Walikota Touho dan Warisan Yang Tak Pernah Pergi

Ora Lali Karo Jowone

TOUHO, TANDABACA.ID-Di Touho, Kaledonia Baru, sebatang bibit kelapa ditanam ke dalam tanah. Barangkali bagi sebagian orang itu hanya seremoni biasa. Namun bagi mereka yang memahami sejarah, pohon kecil itu sedang menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar batang dan daun, ia menumbuhkan ingatan.

Di hamparan rumput yang menghadap perbukitan Touho, Wali Kota Donald Soekir bersama Konsul Jenderal Republik Indonesia di Noumea, Bambang Gunawan, menanam bibit kelapa sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Kaledonia Baru. Kelapa dipilih bukan tanpa alasan. Pohon ini dikenal mampu bertahan di berbagai musim, akarnya kuat, buahnya memberi kehidupan. Persis seperti persahabatan yang diharapkan terus tumbuh melampaui zaman.

Namun, yang membuat momen itu terasa istimewa bukan hanya bibit kelapa yang ditanam. Melainkan sosok yang ikut menanamnya.
Donald Soekir adalah generasi ketiga keturunan Jawa yang menetap di Kaledonia Baru. Ia kini warga negara Prancis dan dipercaya memimpin Kota Touho sebagai wali kota. Jarak ribuan kilometer memisahkan tanah leluhurnya dengan tempat ia mengabdi hari ini. Waktu pun telah berlalu lebih dari satu abad sejak gelombang migrasi orang-orang Jawa tiba di kepulauan Pasifik itu.

Tetapi ada satu hal yang tidak ikut hanyut oleh jarak maupun waktu. “Ora lali karo Jowone.” Tidak lupa dengan Jawanya.
Nama keluarga “Soekir” masih dipertahankan. Ungkapan-ungkapan Jawa masih sesekali terdengar. Nilai-nilai kesederhanaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur tetap hidup dalam keseharian. Identitas itu tidak dipakai sebagai nostalgia, tetapi menjadi bagian dari cara memandang kehidupan.

Donald Soekir hanyalah satu wajah dari kisah yang jauh lebih besar. Di berbagai penjuru Kaledonia Baru, hidup ribuan keturunan Jawa yang telah memasuki generasi kedua, ketiga, bahkan keempat. Mereka telah menjadi bagian utuh masyarakat setempat—ada yang menjadi pejabat publik, guru, pengusaha, petani, maupun pekerja profesional. Mereka berbicara bahasa Prancis, lahir di Pasifik Selatan, dan menjadi warga negara Prancis.

Namun ketika berbicara tentang asal-usul, banyak di antara mereka masih menyebut satu kata dengan penuh kebanggaan: Jawa.
Warisan itu tidak selalu hadir dalam bahasa yang fasih atau pakaian tradisional yang dikenakan setiap hari. Kadang ia hidup dalam nama keluarga, dalam masakan yang tetap dimasak di rumah, dalam cerita yang diwariskan dari kakek-nenek, atau sekadar dalam kalimat sederhana yang terus diingat dari generasi ke generasi.

Karena identitas sejatinya bukan hanya soal tempat lahir. Ia adalah ingatan yang terus dipelihara.
Itulah sebabnya penanaman bibit kelapa di Touho terasa lebih dalam daripada sebuah seremoni diplomatik. Dua orang sedang menanam pohon, tetapi sesungguhnya mereka juga sedang menanam harapan bahwa persahabatan antarbangsa dapat tumbuh setinggi pohon kelapa, dan bahwa akar budaya dapat tetap hidup meski terbentang ribuan kilometer dari tanah kelahirannya.

Di bawah langit Kaledonia Baru, Donald Soekir membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi warga dunia tanpa kehilangan asal-usulnya.
Sebab sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada akar yang membuat manusia tahu dari mana ia berasal. Dan bagi banyak keturunan Jawa di Kaledonia Baru, akar itu masih berbisik dengan kalimat yang sederhana namun penuh makna:
“Ora lali karo Jowone.” (gus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *