Khas  

Korupsinikus dan Rubi Bahas Persampahan : Gemar Seremoni, Lemah Eksekusi

Korupsinikus dan Rubi Bahas Persampahan : Gemar Seremoni, Lemah Eksekusi. “Heran ya,” katanya lirih, “negeri yang mengaku modern, urusan sampah masih kalah tertib dibanding naluri kambing gunung yang lugu.”

Esai Kontemplatif : Harri Safiari

KORUPSINIKUS menyalakan rokoknya pelan. Bara kecil di ujung tembakau itu seperti kunang-kunang tersesat di teras sempit yang menghadap selokan penuh plastik kresek, popok sekali pakai, dan bungkus mi instan yang menghitam diguyur hujan.

Air mengalir tersendat.

Bau anyir bercampur busuk mengendap di udara seperti kutukan lama yang diwariskan turun-temurun dan tak pernah benar-benar ingin diputus.

Rubi duduk di depannya sambil menggeleng pelan.

“Heran ya,” katanya lirih, “negeri yang mengaku modern, gedung makin tinggi, mobil makin mewah, pusat belanja makin berkilau, tapi urusan sampah masih kalah tertib dibanding naluri kambing gunung yang lugu.”

Korupsinikus terkekeh pendek. Sinis.

“Modernitas di Negeri Konoha Raya—NKR—itu sering cuma kosmetik, Bi. Aspal mulus, baliho raksasa, slogan hijau di mana-mana. Tapi mental pengelolaan sampahnya masih feodal: buang, lupa, selesai.”

Malam itu, percakapan mereka meluncur jauh melampaui soal sampah berserakan di jalanan. Mereka bicara tentang sesuatu yang lebih dalam: kutukan sampah—persoalan laten yang terus hidup dari generasi ke generasi, dari rezim ke rezim, dari kampung kumuh hingga kota metropolitan yang gemar menyebut dirinya “smart city”.

Padahal sungainya tetap bau.

Lautnya tetap penuh plastik.

Dan tempat pembuangan akhirnya menjelma gunung-gunung busuk peradaban.

Kutukan yang Terus Berulang

Setiap musim hujan, drama lama diputar ulang.

Sungai meluap.
Selokan mampet.
Banjir datang seperti tamu rutin tahunan.

Media sibuk menayangkan warga berenang di jalan raya. Pemerintah menggelar rapat darurat. Pejabat turun memakai sepatu bot sambil menunjuk tumpukan sampah di sungai.

Lalu semua reda ketika matahari muncul.

Dan seperti biasa: tak ada yang benar-benar berubah.

Sampah tetap menggunung.
Laut tetap menelan plastik.
Sungai tetap menjadi kuburan botol, sandal jepit, popok bayi, dan limbah rumah tangga.

“Masalahnya,” ujar Korupsinikus sambil menunjuk tumpukan sampah di ujung gang, “di negeri ini sampah belum dianggap ancaman peradaban. Ia cuma dianggap gangguan pemandangan.”

Padahal, menurutnya, sampah adalah cermin mental kolektif.

Cara suatu bangsa memperlakukan sampah sering kali memperlihatkan cara bangsa itu memperlakukan masa depannya sendiri.

Budaya “Buang dan Lupakan”

Rubi menyebutnya sebagai amputasi tanggung jawab sosial.

“Begitu sampah keluar dari rumah, orang merasa itu bukan urusannya lagi.”

Karena itu banyak rumah tampak bersih mengilap, tetapi got di depannya hitam dan mampet.

Mobil dicuci sampai kinclong, namun kaca jendelanya dibuka hanya untuk melempar bungkus rokok ke jalan.

Kesadaran publik berhenti tepat di pagar rumah.

Sesudah itu: urusan orang lain.

Gemar Seremoni, Lemah Eksekusi

Korupsinikus tertawa pendek. Kali ini terdengar getir.

“Seminar lingkungan hidup lebih banyak daripada fasilitas pengolahan sampah yang benar-benar berfungsi.”

Program datang silih berganti:

gerakan bersih sungai,
hari peduli sampah nasional,
kampanye kurangi plastik,
lomba kebersihan antarwilayah.

Namun sebagian besar berhenti sebagai seremoni:
spanduk,
pidato,
foto bersama,
unggahan media sosial.

Sementara di lapangan:

tempat pengolahan minim,
sistem daur ulang compang-camping,
pemilahan sampah hanya formalitas,
dan truk pengangkut tetap mencampur semuanya menjadi satu.

Masyarakat pun mulai sinis.

“Buat apa capek memilah kalau ujungnya dicampur lagi?”

Dan sinisme, kata Rubi, adalah pupuk paling subur bagi kemalasan kolektif.

Korupsi Ekologis: Mencuri Masa Depan

“Ini yang jarang dibicarakan,” ujar Rubi serius.

Anggaran kebersihan terus membengkak.
Proyek pengolahan sampah bernilai miliaran rupiah.

Namun hasilnya sering tragis:

mesin mangkrak,
fasilitas rusak,
alat tak terawat,
proyek berhenti di tengah jalan seperti monumen kegagalan birokrasi.

Korupsinikus menyebutnya sebagai korupsi ekologis.

“Ini bukan sekadar mencuri uang negara. Ini mencuri masa depan lingkungan dan kesehatan generasi berikutnya.”

Sebab sampah yang gagal ditangani hari ini akan kembali dalam bentuk lain:
banjir,
penyakit,
air tercemar,
dan laut yang perlahan berubah menjadi sup plastik raksasa.

Tertib di Luar Negeri, Kacau di Negeri Sendiri

Rubi lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip kelelahan.

“Aneh ya. Orang NKR kalau di Jepang atau Singapura bisa mendadak disiplin.”

Mereka rela antre.
Tak meludah sembarangan.
Mau memilah sampah.
Tak berani membuang puntung rokok sembarangan.

Artinya apa?

Masalahnya bukan ketidakmampuan.

Masalahnya ada pada budaya permisif, lemahnya penegakan aturan, dan rendahnya rasa memiliki ruang publik.

Korupsinikus lalu menyimpulkan pendek:

“Kalau orang tertib hanya karena takut denda, berarti kesadarannya belum tumbuh. Tapi kalau bahkan denda pun tidak ditakuti, itu tanda ada sesuatu yang lebih rusak daripada sekadar sistem.”

Masihkah Ada Harapan?

Hening sesaat.

Suara kodok bersahut-sahutan dari balik semak basah.

Rubi menatap aliran got yang tersendat plastik sebelum akhirnya menjawab pelan:

“Ada harapan. Tapi jangan berharap solusi instan dari bangsa yang terlalu lama berdamai dengan kebiasaan buruknya sendiri.”

Pertama: Revolusi Mental Sampah

Kesadaran harus dimulai sejak kecil:

memilah sampah,
menghormati ruang publik,
memahami bahwa membuang sampah sembarangan bukan sekadar jorok, tetapi tindakan anti-peradaban.

Dan itu tak cukup diajarkan lewat slogan sekolah.

Ia harus menjadi kebiasaan harian.

Karena kebiasaan kecil jauh lebih kuat daripada pidato besar.

Kedua: Hukum Harus Hadir, Bukan Pajangan

Aturan tanpa penegakan hanyalah dekorasi birokrasi.

Denda harus nyata.
Pengawasan harus konsisten.
Tak peduli kaya, miskin, pejabat, atau rakyat biasa.

Banyak negara bersih bukan karena rakyatnya malaikat, melainkan karena sistemnya tak memberi ruang bagi kebiasaan sembrono.

Ketiga: Bangun Sistem yang Waras

Masyarakat tak bisa diminta disiplin bila:

tempat sampah minim,
pengangkutan buruk,
fasilitas daur ulang nyaris tak ada.

Kesadaran tanpa dukungan sistem hanya melahirkan frustrasi.

Dan frustrasi yang terlalu lama dipelihara biasanya berubah menjadi apatisme.

Keempat: Kurangi Sampah dari Hulunya

Korupsinikus menepuk meja pelan.

“Kalau industri terus membanjiri pasar dengan plastik sekali pakai seperti hujan meteor, hilirnya pasti kolaps.”

Artinya produsen juga wajib ikut bertanggung jawab:

menciptakan kemasan ramah lingkungan,
membangun sistem pengembalian,
mengurangi plastik sekali pakai,
serta mendukung industri daur ulang yang nyata, bukan sekadar jargon hijau.
Sampah dan Nasib Peradaban

Malam makin larut.

Angin membawa bau sampah dari ujung gang. Bau yang begitu akrab sampai nyaris dianggap bagian normal kehidupan.

Korupsinikus mematikan rokoknya. Bara merah itu lenyap perlahan.

“Peradaban besar,” katanya pelan, “tidak selalu runtuh karena perang atau krisis ekonomi. Kadang ia runtuh karena masyarakatnya kehilangan disiplin terhadap hal-hal kecil.”

Rubi mengangguk.

“Dan sampah,” ujarnya lirih, “sering menjadi tanda pertama bahwa sebuah bangsa mulai berdamai dengan kekumuhan.”

Hening.

Air got masih mengalir tersendat.

Plastik-plastik kecil bergerak pelan menuju sungai.
Menuju laut.
Menuju masa depan yang entah sedang dibangun—atau sedang dihancurkan diam-diam oleh tangan manusia sendiri.

(Selesai)

BACA INI JUGA :
Persija Jamu Persib di Samarinda, Persiapan dan Tantangan
Masuk Grup Neraka, Coach Herdman : Timnas Indonesia di Jalur Tepat

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *