K-Pop Tumbang oleh Musik Indonesia, Korupsinikus : Kalau musik Indonesia mulai mendunia, jangan cuma artisnya yang panen cuan. Industri rekamannya harus sehat, pencipta lagunya sejahtera, kru panggungnya hidup layak
Esai Kontemplatif: Harri Safiari
Benarkah dominasi K-Pop mulai mendapat penantang baru dari Asia Tenggara? Atau jangan-jangan, yang sedang kita saksikan bukanlah “kejatuhan” siapa pun, melainkan kebangkitan musik Indonesia yang akhirnya menemukan panggung dunia?
“Ah, bener atuh! Dangdut sudah lama keliling dunia. Campursari punya penggemarnya sendiri. Musik Indonesia Timur selalu memesona. Sekarang tinggal bagaimana kita mengelolanya,” celetuk Rubi sambil tak henti mengikuti goyangan enerjik girl group Indonesia, No Na.
Fenomena itu bukan muncul dari ruang hampa. Media sosial telah menghapus batas negara. Sebuah lagu yang lahir di Jakarta, Ambon, Garut, atau Makassar kini bisa didengar jutaan telinga hanya dalam hitungan jam. Algoritma tak lagi bertanya asal negara, melainkan seberapa menarik sebuah karya.
Belum lagi kiprah tiga perempuan muda asal Garut yang tergabung dalam Voice of Baceprot (VoB). Mereka membuktikan bahwa musik keras pun dapat menjadi bahasa universal. Dari sebuah pelosok di Jawa Barat, mereka melangkah ke berbagai panggung dunia dan membawa nama Indonesia dengan kepala tegak.
“Itu VoB bikin bangga kita. Mereka menunjukkan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari kota besar,” gumam Korupsinikus, kali ini terdengar lebih bijak daripada biasanya.
Lalu muncul generasi baru seperti No Na, yang membawa warna pop Indonesia dengan sentuhan global. Mereka bukan sedang meniru Korea, Jepang, atau Barat. Mereka sedang mencari identitasnya sendiri. Dan justru di situlah letak kekuatannya.
BACA INI JUGA : Salam Komando Kapolri-Kejaksaan Agung, Korupsinikus: Positif bagi Mereka, “Nesetif” bagi Publik!
Korupsinikus kemudian tertawa kecil. “Kalau musik Indonesia mulai mendunia, jangan cuma artisnya yang panen cuan. Industri rekamannya harus sehat, pencipta lagunya sejahtera, kru panggungnya hidup layak, UMKM ikut bergerak, sampai sektor pariwisata ikut menikmati berkahnya.”
Korupsinikus lalu mengusap dagunya. Tatapannya menerawang, seolah sedang menghitung royalti yang bahkan belum sempat masuk rekening.
“Jangan keburu pesta dulu. Negeri ini punya bakat luar biasa: juara menciptakan, tetapi sering kalah mengelola.”
Rubi mengernyit.
“Maksudnya?”
“Lihat saja. Penyanyi kita mendunia, tapi platformnya milik orang lain. Lagu kita diputar miliaran kali, servernya di luar negeri. Kontennya viral, iklannya mengalir ke mana-mana, tapi yang kebagian remah-remah justru penciptanya.”
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Yang paling lihai di negeri ini sering kali bukan menciptakan karya, melainkan menciptakan aturan yang bikin karya harus antre.”
Mereka pun terdiam.
Sesungguhnya yang sedang diperebutkan dunia bukan lagi sekadar nada, melainkan ekonomi. Musik hari ini bukan cuma soal tepuk tangan. Ia telah berubah menjadi diplomasi, investasi, teknologi, pariwisata, fesyen, kuliner, hingga citra sebuah bangsa.
Korea Selatan memahami itu puluhan tahun lalu. Musik dijadikan industri nasional. Pemerintah, pendidikan, teknologi, hingga promosi luar negeri berjalan dalam satu irama.
Indonesia?
Korupsinikus terkekeh.
“Di sini kadang yang paling kompak justru birokrasinya. Kalau ada musisi mau manggung, izinnya berlapis-lapis. Kalau ada konser sukses, yang datang paling cepat bukan investor, tapi… penarik retribusi.”
Rubi nyaris menyemburkan kopinya.
“Lalu bagaimana supaya kita benar-benar menang?”
Korupsinikus menjawab lirih.
“Berhenti menganggap musik sekadar hiburan. Perlakukan ia sebagai tambang emas yang tak pernah habis digali.”
Ia melanjutkan,dengan kalimat penuh simbol:
“Jangan sampai gitar dipajang di museum, sementara cangkul korupsi masih dipakai menanam rente.”
BACA INI JUGA : Konon, Sang Buron TH Penyekap Wanita di Bandung, Kata Korupsinikus: Oplas Paket Hemat!
Kalimat itu membuat angin sore terasa lebih dingin.
Sebab sejarah membuktikan, bangsa besar bukan hanya mampu menciptakan lagu yang didengar dunia, tetapi juga mampu membuat dunia membayar dengan hormat atas karya anak bangsanya.
Korupsinikus menatap langit, lalu menutup percakapan dengan senyum yang sulit diterjemahkan.
“Kalau musik Indonesia benar-benar sedang naik kelas, jangan lagi ekspor penyanyinya saja. Ekspor juga sistemnya, intelektualitasnya, profesionalismenya, dan integritasnya.”
“Kalau tidak…”
>”…yang mendunia tetap lagunya. Yang kaya tetap perantaranya. Yang sibuk berdebat tetap kita. Dan yang paling merdu suaranya justru… suara mesin penghitung uang.”
Begitulah Korupsinikus.
Ia tak pernah anti tepuk tangan.
Ia hanya takut, setelah konser usai, yang tersisa bukan gema musik Indonesia, melainkan lagu lama yang tak pernah berubah: prestasi dipentaskan, keuntungan dipindahtangankan, jreng jreng jreng …semoga cuan euy.
(Selesai)













