Khas  

Fenomena 81 Persen Koruptor Pria Alirkan Duit ke Selingkuhan, Korupsinikus : Si Cinta Cadangan

Begini, uang negara dipakai memelihara selingkuhan. Artinya, yang dikhianati bukan cuma pasangan sah, tapi seluruh rakyat, demi kemapanan si cinta cadangan

Esai Kontemplatif-Satir: Harri Safiari

UCAPAN Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, soal kebiasaan koruptor menyamarkan hasil rampokan melalui keluarga, amal, liburan, hingga selingkuhan, sejatinya bukan sekadar informasi penegakan hukum.

Itu potret telanjang tentang watak busuk kekuasaan: rakus, licik, dan tetap ingin terlihat romantis.

Di negeri ini, korupsi rupanya tidak cukup hanya mencuri uang rakyat. Ia juga ingin tampil gaya, bergelimang pesona, sambil pura-pura jatuh cinta.

Menurut paparan Ibnu, ketika uang hasil korupsi sudah dibagikan ke istri, anak, kerabat, tabungan, dan sumbangan sana-sini, sebagian pelaku mulai panik mencari tempat persembunyian baru.

Maka muncullah jalur darurat bernama selingkuhan. Luar biasa. Di negara yang birokrasinya sering lambat, kreativitas koruptor justru melesat cepat, dan tepat sasaran!

Saat rakyat antre bantuan, mereka sibuk menyusun strategi pencucian uang berbasis hubungan gelap.

Saat masyarakat dipaksa hemat, mereka justru boros demi menjaga rahasia.

Saat banyak rumah tangga megap-megap bayar cicilan, para maling berdasi sibuk membiayai cinta tambahan atawa cinta sampingan.

BACA INI JUGA : Semua Fokus ke Selat Hormuz, Korupsinikus: Tak Mau Mampus!

Korupsinikus, yang lama hidup di lorong-lorong absurditas republik yang tak lain disebut Negeri Konoha Raya (NKR), tertawa pendek nan getir mendengar kabar itu.

“Begini, uang negara dipakai memelihara selingkuhan. Artinya, yang dikhianati bukan cuma pasangan sah, tapi seluruh rakyat, demi kemapanan si cinta cadangan,” ujar Korupsinikus sambil menatap langit yang tampak lelah.

Ia melanjutkan, di negeri yang terlalu sering memaafkan pencuri, selingkuhan kadang naik kelas menjadi instrumen keuangan yang strategis.

“Jangan remehkan status selingkuhan. Dalam ekosistem koruptor, ia bisa berubah fungsi: dari teman makan malam menjadi deposito berjalan yang multi fungsi.”

Rantai Kejahatan Korupsinikus menegaskan, perselingkuhan dalam kasus semacam ini bukan lagi urusan moral pribadi. Ia sudah menjadi bagian dari rantai kejahatan.

Sebab setiap tas mewah, apartemen rahasia, mobil hadiah, liburan manis, bisa jadi dibayar dari jalan rusak, sekolah ambruk, obat mahal, pupuk langka, dan harapan rakyat yang dipereteli diam-diam.

“Lipstik itu mungkin berasal dari anggaran bocor. Cincin dan berlian bisa jadi dari proyek mark-up. Makan malam romantis itu mungkin hasil memotong jatah orang miskin,” katanya datar nyaris tanpa ekpresi.

Lalu datang babak yang lebih sakral sekaligus ironis. Ketika merasa usia menua dan pintu penjara mulai terlihat, sebagian pelaku mendadak rajin menyumbang ke rumah ibadah.

Nominalnya besar. Wajahnya teduh. Bahasa tubuhnya khusyuk. Padahal, kata Korupsinikus, itu sering kali bukan tobat—melainkan negosiasi panik dengan langit.

BACA INI JUGA : Lebanon dan Gencatan yang Hilang Makna, Korupsinikus: Kala Damai Ditafsir Sepihak

“Mereka kira Tuhan bisa disogok atau ada diskon seperti panitia proyek.”

Ia lalu menirukan logika sebagian pelaku:

“Kalau uang ini kotor, mari bangunkan toilet. Kalau hati saya hitam, mari pasang keramik putih.”

Korupsinikus menghela napas. “Masalah negeri ini bukan cuma banyak pencuri. Tapi pencurinya ingin tetap dipuji, tetap dianggap dermawan, tetap dipanggil bapak, bahkan tetap merasa tampan di mata selingkuhan.”

Begitulah. Di republik yang sering salah urat malu, koruptor bukan hanya mencuri uang rakyat.

Mereka juga mencuri makna cinta, merusak kehormatan keluarga, menodai amal, lalu berharap sejarah menuliskan mereka sebagai orang terhormat.

Padahal sejatinya sederhana: Ia hanyalah maling yang kebetulan memakai parfum mahal, walau wanginya bisa terbatas saja. (Selesai).

BACA INI JUGA : Rekor Tak Terkalahkan Persib di GBLA Terhenti, Berbagi Poin dengan Arema FC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *