaksian, barang bukti, dan ingatan korban sering kali jauh lebih sulit dihapus daripada bekas operasi plastik paling mahal sekalipun.
Sebab pada akhirnya, yang paling membutuhkan operasi bukanlah wajah.
Melainkan hati nurani.
Kabar baiknya, sang buron akhirnyapada suatu masa bisa dibekuk tanpa perlawanan.
Hadiah pun sudah diberikan kepada yang berhak.
Ingatlah, tiada kejahatan yang sempurna!
Apalagi cuma pakai oplas paket hemat.
(Selesai)
NB : Fiksi Satire ini ditulis di Bandung, Selasa 23 Juni 2026, hampir secara bersamaan buronan TH tertangkap polisi di Majalaya, Kabupaten Bandung.













