Khas  

Sekolah Dokter Djawa

FOTO karya Tan Tjie Lan ini terdapat dalam koleksi KITLV. Gedung Dokter-Djawa School , atau Sekolah Dokter Djawa, dipotret 1902 -- atau tahun terkhir sebelum sekolah itu bernama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).

FOTO karya Tan Tjie Lan ini terdapat dalam koleksi KITLV. Gedung Dokter-Djawa School , atau Sekolah Dokter Djawa, dipotret 1902 — atau tahun terkhir sebelum sekolah itu bernama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).

Dokter-Djawa School terletak di Hospitaalweg, kini Jl Saleh Raya, dan menjadi bagian Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Adalah Willem Bosch, kepala Dinas Kesehatan Hindia Belanda, yang mendirikan sekolah ini tahun 1851. Tahun yang sama Bosch mendesak pemerintah Hindia-Belanda mendirikan sekolah kebidanan.

Dokter-Djawa School hanya meerima siswa 20 sampai 30 setiap tahun. Masa belajar dua tahun. Setelah lulus, setiap alumni berhak menyandang gelar dokter-Djawa . Padahal, tidak seluruh siswa berasal dari Pulau Jawa.

Nasib tragis dialami sekolah kebidanan. Pemerintah Hindia-Belanda menutup sekolah itu tahun 1875 karena lulusannya tak diterima pribumi. Maklum, pribumi menolak pendekatan Barat dan lebih suka dukun beranak.

BACA INI JUGA : Tupac Shakur dan, Kebenaran Samar – Membaca Sean Combs: The Reckoning ala Korupsinikus

Tahun 1875 Bahasa Belanda menjadi pengantar di Dokter-Djawa School, menggantikan Bahasa Melayu. Tahun 1902, saat ginekologi masuk ke dalam kurikulum, Dokter-Djawa School berubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) dengan lama belajar sembilan tahun.

Tahun 1903 di Surabaya berdiri Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Lulusan STOVIA dan NIAS berhak menyandang gelar Indisch arts , arti sebenarnya dokter Hindia, tapi orang lebih suka menyebut dokter pribumi.

Tahun 1927 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Geneeskundige Hoogeschool , atau Akademi Kedokteran, yang sekarang jadi Fakultas Kedokteran UI di Jl Salemba. Sejak itu STOVIA berhenti menerima siswa, dan lulusan terakhir meninggalkan sekolah itu tahun 1935.

Hanya ada satu Geneeskundige Hoogeschool di Hindia Belanda. Di Surabaya, NIAS tidak dibubarkan tapi kurikulumnya disesuaikan dengan Geneeskundige Hoogeschool

BACA INI JUGA : Menjamu Bhayangkara FC, Persib Mengusung Misi Besar, Harus Mengakhiri Kutukan

Tahun 1934, semua etnis di Hindia Belanda boleh masuk ke Geneeskundige Hoogeschool, yang penting bisa bayar. Tahun yang sama, 45 persen siswa Geneeskundige Hoogeschool adalah pribumi, 35 persen Tionghoa, dan 20 persen Belanda dan kulit putih Eropa.

Pemrintah Hindia Belanda menyetarakan Geneeskundige Hoogeschool dengan semua fakultas kedokteran di universitas-universitas di Belanda. Akibatnya, biaya pendidikan di Geneeskundige Hoogeschool. Jadi, hanya anak-anak dari keluarga super tajir yang bersekolah di sini.(Teguh Setiawan)

BACA INI JUGA : Persib Periksa Kesehatan Seluruh Skuad, Adam Alis Sudah Latihan Lagi

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *