Kasino dan Markas Penipuan Daring Kamboja Dibombardir Jet Tempur Thailand

Jet tempur Thailand dilaporkan melakukan serangan udara terhadap setidaknya lima kasino di Kamboja.

Bandung, tandabaca.id
Jet tempur Thailand dilaporkan melakukan serangan udara terhadap setidaknya lima kasino di Kamboja. Selain kasino, serangan ini juga menargetkan kompleks yang diduga menjadi markas operasi penipuan daring.

Serangan udara terjadi sejak pecahnya kembali pertempuran antara kedua negara pada hari Senin. Video rekaman yang beredar memperlihatkan sejumlah warga asing berlari meninggalkan kompleks yang diserang.

Militer Thailand mengklaim bahwa lokasi-lokasi yang tersebar di tiga provinsi itu digunakan untuk kegiatan militer, termasuk penempatan pasukan, peluncuran drone, dan penyimpanan roket untuk peluncur BM-21.

Thailand menolak rencana Presiden AS Donald Trump untuk memediasi perdamaian, sementara pertempuran di perbatasan memaksa sekitar setengah juta orang mengungsi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kamboja dikenal sebagai pusat penipuan daring berskala besar dan perdagangan manusia yang sering beroperasi dari gedung kasino atau kompleks bertingkat. Meskipun awalnya sebagian besar berlokasi di kota pesisir Sihanoukville.

BACA INI JUGA : Anggaran Pembangunan Rp62 Miliar, Progres FlyOver Nurtanio 87 Persen

Kegiatan ini kini menyebar ke berbagai wilayah, termasuk kasino perbatasan yang biasanya melayani penjudi dari Thailand dan Vietnam, negara-negara yang melarang perjudian.

Pejabat Kamboja menyebut bahwa pasukan Thailand menembaki Kasino O’Smach di provinsi Oddar Meanchey pada hari Senin, menewaskan satu penjaga keamanan dan melukai lima orang, termasuk warga China dan Myanmar. Belum ada konfirmasi kasino mana yang digunakan untuk operasi penipuan.

Pada tahun lalu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Kasino O’Smach dan pemiliknya, taipan Ly Yong Phat, terkait pelanggaran hak asasi manusia terhadap pekerja yang dipaksa bekerja di pusat-pusat penipuan daring.

Puluhan warga Pakistan dan Nepal dilaporkan melarikan diri dari kasino tersebut awal tahun ini karena kondisi kerja yang tidak adil.

Militer Thailand pada Selasa mengerahkan pesawat Saab JAS 39 Gripen untuk mengebom Royal Hill Resort, yang menurut Global Initiative Against Transnational Organized Crime diduga menjadi pusat penipuan daring.

BACA INI JUGA : Menang 3-1 Lawan Myanmar! Indonesia Pulang, Kalah Bersaing di Jalur Runner Up Terbaik

Target lain termasuk Sai Taku Resort di Chob Kokir Khang Lich (Oddar Meanchey), sebuah kasino di Thmor Da (Pursat), dan kasino dekat perbatasan Chong An Ma (Preah Vihear).

Jacob Sims, peneliti tamu di Harvard University dan penasihat senior Inca Digital, menyatakan kompleks-kompleks tersebut kemungkinan digunakan oleh militer Kamboja. “Bangunan-bangunan ini merupakan infrastruktur militer paling layak di perbatasan.

Selain itu, hubungan patronase dengan elit politik memberi perlindungan bagi pemiliknya untuk mendukung kepentingan militer,” jelasnya.

Sims menambahkan, penolakan global terhadap industri penipuan daring Kamboja memberi Thailand justifikasi untuk agresi lintas batas. Pemerintah Kamboja sendiri terus membantah keterlibatan langsungnya, meski beberapa operasi telah ditutup.

Namun, tidak ada jaminan bahwa kasino dan kompleks tersebut telah dievakuasi sepenuhnya. Ribuan korban perdagangan manusia kemungkinan masih berada di lokasi, dipaksa bekerja untuk operasi penipuan daring.

BACA INI JUGA : Pemeliharaan Berkelanjutan, DSDABM Pastikan Jalan Nyaman Jelang Nataru

Para pekerja ini biasanya dijebak dengan tawaran pekerjaan sah, lalu dipaksa menipu korban di luar negeri di bawah ancaman kekerasan.

Video yang beredar minggu ini menunjukkan ratusan warga asing meninggalkan pusat-pusat penipuan di O’Smach, berjalan di jalan sambil membawa barang-barang mereka.

“Mengebom kompleks bukanlah cara efektif untuk menumpas industri penipuan. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah warga sipil sengaja menjadi target atau digunakan sebagai perisai manusia, dan apakah ini bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang,” kata Sims.***

 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *