Di Pematang Harapan: Ketika Petani dan Bulog Menjaga Pangan Indonesia

IMG-20260518-WA0000

BANYUWANGI.TANDABACA.ID

PAGI itu embun masih menggantung di pucuk-pucuk padi ketika seorang lelaki tua berdiri di pematang sawahnya. Orang-orang di kampung memanggilnya Abah. Tangannya menggenggam caping lusuh, sementara matanya memandang hamparan tanaman padi yang mulai merunduk tanda musim panen segera tiba.

Angin berembus pelan membawa aroma lumpur dan batang padi muda. Dari kejauhan terdengar suara air irigasi yang mengalir tenang. Wajah Abah terlihat lebih lega dibanding beberapa tahun lalu. Tahun 2026 ini, baginya, seperti musim panjang yang akhirnya membawa sedikit ketenangan.

Ia masih ingat betul masa ketika perang Rusia dan Ukraina pecah. Konflik yang berlangsung ribuan kilometer jauhnya itu ternyata ikut mengguncang sawah kecil miliknya di Indonesia. Harga pupuk melonjak tinggi, distribusi tersendat, dan banyak petani kesulitan mendapatkan pasokan tepat waktu. Biaya produksi naik, sementara hasil panen belum tentu memberi keuntungan.
“Waktu itu rasanya dunia pertanian mau runtuh,” katanya lirih.

Di desa Abah (Genteng) banyak petani terpaksa mengurangi penggunaan pupuk. Ada yang berutang demi tetap bisa menanam. Ada pula yang pasrah karena sawah tak lagi memberi kepastian hidup. Krisis global membuat petani menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya.

Beras hasil petani

Namun tahun 2026 membawa suasana berbeda.
Pasokan pupuk mulai lebih aman. Distribusi lebih lancar. Petani bisa kembali bekerja dengan tenang tanpa dihantui kelangkaan seperti sebelumnya. Harga gabah pun bergerak membaik. Di banyak daerah, harga gabah berada di kisaran Rp6.900 hingga Rp7.200 per kilogram, lebih tinggi dibanding Harga Pembelian Pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Bagi sebagian orang kota, angka itu mungkin hanya statistik ekonomi. Tetapi bagi petani seperti Abah, selisih harga itu berarti uang sekolah anak, biaya membeli benih, memperbaiki rumah, atau sekadar memastikan dapur tetap mengepul.
“Alhamdulillah, tahun ini petani bisa sedikit bernapas lega. Memang belum sesuai harapan, tapi bagaimanapun harus disyukuri,” ujarnya.

Namun ketahanan pangan bukan sekadar soal sawah yang hijau dan panen yang melimpah. Ketahanan pangan adalah soal bagaimana negara menjaga agar hasil panen petani tidak jatuh sia-sia, bagaimana harga tetap stabil, dan bagaimana jutaan keluarga Indonesia tetap bisa membeli beras dengan harga terjangkau.
Di titik itulah peran Perum Bulog menjadi sangat penting.

Tahun 2026, Bulog genap berusia 59 tahun sejak didirikan pada 10 Mei 1967. Selama hampir enam dekade, Bulog menjadi salah satu tulang punggung pangan nasional. Dari masa ke masa, lembaga ini terus berubah mengikuti tantangan zaman. Jika dahulu fokus utamanya hanya pengendalian harga dan distribusi beras, kini Bulog berkembang menjadi perusahaan pangan modern yang menjaga cadangan pangan nasional sekaligus membantu stabilitas ekonomi rakyat.

Bagi masyarakat perkotaan, Bulog mungkin lebih dikenal melalui operasi pasar murah atau bantuan beras sosial. Tetapi bagi petani, Bulog adalah pagar terakhir agar harga gabah tidak jatuh terlalu dalam saat panen raya datang bersamaan.
Saat musim panen tiba dan gabah melimpah, harga biasanya turun karena pasokan berlebih. Dalam kondisi seperti itu, Bulog hadir menyerap gabah dan beras petani dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Kebijakan pembelian gabah Rp6.500 per kilogram bahkan tetap dilanjutkan pada 2026 dengan skema “any quality” sebagai bentuk perlindungan terhadap petani.

Langkah itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Tanpa penyerapan dari negara, harga gabah bisa anjlok tajam. Jika petani terus merugi, banyak yang akan meninggalkan sawahnya. Dalam jangka panjang, ancamannya bukan hanya kemiskinan petani, tetapi juga rapuhnya ketahanan pangan Indonesia.

Karena itulah sawah milik Abah sebenarnya terhubung dengan jaringan yang jauh lebih besar. Bulir-bulir padi yang tumbuh di desanya bukan hanya untuk keluarganya sendiri. Gabah itu bergerak menuju penggilingan, masuk ke gudang-gudang Bulog, lalu menjadi bagian dari cadangan pangan nasional.
Hingga awal Mei 2026, Bulog mencatat penyerapan gabah petani telah mencapai lebih dari 2,4 juta ton setara beras. Angka tersebut sudah mendekati 60 persen dari target nasional sebesar 4 juta ton pada tahun ini.

Di beberapa daerah, penyerapan bahkan meningkat tajam. Di Nusa Tenggara Barat misalnya, Bulog menargetkan penyerapan hingga 240 ribu ton setara beras sepanjang 2026 sebagai bagian dari penguatan stok nasional.

Pemerintah menyebut capaian serapan beras tahun ini sebagai salah satu yang tertinggi dalam sejarah. Pada awal April 2026 saja, Bulog sudah menyerap sekitar 1,6 juta ton gabah setara beras—angka yang jauh di atas rata-rata tahun-tahun sebelumnya.

Di balik angka-angka itu, ada kerja panjang yang jarang terlihat publik. Ada petani yang memanen sejak subuh, ada penyuluh pertanian yang mendata sawah, ada truk pengangkut gabah yang bergerak dari desa ke gudang, dan ada pekerja gudang yang memastikan cadangan beras tetap aman.

Ketahanan pangan memang bukan hanya soal produksi. Distribusi juga menjadi tantangan besar Indonesia sebagai negara kepulauan. Banyak masyarakat menyadari bahwa stok beras nasional yang besar tidak otomatis membuat harga murah jika distribusinya tersendat. Percakapan masyarakat di media sosial pun banyak menyoroti persoalan logistik dan pemerataan distribusi pangan.

Tetapi di tengah segala tantangan itu, Indonesia setidaknya memiliki satu kekuatan penting: petani yang tetap setia menanam dan sistem pangan yang terus berusaha menjaga mereka agar tidak berjalan sendirian.
Matahari pagi mulai meninggi ketika Abah berjalan perlahan menyusuri pematang sawahnya. Wajahnya memang belum sepenuhnya bebas dari kekhawatiran. Ia tahu perubahan iklim, biaya produksi, dan cuaca ekstrem masih menjadi ancaman nyata.
Namun setidaknya tahun ini ada harapan yang kembali tumbuh.

Di tengah ancaman krisis pangan global dan gejolak ekonomi dunia, sawah-sawah kecil di desa seperti milik Abah tetap menjadi benteng pertama ketahanan negeri. Dan di belakangnya, ada Bulog yang berdiri menjaga agar hasil panen petani tidak hilang ditelan gejolak pasar.
Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan bukan sekadar soal beras di gudang. Ia adalah soal menjaga kehidupan jutaan rakyat Indonesia agar tetap tenang menghadapi hari esok.(gus)

 

 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *