Meeng Bersaudara dan Sepak Bola Rasis di Hindia Belanda

TOPONIMI

Meeng Bersaudara

Meeng Bersaudara; Eddy dan Frans Meeng, adalah bagian penting sejarah sepak bola Hindia-Belanda. Kiprah keduanya tak banyak ditulis sejarawan Indonesia, entah karena alasan apa.

Jakarta, tandabaca.id
Foto di atas ini terdapat dalam artikel Sociale geschiedenis|Voetbal in Nederlands-Indië: Eddy en Frans Meeng yang ditulis Humphrey de la Croix di situs . Dalam keterangan disebutkan foto adalah koleksi pribadi Eddy Meeng.

Tidak ada keterangan tanggal kapan artikel dimuat. Perkiraannya, sebelum Eddy Meeng meninggal 11 Januari 2008 pada usia 100 tahun 21 hari. Dalam keterangan di bawah foto diri Eddy Meeng, De La Croix menulis; Eddy Meeng pada ulang tahun ke-99, 20 Desember 2007.

Meeng Bersaudara; Eddy dan Frans Meeng, adalah bagian penting sejarah sepak bola Hindia-Belanda. Kiprah keduanya tak banyak ditulis sejarawan Indonesia, entah karena alasan apa.

Saat ditemui De La Croix, Eddy Meeng — meski sedemikian sepuh — masih bisa mengingat wajah-wajah dalam foto itu. Ia juga masih ingat nama beberapa meisje, gadis-gadis penggemar, yang ikut berfoto.

Eddy dan Frans Meeng adalah bagian Sportvereeniging Binnenlandsch Bestuur (SVBB), klub sepak bola orang Eropa di Batavia. Pemainnya adalah kalangan pegawai negeri sipil. Eddy Meeng bekerja di Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) — perusahaan pelayaran milik keluarga Kerajaan Belanda.

SVBB didirikan P van Lingen, orang penting di KPM. Mevrouw(Nyonya) Van Lingen memainkan peran penting dalam pekembangan klub. SVBB adalah klub kelas atas, punya lapangan sendiri di Jl Raden Saleh saat ini, dekat Tjikini Zwembad, dan tak jauh dari RS Queen Emma.

Menghadapi Beb Bakhuys

Setiap kali SVBB berlaga di lapangan itu, penonton harus bayar. Tiket duduk, karena ada kursi panjang, 10 gulden dan tiket berdiri lima gulden. Jadi, hanya kelompok berpenghasilan tinggi yang bisa nonton.

Jika mau gratis, biasanya dilakukan pribumi, seberangi Sungai Ciliwung yang melintas di Kwitang dengan berenang, jalan sedikit dan lapangan SVBB sudah terlihat.

Eddy Meeng bermain di posisi bek kiri. Frans Meeng adalah gelandang, tepat di belakang striker. Menurut Eddy, Frans lebih berbakat, lincah, dan punya naluri mencetak gol.

Puncak karier Eddy dan Frans Meeng adalah final Kejuaraan Jawa tahun 1933 di Bandung. SVBB bertemu Tot Heil Onzer Ribbenkast (THOR) yang diperkuat bintang sepak bola Belanda; Beb Bakhuys.

“Beb Bakhuys memang hebat,” kenang Eddy Meeng kepada De La Croix. “Dia tanpa kesulitan melewati Frans. Gerakannya lincah. Tembakannya akurat. Tapi yang paling berbahaya adalah tandukannya.”

Namun, Eddy Meeng tak cerita bagaimana dia dan pemain bertahan lain meredam kehebatan Bakhuys. Yang dia tahu, di akhir pertandingan final itu SVBB menang 4-3.

Sepak Bola Ras

Sepak Bola modern berkembang di Inggris sekitar 1850, menyebar ke sekujur Eropa dan koloni. Di Hindia Belanda, sejarah sepak bola dimulai 1894 dengan berdirinya klub Victoria di Surabaya. Tahun-tahun berikut muncul klub THOR, HBS, dan Excelsior.

Di Batavia, berdiri klub Voetbalbond Indische Omstreken Sport (VIOS), yang diperkuat Tjalie Robinson — wartawan, sastrawan, dan pelopor penggunaan Bahasa Petjok. Lainnya adalah Hercules dan SVBB yang berdiri tahun1912.

Dari segi organisasi, muncul Nederlandsch-Indische Voetbal Unie (NIVU), sebagai pembuat regulasi kompetisi, transfer pemain, serta memungkinkan diadakannya kejuaraan antardaerah.

Seperti di Belanda, sepak bola di Hindia Belanda juga terkotak-kotak. Bedanya, di Belanda, klub-klub dibentuk menurut agama; Katolik dan Protestan. Di Hindia Belanda, klub dibentuk menurut kelompok profesi; militer, dokter. Ada pula yang menurut garis ras dan etnis.

SVBB adalah klub kulit putih Eropa, tapi Eddy Meeng menolak asumsi itu. Dalam daftar pemain yang diturunkan di final di Bandung, terdapat dua etnis Tionghoa; Lee Wai Tong dan Tjio Kek Bo, dan satu inlander; Soemo. LK Tai, juga etnis Tionghoa, menjadi pemain pengganti Frans Meeng.

Klub-klub yang baik, menurut Eddy Meeng, memiliki pemain dari beragam etnis. Sebab, klub-klub papan atas punya punya dana besar yang bisa membujuk pemain hebat pindah.

Belanda tak kenal sepak bola profesional sampai 1950. Di Hindia-Belanda, situasi sama juga terjadi. Pemain tak kenal gaji. Yang ada adalah uang saku antara 30 sampai 40 gulden jika memenangkan pertandingan.

Bagi banyak orang saat itu, terutama gaya hidup kulit putih, uang sebesar itu hanya cukup untuk sepekan. Namun, untuk pemain bagus, klub punya gaji per bulan agar pemain tak hengkang ke lain klub.

Berikut Klub-klub di Hindia Belanda dan Afiliasi Ras dan Etnis

• Ardjoeno – Malang – Pribumi
• BVC (Bataviasche Voetbal Club) – Batavia – Eropa
• The Corinthians – Malang – Eropa
• Djocoja – Djokjakarta
• Excelsior – Soerabaja
• Hak Sing – Malang – Tionghoa
• HBS – Soerabaja
• HCTNH – Soerabaja – Tionghoa
• Hercules – Batavia – Eropa
• MVS (Medansche Voetbal Vereniging) – Medan
• OLVEO (Onze Leus is Voortwaarts En Overwinnen) – Batavia – Eropa
• SIDOLIG (Sport In De Open Lucht Is Gezond) – Bandoeng – Eropa
• Sparta (Militairen) – Batavia – Eropa
• Sparta (Militairen) – Bandoeng – Europees
• Sparta – Malang
• STOVIA (Inlandse Artsen) – Batavia – Indonesisch
• SVBB (Sportvereniging Binnenlands Bestuur) – Batavia – Eropa
• SVV – Semarang
• Takja Oetama – Malang – Pribumi
• THOR (Tot Heil Onzer Ribbenkast) – Soerabaja
• Tiong Hoa – Soerabaja – Tionghoa
• VIOS (Voorwaarts Is Ons Streven) – Batavia – Pribumi
• Vitesse – Malang
• UMS (Unity Makes Strength) – Batavia – Tionghoa
• UNI (Uitspanning na Inspanning) – Bandoeng – Eropa
• Velocitas (Militairen) – Bandoeng – Eropa
• Voorwaarts – Malang – Eropa
• VVJA (Voetbal Vereniging Jong Ambon) – Batavia
• VVM (Voetbal Vereniging Minahassa) – Batavia

***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur

BACA INI JUGA
Mengenang Dries Holten, Putra Prajurit KNIL Kelahiran Cimahi yang Jadi Penyanyi Dunia

 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *