Garong

Garong adalah akronim gaboengan romoesha ngamoek. Maklum, Indonesia punya tradisi menjadikan akronim sebagai kata. Misal, tilang — yang merupakan akronim dari bukti pelanggaran.

Jakarta, tandabaca.id
Foto jepretan Cas Oorthuys Februari 1947 ini adalah sekelumit kisah kepulangan Romusha. Tidak ada informasi dari mana mereka diangkut. Kemungkinannya adalah Burma, negara yang saat ini bernama Myanmar.

Mereka adalah sebagian dari ribuan Romusha yang dipulangkan setelah kekalahan Jepang, Agustus 1945. Tiba di Tanjong Priok, mereka segera diangkut dengan kereta ke kampung halaman masing-masing.

Tiba di kampung halaman, mereka berubah menjadi garong.

Yang kita tahu tentang garong mungkin terlalu sederhana, yaitu perampok, penyamun, atau perampok di jalanan sepi di hutan-hutan dan permukiman. Khusus rampok di jalan sepi, orang Betawi punya kata tersendiri, yaitu begal.

Orang Indonesia punya tradisi menjadikan akronim sebagai kata. Misal, tilang — yang merupakan akronim dari bukti pelanggaran. Atau nandur — akronim dari menanam mundur. Dalam Bahasa Inggris ada FUCK, yang merupakan akronim fornification under consent of the king, yang artinya perzinahan atas izin raja.

Garong adalah akronim gaboengan romoesha ngamoek. Sesuai tradisi, yang paling sering dan doyan akronim itu aparat; sipil atau militer. Garong adalah akronim yang dipopulerkan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan ambtenaar kota kecil.

Musuh Semua

Tidak ada penjelasan akademis tentang apa yang terjadi dengan romusha setelah sekian tahun menjalani kerja paksa. Yang pasti, saat gelombang pertama kepulangan mereka tahun 1946, garong marak di dua tempat di Pulau Jawa; pertama di sekujur Padalarang, kedua di wilayah Kalibening, Pekalongan, Wonosobo, Karangkobar, Batur, dan Wanayasa.

Mereka membentuk kelompok-kelompok, berbagai wilayah perampokan, dan relatif terorganisir. Rata-rata berusia belia, seperti terlihat dalam gambar, bersenjata tajam, pistol, dan karaben yang digergaji sedemikian pendek agar bisa disembunyikan di balik baju.

Asumsi kata garong dipopulerkan aparat dikonfirmasi sastrawan hebat Pramoedya Ananta Toer dalam buku Jalan Raya Pos Jalan Daendels. Saat bertugas di TKR dengan pangkat letnan, Pram — demikian Pramoedya biasa dipanggil — ditugaskan Letkol Moefreini Mukmin (entah mengapa Jokowi belum juga memberi gelar pahlawan pada orang Betawi satu ini) mengantar surat ke Mayor Doejeh Soeharsa, salah satu komandan batalyon Resimen Cililin.

Saat menunggu untuk menyerahkan surat, Pram mendengar prajurit TKR cerita soal garong. Pram bertanya, apa itu garong? Dijawab; gaboengan remoesha ngamoek.

Peneliti LIPI M Ali Humaedi, dalam riset Gaboengan Romoesha Ngamoek: Pertarungan Kekerasan di Kaki Pegunungan Dieng Banjarnegara, mengkonfirmasi tentang garong yang merajalela antara 1942-1957 di wilayah Kalibening, Wanayasa, Pekalongan, Wonosobo, Paweden, Karangkobar, dan Batur.

Berbeda dengan di Padalarang, tempat garong merajalela sejak Romusha pulang kampung, penelitian Humaedi memperlihatkan garong telah ada saat Jepang mulai merekrut penduduk untuk menjadi Romusha.

Kisah pendeknya, Romusha — yang hendak dikirim ke Burma — melarikan diri, masuk dan ke luar kampung untuk merampok demi bertahan hidup. Setelah Jepang hengkang dan Romusha pulang dari Birma, kelompok-kelompok garong membesar dan mewabah.

Robin Hood

Garong merampok siapa saja; pribumi, Tionghoa, atau pemukim Belanda. Yang penting dapat duit atau barang berharga. Mereka juga diburu siapa saja; TKR, tentara Belanda dan KNIL, serta penduduk. Jika tertangkap penduduk, mereka dipastikan tewas di tempat.

Masyarakat di kampung-kampung yang dikuasai Belanda dan TKR membentuk relawan keamanan kampung. Mereka menerapkan sistem keamanan lingkungan, dengan TKR atau KNIL melakukan pengejaran jika terjadi perampokan.

Sesuatu yang menarik terjadi di Keresidenan Banyumas. Saat garong berada di puncak keemasan, muncul sekelompok Romoesha lain yang menyebut diri maling suci. Mereka merampok orang-orang kaya yang dianggap pro-Belanda, dan membagikan hasil rampokan ke orang-orang miskin.

Mereka adalah Robin Hood di tengah revolusi. Sayangnya, aksi mereka tak terdokumenasi. Itulah yang membedakan mereka dengan Robin Hood.***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

BACA INI JUGA
Pemahaman Historis Soal Duit!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *