Sektor Teh Indonesia Lesu, Berbanding Terbalik dengan Tren Konsumsi Teh Global

Sektor Teh Indonesia Lesu
Sektor Teh Indonesia Lesu. Penurunan kinerja itu, jelas berbanding terbalik dengan tren konsumsi teh global yang terus meningkat naik.

Bandung, tandabaca.id
Sektor Teh Indonesia Lesu. Penurunan kinerja itu, jelas berbanding terbalik dengan tren konsumsi teh global yang terus meningkat naik.

Ketua Paguyuban Tani Lestari, Waras Paliant mengatakan hal tersebut di atas dalam pertemuan sektor teh Asia 2023 di Bandung, Rabu 22 Agustus 2023.

Pertemuan itu dihadiri, delegasi Asia Tea Alliance (ATA) dari berbagai negara dan tamu undangan dari perwakilan stakeholder sektor teh di Indonesia.

ATA beranggotakan enam negara penghasil teh dunia, antara lain ; Indonesia, China, India, Bangladesh, Sri Lanka dan Nepal.

Waras Paliant mengatakan sektor teh Indonesia dikelola oleh 3 pelaku usaha, mereka adalah perkebunan besar Negara, perkebunan besar Swasta dan Perkebunan Rakyat.

Dari ketiga pelaku usaha sektor teh itu, sektor perkebunan rakyat yang paling lesu.

“Petani dengan sederet keterbatasan modal, kemampuan dan teknologi, umumnya kurang luwes dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis,” katanya.

Sektor teh Indonesia lesu karena petani dari perkebunan rakyat masih menjual pucuk basah, sehingga nggak punya nilai tambah produk.

Selain itu, harganya juga masih tergantung pada pengepul di daerah masing-masing.

Akibatnya petani sering kali menerima berapapun harga yang ditentukan pengepul atau pabrik pengolahan.

Tak heran bila sejumlah petani meninggalkan kebun tehnya, dan mencari alternatif pekerjaan lain, seperti buruh, karyawan, atau jadi pedagang.

“Generasi muda pun tidak tertarik melanjutkan kebun teh yang sudah menjadi warisan turun-temurun.”

“Kebanyakan dari mereka memilih merantau untuk mendapat upah lebih baik,” ungkapnya.

PETANI BERADA DI UJUNG RANTAI PASOK

Karena itulah, tambah Waras Paliant, posisi petani berada di ujung rantai pasok dengan segala keterbatasannya.

Ketergantungan yang besar pada pelaku lain, juga masih menempatkan mereka pada posisi tawar yang rendah.

Jadi, harus ada solusi inovatif untuk mengubah kondisi tersebut petani rakyat.

“Salah satunya adalah seperti yang kami (paguyuban) lakukan bersama para petani dengan membangun produk teh rakyat yang telah kami beri nama ‘Teh nDeso’,” ungkapnya.

Melalui event Asia Small Tea Growers Conference 2023, pihaknya akan mengumumkan rencana ekspansi pasar ke Jawa Barat dan launching brand Teh Juwara.

Di lain sisi, membanjirnya impor teh di pasar Indonesia juga karena konsumen Indonesia lebih menghendaki produk teh dengan harga murah.

Hal itu membuat para pengusaha minuman bahan baku teh, lebih pilih mengimpor teh berkualitas rendah dengan harga murah.

“Jika kondisi ini berlanjut, tentu dapat merugikan sektor teh Indonesia dan berdampak negatif bagi seluruh petani teh,” ungkapnya.

Melihat kondisi sektor teh Indonesia lesu, aliansi organisasi teh dari negara-negara produsen dan konsumen teh utama di Asia, Asia Tea Alliance (ATA) akan mempromosikan teh Asia di pasar global.

Harapannya, bisa membantu para produsen (terutama produsen kecil) mengidentifikasi peluang pasar baru, dan mengatasi hambatan perdagangan. ***

BACA INI JUGA
Indonesia Menjadi Tuan Rumah Pertemuan Akbar Sektor Teh Asia 2023