Parit Perlindungan Sia-sia Lindesteves Batavia

Bagian dari parit perlindungan berhias properti Lindeteves di Batavia. Ada kursi di dalam parit. (javapost.nl)

Jakarta, tandabaca.id
Foto ini saya temukan di javapost.nl edisi 14 Desember 2017. Keterangan singkat di bawah foto menyebutkan; “Bagian dari parit perlindungan berhias properti Lindeteves di Batavia. Ada kursi di dalam parit.”

Artikel yang menyertai foto ini mungkin cukup menarik untuk dibaca sebagai penambah wawasan, terutama tentang situasi Batavia pada hari-hari pertama setelah Adolf Hitler menginvasi Belanda.

Mei 1940 Jerman tanpa kesulitan menggasak dan menguasai Belanda. Di Hindia-Belanda, muncul kekhawatiran Jepang akan melakukan hal serupa; membombardir Batavia dan menduduki sekujur tanah jajahan.

Pemerintah Hindia-Belanda tidak bicara kepada publik, tapi seluruh surat kabar dikumpulkan untuk menenangkan keadaan. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 12 Juni 1940 menuliskan situasi ini.

Batavia, tulis Bataviaasch Nieuwsblad, tidak mau ketinggalan. Meniru kota-kota di Eropa, Batavia mempertimbangkan kemungkinan menghadapi bahaya dari udara dengan membangun tempat perlindungan di seluruh kota.

Pengerjaan dilakukan dengan kecepatan tinggi. Penggalian parit perlindungan dilakukan bersamaan, dan dalam beberapa hari shelter didirikan. Rangka kayu di atas parit akan ditutup dengan karung pasir.

Perusahaan-perusahaan besar dituntut menjamin keselamatan karyawannya, dan mereka membangun shelter berukuran besar sesuai kebutuhan. Dua dari raksasa bisnis saat itu; Internatio dan Lindesteves, yang berada di Molenvltiet Oost — kini Jl Hayam Wuruk — membangun parit, menawarkan ruang perlindungan bagi ratusan karyawan.

Menariknya, semua pembangunan itu relatif luput dari perhatian masyarakat umum. Namun, pekerja kantoran — yang menyerap informasi dari luar lewat surat kabar — akhirnya tahu untuk apa penggalian parit-parit itu. Batavia bersiap menghadapi perang.

Batavia Kota Terbuka

Parit perlindungan dibangun di sepanjang jalan utama sampai ke Meester Cornelis. Sebanyak 23 gerbong kereta bermuatan kayu yang dipasok Boschwezen, kini Perhutani, tiba di Batavia. Jumlah total material tak diketahui.

Pemerintah kota Batavia menegaskan shelter dan parit perlindungan hanya untuk mereka yang berada di jalan saat sirene serangan udara dibunyikan. Shelter keluarga, atau untuk mereka yang berada di rumah, sama sekali terpisah.

Pemboman itu tak pernah terjadi. Setelah memenangkan Pertempuran Laut Jawa, Jepang mendarat di Teluk Banten. KNIL segera mengumumkan menjadikan Batavia kota terbuka, artinya tidak dipertahankan.

KNIL dan sekutu lari ke Bandung, meneruskan perjalanan ke Subang dan menyerah di Kalijati. Jadi, parit itu — yang dibangun dengan biaya mahal — sama sekali tak digunakan.***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

BACA INI JUGA
Batu Bata, Kali Lio, dan Lapangan Banteng

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *