Pemerintah Didesak Warga Nagari Maninjau, Normalisasi Sungai Muaro Pisang

Bukittinggi, tandabaca.id
Pemerintah didesak warga Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, untuk segera melakukan normalisasi Sungai Muaro Pisang.

Desakan mengemuka, menyusul kekhawatiran akan banjir susulan yang setiap saat menghantui wilayah tersebut, sejak bencana banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025.

Afrizal, mengatakan meskipun saat ini bantuan logistik sudah cukup, kebutuhan akan alat berat, ekskavator menjadi sangat mendesak.

Semua tidak lain dikarenakan, normalisasi sungai adalah kunci untuk mencegah bencana berulang.

“Soalnya kalau nggak normalisasi, di hulu itu batunya besar-besar,” ujarnya saat ditemui Rabu (31/12/2025).

Afrizal menambahkan, “Batunya besar-besar. Sebesar mobil ini juga ada. Besar-besar batunya. Kalau itu turun ke perumahan habis kita.”

BACA INI JUGA : Profile Ratchaburi FC, Calon Lawan Persib di Babak 16 Besar ACL Two 2025/2026

Minta Tambahan Ekskavator

Afrizal menjelaskan, saat ini hanya ada tiga unit ekskavator yang beroperasi. Untuk itu, harus ada, penambahan dua hingga tiga unit lagi, agar proses normalisasi Sungai Muara Pisang dapat dipercepat, mengingat masa tanggap darurat yang akan berakhir.

“Kalau ada dua (ekskavator) lagi, tiga lagi kan (normalisasi sungai) makin cepat makin baik. Sebab, tanggap darurat katanya nggak sampai tanggal lima (Januari). Tanggap darurat kan sampai tanggal lima,” katanya.

Afrizal melanjutkan, “Berarti kan kita tinggal lima hari lagi (tanggal darurat). Artinya bukan berarti setelah tanggal lima nggak ada ini (bantuan) lagi ya. Cuma kan secara ininya kan begitu.”

Dampak dari belum optimalnya normalisasi sungai sangat terasa. Contohnya, bangunan vital seperti sekolah yang sempat dibersihkan, kembali terendam lumpur setiap kali hujan deras datang.

BACA INI JUGA : Fraksi PDIP DPRD JABAR : Sektor Pendidikan Terkait Peran Pesantren

“Sekolah udah. Udah bersih kemarin. Datang lagi (banjir) yang hari selasa, hari Kamis masuk lagi. Masuk lagi. Kalau hujan. Yang kita takutkan kan hujan,” imbuhnya.

Menurutnya, jika normalisasi tidak segera dilakukan, warga akan merasa pasrah dengan keadaan.

“Soalnya kalau nggak dinormalisasi ya susah juga sih. Terima nasib jatuhnya kita nanti,” ucapnya.

Akibat kondisi ini, warga yang tinggal dalam radius 50 meter dari sungai masih harus mengungsi.

“(Mereka) Ngungsi. Ada yang di masjid, ada yang di sekolah. Ada yang di rumah saudara juga,” jelasnya.

Meski demikian, warga tetap optimistis untuk bangkit dari bencana ini. Semangat untuk pulih tetap tinggi, namun bantuan alat berat menjadi krusial.

“(Kita) Semangat,” ujarnya.

BACA INI JUGA : Pilkades Serentak Berbasis Digital di Karawang Masih Menyisakan Persoalan

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *