Prospek Bisnis Tuyul, Korupsinikus menyebutnya sebagai evolusi. Pegiat anti korupsi yang setiap bulan mengalami bencana tongpes, menilai sebagai bencana moral.
Esai Dark Satire — Harri Safiari
Di Negeri Konoha Raya, zaman memang sudah berubah. Dulu orang bekerja keras untuk mendapatkan uang.
Sekarang, sebagian orang justru bekerja keras agar uang orang lain terlihat seperti uangnya sendiri.
Korupsinikus menyebutnya sebagai evolusi.
Rubi, pegiat antikorupsi yang hampir setiap akhir bulan selalu mengalami penyakit kronis bernama tongpes—kantong kempes, menyebutnya sebagai bencana moral.
Sementara Udin Surudin, warga yang dikenal sebagai dukun lepus sekaligus peternak tuyul berkelanjutan, melihatnya sebagai peluang ekonomi hijau.
“Hijau bagaimana?” tanya Rubi.
“Hijau duitnya,” jawab Udin enteng.
Udin muncul dari balik rumpun bambu. Rambutnya gimbal.
Jubah loreng ala US Army yang tampak seperti baru pulang dari perang Vietnam dan Afganistan menggantung kusut di tubuhnya. Di pundaknya terdapat tas kecil yang bergerak-gerak sendiri.
Rubi melirik curiga.
“Din, itu apa?”
“Bibit.”
“Bibit apa?”
“Tuyul unggul.”
Korupsinikus langsung mendekat.
Matanya berbinar.
“Berapa harga per ekor?”
Rubi spontan menyela.
“Jangan dilayani, Kus!”
“Kenapa?”
“Karena ini berbahaya.”
“Yang berbahaya tuyulnya atau kemiskinan?”
Rubi terdiam.
Korupsinikus tersenyum.
“Nah, kan?”
Udin tertawa.
“Begitulah, Rub. Kamu memang pegiat antikorupsi. Tapi setiap akhir bulan datang kepadaku untuk berutang.”
“Karena aku miskin, bukan karena korup!”
“Bedanya tipis,” sahut Korupsinikus.
“Tidak tipis!” Rubi membentak.
“Korupsi itu mengambil hak orang lain. Aku cuma belum punya uang.”
“Justru itu,” kata Korupsinikus. “Kalau kamu tidak punya uang, mengapa tidak ikut bisnis tuyul?”
Rubi menatap tajam.
“Karena saya masih punya harga diri.”
Udin mengangkat tangan.
“Tenang. Harga diri sekarang bisa masuk paket kemitraan.”
Korupsinikus terkekeh.
“Berapa modalnya?”
“Fleksibel.”
“Return?”
“Cepat.”
“Risiko?”
Udin menggaruk rambut gimbalnya.
“Kalau dikelola profesional, sangat kecil.”
Rubi menyela.
“Dan kalau tertangkap?”
Udin tersenyum.
“Risikonya bukan pada tuyul.”
“Lantas?”
“Pada manusianya.”
Korupsinikus bertepuk tangan.
“Luar biasa! Ini baru manajemen risiko!”
Rubi mulai emosi.
“Ini bukan bisnis!”
Udin membalas santai.
“Lantas apa? Kamu bertahun-tahun bicara antikorupsi. Hasilnya?”
Rubi terdiam.
“Kantong saya tetap kempes,” lanjut Udin.
Korupsinikus tertawa terbahak-bahak.
“Rubi, kau kalah telak.”
“Belum tentu.”
Rubi mendekati Udin.
“Kalau tuyul memang begitu hebat, mengapa tidak sekalian kita ternakkan untuk membangun negeri?”
Udin tersenyum lebar.
“Nah! Ini baru pemikiran visioner.”
Korupsinikus menepuk pundak Rubi.
“Selamat datang di dunia kewirausahaan.”
Rubi tersenyum tipis.
“Jangan salah paham. Saya sedang menyindir.”
“Bisnis memang selalu dimulai dari sesuatu yang tidak dipahami orang,” kata Korupsinikus.
Udin kemudian membuka tasnya.
Dari dalam terdengar suara kecil:
“Ciluk… baa.”
Rubi mundur.
“Demi Tuhan, Din!”
“Tenang.”
Udin menepuk tas itu.
“Ini generasi terbaru.”
“Bedanya?”
“Efisien.”
“Bagaimana?”
“Tidak perlu makan banyak. Tidak perlu kantor. Tidak perlu kendaraan. Tidak perlu BPJS. Tidak perlu THR.”
Korupsinikus mengangguk-angguk.
“Efisiensi tenaga kerja!”
“Betul.”
“Produktivitas?”
“Tinggi.”
“Berkelanjutan?”
“Selama masih ada uang yang bisa diambil.”
Rubi mendadak diam.
Kalimat terakhir itu terasa lebih dingin daripada angin malam.
Korupsinikus justru tersenyum.
“Begitulah hukum ekonomi.”
Rubi menatapnya.
“Bukan hukum ekonomi. Itu hukum keserakahan.”
Korupsinikus mendekat.
“Bukankah keserakahan juga punya pasar?”
Rubi menjawab cepat.
“Pasar bisa tumbuh. Tapi moral yang mati tidak bisa dipanen.”
Udin mengangkat telunjuk.
“Kalau begitu kita bikin program CSR.”
Rubi mendengus.
“CSR apa?”
“Corporate Social Responsibility.”
“Perusahaan tuyul?”
“Kenapa tidak?”
Korupsinikus menyambut.
“CSR-nya sederhana: mengambil uang dari orang kaya, lalu sebagian kecil dibagikan kepada orang miskin.”
Rubi langsung menunjuk wajah Korupsinikus.
“Robin Hood?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Korupsinikus Hood.”
Udin tertawa sampai jubah lorengnya bergoyang.
Namun Rubi tidak tertawa.
“Masalahnya bukan siapa yang mendapatkan uang,” katanya. “Masalahnya adalah bagaimana uang itu diperoleh.”
Korupsinikus mengangkat alis.
“Dan bagaimana kalau uang itu diperoleh dengan cara yang terlihat legal?”
Rubi menjawab:
“Kalau substansinya mencuri, legalitas cuma bisa menjadi kosmetik untuk kejahatan.”
Suasana mendadak senyap.
Udin yang sejak tadi santai mulai memandangi tuyul di dalam tasnya.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “bisnis saya bagaimana?”
Rubi menatapnya.
“Berhenti.”
Udin menghela napas.
“Berat.”
“Kenapa?”
“Sudah beranak-pinak.”
Korupsinikus kembali tertawa.
“Sudahlah, Rubi. Jangan terlalu idealis.”
“Kenapa?”
“Karena idealisme tidak bisa membayar makan.”
Rubi menjawab tanpa tersenyum.
“Benar.”
Ia menepuk kantong celananya yang kosong.
“Tapi korupsi juga tidak pernah membuat negeri ini kenyang.”
Korupsinikus terdiam.
Udin pun terdiam.
Bahkan dari dalam tas terdengar suara kecil yang ikut diam.
Malam semakin larut.
Di Negeri Konoha Raya, tiga manusia masih memperdebatkan masa depan bisnis tuyul.
Korupsinikus melihatnya sebagai peluang.
Udin melihatnya sebagai industri.
Rubi melihatnya sebagai cermin.
Dan mungkin justru di situlah persoalannya.
Sebab tuyul sesungguhnya tidak selalu berkepala gundul, bertubuh kecil dan berjalan pada malam hari.
Kadang ia memakai jas.
Kadang membawa map.
Kadang duduk di ruang rapat.
Kadang pandai berbicara tentang efisiensi, investasi dan keberlanjutan.
Kadang bahkan memiliki stempel resmi.
Yang membedakan hanyalah satu:
Tuyul tradisional mengambil uang secara diam-diam.
Sedangkan tuyul modern bisa saja membuat uang itu hilang sambil tersenyum di depan kamera.
Korupsinikus menutup percakapan:
“Jadi, prospek bisnis tuyul cerah atau suram?”
Rubi menjawab:
“Cerah bagi yang mengambil.”
Udin menyahut:
“Cerah bagi peternaknya.”
Korupsinikus tersenyum.
“Dan?”
Rubi menatap langit.
“Suram bagi negeri yang membiarkannya menjadi industri.”
Dari dalam tas Udin terdengar suara:
“Ciluk… baa.”
Rubi menoleh.
“Din, itu tuyul atau rakyat?”
Udin mengerutkan dahi.
Korupsinikus tertawa.
“Kalau sudah sama-sama kehilangan uang, bedanya memang mulai sulit ditemukan.”
Dan malam itu, bisnis tuyul pun resmi masuk daftar UMKM paling prospektif di Negeri Konoha Raya.
Tentu saja—hanya dalam proposal Korupsinikus. (Selesai)













