Bandung, tandabaca.id
TPA Sarimukti masih terbakar, sebanyak 669 warga terjangkit ISPA, 218 di antaranya mengalami gejala bronkitis, sinusitis, disentri, hipertensi, gastritis, asma, batu dan, pilek.
Sebanyak 669 warga terjangkit ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut, karena TPA Sarimukti yang berlokasi di Cipatat, Bandung Barat sudah terbakar lebih dari satu bulan.
Asap tipis yang bersumber dari titik api masih ada, dan masuk ke permukiman warga karena terembus angin kencang.
Kepala Dinas Kesehatan KBB, Hernawan Wijayanto mengatakan, ratusan warga yang terkena penyakit ISPA itu didapat dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim medis di Posko Kesehatan, hingga 22 September 2023.
“Sampai saat ini kami sudah memeriksa seribu lebih warga yang terdampak kebakaran TPA Sarimukti. Hasil pendataan kami, total warga yang terkena ISPA itu ada 669 orang,” ujarnya, Minggu 24 September 2023.
Ia mengatakan, warga yang mengalami gejala parah akibat ISPA itu hanya sedikit.
Namun mereka sempat dirujuk ke rumah sakit sehingga saat ini semua pasien sudah sembuh setelah menjalani perawatan intensif.
“Pasien yang gejalanya parah sejauh ini cuma empat orang, mereka dirujuk ke rumah sakit, tapi sekarang sudah sembuh, dan sisanya berobat jalan,” kata Hernawan.
BRONKITIS SINUSITIS DISENTRI
Selain banyak warga yang terkena ISPA, kata dia, ada juga warga yang mengalami gejala bronkitis, sinusitis, disentri, hipertensi, gastritis, asma, batu dan, pilek karena terus-menerus menghirup asap dari kebakaran TPA Sarimukti.
“Untuk jumlah warga yang mengalami gejala bronkitis, gastritis, disentri, itu ada 218 orang.”
“Kemudian asma ada 16 orang, dan batuk pilek ada 11 orang,” ucapnya.
Menurutnya, jika dilihat dari segi kesehatan, seharusnya tumpukan sampah yang ada di TPA Sarimukti tersebut memang harus dibakar dengan panas 600 sampai 700 derajat agar kandungan polutannya bisa hancur.
“Tapi sebetulnya kalau sampah rumah tangga tidak disarankan untuk dibakar, karena cukup berbahaya bagi kesehatan manusia jika dihirup dan polutan mengendap di paru-paru,” ujar Hernawan.***














Response (1)