Semua Fokus ke Selat Hormuz, K orupsinikus menarik napas panjang.“Karena, pada akhirnya —semua memang tak mau mampus.”
Esai Satire : Harri Safiari
DUNIA kembali tegang. Mediasi gagal. Iran dan Amerika Serikat sama-sama pulang dengan alasan—tanpa solusi.
Padahal, di luar ruang diplomasi, manusia masih tahu satu hal sederhana: perang itu mahal—dan selalu dibayar oleh mereka yang tak ikut memutuskan.
Sorotan pun mengerucut pada satu titik: Selat Hormuz. Jalur sempit yang tak pernah sempit dampaknya. Korupsinikus menyebutnya singkat:
“Leher botol dunia. Dicekik sedikit saja, semua ikut sesak.”
Dampak itu tak datang dengan ledakan. Ia merembes pelan—ke dapur. Plastik mulai terasa mahal. Bukan karena langka, melainkan karena ia anak kandung minyak.
Pedagang kecil pun mulai berhitung ulang. “Kalau plastik naik,” kata Korupsinikus, “daun kembali jadi teknologi masa depan.”
Satire yang terasa terlalu nyata.
BACA INI JUGA : Lebanon dan Gencatan yang Hilang Makna, Korupsinikus: Kala Damai Ditafsir Sepihak
Tahu dan tempe pun bicara tanpa suara. Harga tetap. Ukuran menyusut. Bukan tipu daya, melainkan strategi bertahan.
Kedelai impor, ongkos kirim, dan energi—semuanya terseret gelombang yang berawal jauh di sana.
“Ini bukan inflasi,” gumamnya, “ini penyusutan yang disepakati diam-diam.”
Dan yang paling sunyi: BBM. Ketika harga minyak dunia bergetar akibat ketegangan di sekitar Selat Hormuz, Indonesia ikut menahan napas.
Negara dihadapkan pada pilihan lama: menahan harga—anggaran berdarah, atau melepas harga—rakyat yang berdarah.
“Pilihan rasional,” ujar Korupsinikus, “yang kerap terasa tak manusiawi saat dijalankan.”
BACA INI JUGA : Ini Dia Bocoran Surat Tertutup dari Korupsinikus untuk Presiden AS Donald J. Trump
Akhirnya, ia menutup catatannya: “Perang di sana, mengecilkan tahu di sini. Ketegangan di laut jauh, mengganti plastik dengan daun.
Satu selat sempit, mengguncang satu negeri.”
Ia tersenyum tipis. “Jika besok harga naik dan isi dompet menurun, jangan buru-buru menyalahkan dapur.”
Ia berhenti sejenak. “Salahkan peta… dan situasi geopolitik.” Korupsinikus menarik napas panjang. “Karena, pada akhirnya—
semua memang tak mau mampus.” (Selesai).














Responses (2)