Khas  

Di Hari Tatar Sunda, Saat Tanggal Diperebutkan, Sampah dan Stunting Berkeliaran

KORUPSINIKUS ASA AYA LIEURAN

FOTO Ilustrasi Chatgpt.com

Korupsinikus “Asa Aya Lieuran” di Hari Tatar Sunda, Saat Tanggal Diperebutkan, Tapi Sampah dan Stunting Berkeliaran

Esai Satir Kontemplatif — Harri Safiari

DI NEGERI KONOHA RAYA (NKR) bagian Tatar Pasundan, bulan Mei 2026 tiba dengan suasana agak unik. Sebagian orang sibuk memperdebatkan tanggal 18 Mei 669 M sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Sebagian lagi sibuk menyiapkan seremoni, kirab budaya, panggung kehormatan, bahkan mungkin spanduk ukuran raksasa yang biaya cetaknya cukup untuk memperbaiki sababaraha jalan berlubang di kampung-kampung.

Sementara itu, di sudut lain Jawa Barat, rakyat masih berlatih menjadi atlet lompat jauh setiap melewati jalan rusak.

Di tempat lain, ibu-ibu masih antre layanan kesehatan untuk anak stunting.

Di daerah tertentu, sampah masih menumpuk lebih setia daripada janji pembangunan.

Dan di sejumlah sekolah, murid-murid tetap belajar tentang masa depan dengan atap yang kadang lebih bocor daripada kebijakan publik.

Korupsinikus ‘sang pembebas yang terperangkap di semesta’ menatap semua itu sambil menggaruk kepala, padahal kepalanya tidak terasa ateul.

“Kunaon urang jadi ribut ku tanggal lahir peradaban, tapi poho kana kondisi jalma nu keur hirup ayeuna?”

Ia tidak anti budaya.

Ia juga tidak anti sejarah.

Korupsinikus justru percaya Sunda memiliki warisan besar dan agung: tata krama, rasa hormat, gotong royong, filosofi cageur, bageur, bener, singer, pinter.

Tapi ia mulai “asa aya lieuran” ketika budaya lebih sibuk dipentaskan daripada dipraktikkan.Sebab di negeri ini, seremoni sering jauh lebih sehat daripada pelayanan publik.

BACA INI JUGA : Korupsinikus dan Rubi Bahas Persampahan : Gemar Seremoni, Lemah Eksekusi

Penetapan 18 Mei sebagai Hari Tatar Sunda memang memiliki landasan historis tertentu. Ada tafsir sejarah mengenai momentum berdirinya Kerajaan Sunda pada era Tarusbawa tahun 669 M. Itu sah untuk dikaji, diperingati, bahkan dihormati.

Tetapi masalah muncul ketika tafsir sejarah berubah menjadi semacam kewajiban emosional yang tak boleh dipertanyakan.

Padahal sejarah Nusantara kuno bukan matematika pasti.

Ia penuh tafsir, keterbatasan sumber, dan ruang diskusi ilmiah.

Korupsinikus justru khawatir bila budaya diperlakukan seperti proyek pencitraan.

Karena pengalaman di Negeri Konoha Raya menunjukkan: semakin megah seremoni, kadang semakin kecil keberanian menyentuh masalah nyata.

Sampah menumpuk?

Buat festival.

Stunting tinggi?

Buat seminar.

Jalan rusak?

Buat spanduk motivasi.

Rakyat protes?

Buat perayaan kebudayaan.

Lalu semua orang berfoto sambil tersenyum, seolah-olah kamera bisa mengganti fungsi kebijakan.

Belum lama ini bahkan dalam sidang paripurna DPRD Jawa Barat, sejumlah persoalan mendasar seperti sampah, infrastruktur jalan dan jembatan, pendidikan, hingga persoalan sosial masih menjadi sorotan.

Artinya, problem rakyat bukan isu khayalan, termasuk penetapan 18 Mei itu yang ngeri-ngeri ..kurang sedap, katanya.

Masalahnya nyata.

Baunya juga nyata — terutama soal sampah.

Korupsinikus membayangkan suatu hari nanti akan lahir tradisi baru di Negeri Konoha Raya:

“Kirab Gunungan Sampah dan Festival Jalan Berlubang Internasional.”

Anak-anak sekolah diwajibkan memakai pakaian adat sambil melewati jembatan retak demi merasakan nilai historis pembangunan.

BACA INI JUGA : Besar Tiang Daripada Utang, Korupsinikus : Menjelang Bangkrut?

Sementara pejabat memberikan pidato:

“Budaya kita hebat!”

Dan rakyat menjawab pelan:

“Muhun… tapi tong sampahna acan diangkut, Kang…”

Korupsinikus akhirnya memilih berdiri di posisi tengah.

Hari Tatar Sunda boleh diperingati.

Budaya Sunda memang layak dihormati.

Tetapi penghormatan terbesar terhadap Sunda bukan hanya lewat kirab dan slogan.

Melainkan lewat:

jalan yang layak,

sekolah yang baik,

pelayanan kesehatan yang manusiawi,

pengelolaan sampah yang waras,

dan pemerintahan yang henteu ngabobodo rahayat.

Sebab karuhun Sunda dahulu membangun peradaban bukan untuk dipuja dalam seremoni semata, melainkan untuk diwariskan nilainya.

Dan nilai Sunda paling luhur sesungguhnya sederhana:

“Ulah matak nyusahkeun jalma séjén.”

Sayangnya, di Negeri Konoha Raya, rakyat sering terlalu lama disuruh bangga terhadap simbol… sambil dibiarkan hidup di tengah masalah yang tak kunjung beres.

Maka Korupsinikus pun kembali menghela napas:

“Mun ukur ngarayakeun tanggal, urang mah teu kakurangan acara. Nu kurang téh meureun rasa era ka rahayat.”
(Selesai).

BACA INI JUGA : Rusia Tawarkan PLTN Terapung, DPR RI Siap Kawal Regulasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *