Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, sudah saatnya sadar emas, tidak terkerangkeng dengan yang namanya uang. Apalagi bangsa ini, mempunyai deposit kandungan emas tidak terbatas.
Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia ( DMK )
Ketua Umum DPP Barisan Islam Moderat ( BIMA) – Senior KADIN Jabar.
Terminologi Ekonomi Islam, mengajarkan nilai tetap dalam berniaga, pinjam meminjam pun di larang terjadinya bunga atau riba. _…Allah telah menghalalkan Jual Beli, dan mengharamkan Riba (Q.S Al Baqarah 275)_
Pandangan Riba pun tentunya beragam, ada yang memandang bunga Bank tidak termasuk Riba, karena bunganya relatif kecil dan tidak mencekik.
Di dalam kitab tanya jawab A. Hasan, seorang ulama PERSIS, menjelaskan bahwa Riba yang dimaksud ayat tersebut adalah Riba yang mencekik di zaman Jahiliyah, dan bunga Bank tidak termasuk dalam katagori mencekik, serta sangat membantu kreditor untuk melakukan produktifitas usahanya.
Dan bunga Bank, hanya sebatas jasa perbankan, yang tentunya tidak bisa di hindari.
Namun ulama dan umat Islam yang lebih berhati-hati untuk menjaga kesucian diri, bunga Bank pun tetap mereka hindari, dan menganggap sekecil apapun bunga pinjaman, tetap termasuk Riba. Oleh karena itulah banyak Bank Syariah berdiri dalam kerangka menghindari RIBA tersebut.
Nilai ekonomi tetap di dalam Islam, pada hakikatnya membawa manusia pada kejujuran, ketika bertransaksi apapun, tidak boleh mengurangi takaran, dengan prinsip dasar nilai tetap ekonomi.
Jika prinsip nilai ekonomi tetap Islam ini di jalankan secara konsisten, maka alat tukar yang namanya uang pun menja di tidak Islami, karena jelas sekali nilainya berubah.
Rupiah Selalu Mengalami Inflasi
Sebagai contoh Rupiah, selalu mengalami inflasi dari waktu ke waktu, dan nilai ekonominya selalu turun, dan tidak tetap.
Hitungan yang sangat mencolok terlihat di banding harga emas, tahun 2005 satu gram emas seharga Rp. 100 rb, sepuluh tahun kemudian di tahun 2015, harga satu gram emas menjadi Rp. 500 rb, dan sepuluh tahun kemudian, di tahun 2025, sa’at ini harga satu gram emas mencapai Rp. 2jt 100rb.
Bayangkan betapa meruginya yang menyimpan rupiah di banding menyimpan emas.
Nilai rupiah secara ekonomi mengalami inflasi yang demikian jauh nilainya, jika di banding nilai ekonomi Emas, terjadi penurunan per sepuluh tahun hingga 400% s.d 500%.
Demikian rentan inflasi yang namanya uang, dan pembahasan terkait uang kita coba perlebar, mengapa sekarang negara-negara BRICS, dengan lokomotif China dan Rusia, perputaran ekonominya ingin keluar dan lepas dari cengkraman Dolar AS.
Contoh kasarnya, bisa di ibaratkan dengan bazar, jika anda membuat bazar dengan alat tukar kupon, maka semua uang itu di konversi ke kupon, dan kemudian barulah bisa bertransaksi di bazar tersebut.
Dan setelah beres bazar, otomatis kupon tersebut butuh di konversi kembali menjadi uang untuk mengikuti transaksi di luar bazar.
Kalau di ibaratkan bazar itu adalah negara-negara. Seperti itulah Dolar AS mengendalikan mata uang lainnya, yang bisa di ibaratkan merupakan kupon-kupon yg berlaku untuk transaksi di setiap negara, sebagaimana halnya contoh bazar.
Dan semua uang otomatis sangat bergantung kepada Dolar AS, dengan berbagai aturan main yang di buat AS melalui World Bank, maka AS yang punya dolar bisa mengambil keuntungan, dari kebutuhan setiap negara terhadap dolar AS bagi transaksi global, sehingga secara tidak langsung negara-negara seluruh dunia tersandera dan sangat bergantung dengan Dolar AS, untuk transaksi global.
Nilai Ekonomi Mata Uang Tak Tetap
Demikian ekonomi global dengan alat tukar uang, hingga membuat uang bisa diperjualbelikan dengan bursa uang valuta asing (valas). Kenapa bisa diperjual belikan, karena setiap mata uang tidak tetap nilai ekonominya, bisa naik turun di banding dolar AS.
Adilkah bagi setiap orang yang memegang uang dengan nilai tidak tetap seperti ini ?
Uang bisa bernilai, dengan alat penjamin pencetakan uang adalah emas, dari sejumlah uang yang di cetak di hitung rasio tertentu pencetakan uang di banding penjaminnya emas atau yang di sebut colateral, namun bisa di bayangkan betapa syubhatnya uang yang beredar, karena sangat dipengaruhi sistem ekonomi Global yang bergerak sangat dinamis setiap sa’at.
Untuk itulah kita bangsa Indonesia, dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, sudah sa’atnya sadar emas, tidak terkerangkeng dengan yang namanya uang.
Apalagi Indonesia adalah negara yang mempunyai deposit kandungan emas tidak terbatas. Tambang emas freeport di Papua adalah tambang emas terbesar kedua di dunia.
Kita bangsa Indonesia, sudah sa’atnya selalu mengkonversi uangnya dengan emas, sehingga dengan kesadaran inilah, semua pemilik aset nilai ekonomi di Indonesia tidak merugi karena inflasi uang.
Bisakah kesadaran ini di bangun ? tentu saja bisa, jangan kalah dengan masa lalu, di zaman Rasullullah Muhammad saw., dan di zaman kerajaan-kerajaan Nusantara, alat tukar itu adalah emas dan perak, contoh uang dinar di masa lalu, terbuat dari emas dan perak.
Jadi pemilik dinar tersebut punya nilai tetap, yang sangat berkeadilan, dari masa kemasa nilai ekonominya tetap dan tidak berubah, karena terbuat dari emas dan perak.
Bima Mendukung Strategi Sadar Emas
Mengingat pentingnya menjaga nilai tetap ekonomi dari alat tukar yang bernama uang, perlu diketahui oleh masyarakat luas dan bangsa Indonesia, bahwa PT ANTAM (BUMN), sa’at ini sudah mampu memproduksi kartu-kartu dengan plat emas 24 karat, dengan gramasi sangat bervariasi, hingga ukuran sangat kecil, semisal 0,01 gram, dan 0,1 gram.
Dengan demikian memudahkan masyarakat yang ingin mengkonversi uangnya jadi emas. Kemudian PT ANTAM, mempunyai vendor-vendor sebagai penyalur plat-plat emas tersebut, sehingga bisa mengkonversi dari uang menjadi emas, dan dari emas menjadi uang, dalam setiap sa’at.
Hal ini adalah terobosan ekonomi yang sangat baik, untuk menjaga nilai tetap ekonomi dari setiap pemilik uang. Jika semua bangsa Indonesia sadar emas, dengan strategi selalu mengkonversi rupiahnya dengan emas, betapa kuatnya ekonomi Indonesia, untuk menyongsong Indonesia emas 2045. Karena hakikatnya alat tukar yang namanya uang itu sangat bergantung kepada nilai emas, hingga dolar AS sekalipun, tidak ada artinya apa-apa tanpa emas.
Barisan Islam Moderat (BIMA) sangat mendukung pola dan strategi sadar emas ini, yang benar-benar sesuai dengan prinsip dasar Islam, dalam menjaga nilai ekonomi tetap. Olehkarena itulah DPP BIMA membentuk Tim BIMA-EMAS, yang bekerjasama dengan salah satu vendor PT. ANTAM, yaitu PT. Golden Smart Mandiri (GSM), dan berkantor di El Hotel (lt. 2) kota Bandung.
Bagi masyarakat Jawa Barat umumnya, dan kota Bandung khususnya, yang ingin mengetahui lebih mendalam terkait sadar emas, bisa berkomunikasi dan berkordinasi dengan Tim BIMA-EMAS sbb : 1. Panji (0811-1119-8889) ; 2. Kang Jay (0815-7147-778) ; 3. Wiwi Widaningsih (0877-9430-2458) ; 4. Firman (0812-2233-3323). Tim Bima-Emas, akan menjelaskan lebih detail dan rinci terkait sadar emas termasuk berbagai skema bisnis jual beli emas yang menguntungkan, bagi setiap nasabah Bima Emas.










Response (1)