Seolah-olah tidak ada yang sedang meledak di luar sana. Korupsinikus menyebutnya satu kata: dedegler—sejenis keberanian yang telah melampaui rasa gentar, bahkan melampaui rasa malu.
Esai Satir: Harri Safiari
DI SEBUAH waktu yang serba ganjil—awal April 2026—langit di atas Israel tak pernah benar-benar sunyi dari ancaman rudal. Gema konflik dengan Iran serta kelompok seperti Hezbollah dan Houthi movement masih terasa hangat seperti bara.
Namun di saat yang sama, sebuah keputusan justru lahir dengan tenang dari ruang berpendingin udara: parlemen bernama Knesset. Tenang. Terukur. Rapi. Administratif.
Seolah-olah tidak ada yang sedang meledak di luar sana. Korupsinikus menyebutnya satu kata: dedegler—sejenis keberanian yang telah melampaui rasa gentar, bahkan melampaui rasa malu.
Bukan sekadar nekat. Bukan pula sekadar keras kepala. Melainkan kondisi ketika kekuasaan merasa dirinya cukup kebal untuk tidak lagi mempertimbangkan nurani—bahkan saat dunia sedang menonton dengan dahi berkerut.
Hukuman mati bagi warga Palestina disahkan. Cepat, efisien, nyaris tanpa ruang panjang untuk refleksi. Dalam logika modern, ini disebut penegakan hukum.
Dalam logika Korupsinikus—yang hidup di Negeri Konoha Raya (NKR)—ini lebih mirip penataan kematian agar tampak rapi di atas kertas.
“Kalau kematian sudah bisa dijadwalkan seperti rapat mingguan,” katanya pelan, “yang hilang bukan sekadar nyawa, tapi juga rasa bersalah.”
Kecaman Global, Kompak Dunia pun bereaksi. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam. Uni Eropa mengkritik.
Sebagian besar negara menggeleng, menyebutnya diskriminatif, berbahaya, bahkan melanggar HAM dan hukum internasional.
BACA INI JUGA : Viral Joget Bos SPPG, Cuan Rp 6 Juta Sehari, Korupsinikus: Dibekukan Supaya Tidak Cepat Basi
Namun seperti biasa, kecaman global kerap berhenti di batas retorika. Korupsinikus tersenyum tipis, “Di panggung internasional, marah dan mengutuk itu mudah. Yang mahal itu konsekuensi.”
Dan di tengah riuh rendah itu, Amerika Serikat tetap berdiri di sisi yang berbeda—memberi ruang, atau setidaknya tidak menghalangi. Di sinilah “dedegler” menemukan bahan bakarnya: keyakinan bahwa selalu ada pelindung ketika tekanan datang.
Siapa yang Boleh Hidup? Apa yang terjadi kemudian menjadi ironi tingkat tinggi.
Sebuah negara yang mengaku berada di bawah ancaman eksistensial justru mampu melahirkan kebijakan yang secara moral dipertanyakan banyak pihak.
Seolah-olah perang tidak cukup keras, maka hukum pun harus ikut mengeras. “Ini bukan lagi soal bertahan hidup,” kata Korupsinikus,
“ini soal bagaimana kekuasaan mendefinisikan siapa yang boleh hidup.” Di titik ini, batas antara keamanan dan dominasi menjadi kabur.
Antara keadilan dan pembalasan menjadi sulit dibedakan. Dan ketika hukum condong hanya kepada satu sisi, ia tak lagi berdiri sebagai penyeimbang—melainkan berubah menjadi alat penekan.
Ketika Hukum Menjadi Legitimasi Korupsinikus lalu mengajukan pertanyaan sederhana, namun mengganggu:
“Kalau hukum hanya berlaku keras kepada satu kelompok, apakah itu masih hukum—atau sudah berubah menjadi legitimasi?”
BACA INI JUGA : ‘Upeti’ THR Bupati Cilacap Kena OTT KPK, Korupsinikus: Kasihan
Di berbagai laporan internasional, istilah-istilah berat mulai bermunculan: diskriminasi sistemik, pelanggaran HAM, bahkan tudingan praktik yang mendekati genosida.
Kata-kata itu tidak ringan. Namun tampaknya masih lebih ringan dibandingkan tindakan nyata untuk menghentikannya.
Karena di dunia ini, kata Korupsinikus, yang paling berbahaya bukanlah kekerasan yang terlihat—melainkan kekerasan yang telah dilegalkan.
Dan “dedegler” itu, pada akhirnya, bukan sekadar keberanian bertindak—melainkan keberanian untuk tidak peduli. Tidak peduli pada kecaman. Tidak peduli pada standar moral global.
Tidak peduli pada pertanyaan paling mendasar: apakah ini masih manusiawi? Korupsinikus menutup catatannya hari itu dengan satu kalimat yang terdengar seperti gumaman, namun sesungguhnya peringatan:
“Jika dunia terus membiarkan, maka yang kita saksikan bukan lagi konflik—melainkan pembiasaan.” Dan pembiasaan, seperti kita tahu, adalah tahap paling sunyi dari sebuah tragedi besar. (Selesai).














Responses (2)