Antara Batu Bata, Kali Lio, dan Lapangan Banteng ternyata memiliki keterkaitan yang sangat erat, khususnya dalam hal pembangunan kota Batavia.
Jakarta, tandabaca.id
Keponakan saya bertanya, saat Simon Stevin membangun Batavia, batu batanya dari mana? Saat itu kan belum ada pembakaran batu bata di sekitar Sunda Kelapa.
Saya kelabakan dan sempat tak tahu cara menjawabnya. Keharusan menjawab membuat saya membuka lagi Oude Batavia Gedenboek 1919 volume I sampai III, dengan harapan jawabannya ada di tumpukan kata dalam Bahasa Belanda di ketiga buku itu.
Saya tak menemukan cerita soal batu bata dalam pembangunan Batavia, kini disebut Kota Tua Batavia, tapi ada cerita menarik bagaimana Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1704-1761) membangun rumah peristirahatan di Weltevreden.
Sebagai informasi, peradaban batu bata telah dikenal nenek moyang kita jauh sebelum Belanda datang. Di Trowulan, situs peninggalan Majapahit, semua candi Hindu terbuat dari batu bata. Kolam Segaran, dan gerbang Bajang Ratu, terbuat dari batu bata.
Tidak jauh dari Jakarta, di tengah persawahan antara Bekasi dan Karawang, terdapat candi-candi Hindu terbuat dari batu bata, meski tinggal bagian bawah dan pondasinya.
Namun, batu bata relatif masih digunakan untuk bangunan candi, bukan rumah tinggal. Istana Majapahit, Padjajaran, dan Banten, terbuat dari kayu. Jika Anda menemukan gambar-gambar puing-puing Kesultanan Banten terbuat dar batu bata, itu dibangun setelah kedatangan bangsa-bangsa Eropa.
Jadi, Jan Pieterzoon Coen mendatangkan batu bata dari Belanda untuk membangun gedung-gedung Batavia. Pengangkutan itu gratis, karena kapal-kapal VOC yang berlayar dari Amsterdam ke Batavia nyaris tanpa muatan kosong. Kalau pun ada yang dibawa, terbatas pada meriam.
Benteng-benteng awal VOC, yang dibangun sementara untuk pertahanan, adalah benteng tanah atau Sterrechans. Benteng Angke, misalnya, semula benteng tanah. Menjadi benteng batu bata setelah perjanjian damai VOC-Banten ditandatangani.
Batu Bata dari Belanda
Setelah mendapatkan tanah dari VOC, Anthonij Paviljoun membangun rumah-rumah kecil dan memberi nama kawasan itu Weltevreden, yang artinya suasana tenang dan memuaskan. Cornelis Chastelein mengambil alih Weltevreden dan mengembangkan kebun kopi, tapi gagal.
Berikutnya, tahun 1733, Yustinus Vinck membeli sebagian Weltevreden dan membangun dua pasar, kini dikenal sebagai Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang.
Paviljoun, Chastelein, dan Vinck, menggunakan batu bata dari Belanda untuk membangun rumah-rumah, atau fasilitas lain di Weltevreden. Tapi Jacob Mossel memutuskan membuat batu bata sendiri saat akan membangun rumah peristirahatannya.
Mossel mendirikan steenbakerij, rumah pembakaran bata, di Weltevreden. Dalam bahasa lokal, tempat pembakaran batu bata disebut lio. Saya nggak tahu lio itu kata dalam bahasa apa.
Di samping rumah pembakaran batu bata, Mossel menggali saluran yang memungkinkan sekoci berlayar mengangkut komoditi untuk pasar yang dibuatnya. Kini, saluran itu — dan pembakaran batu bata — tak ada lagi, tapi sebagai pengingat kita bisa berkunjung ke Jl Kali Lio, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.
Itulah pembakaran batu bata pertama. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil dari wilayah sekitar Prinsenplein, yang kemudian berubah menjadi Koningsplein setelah pengangkatan Pangeran William III sebagai Raja Inggris. Koningsplein kini menjadi Jl Medan Merdeka.
Ladang Kerbau
Lokasi penggalian tanah untuk pembuatan batu bata itu berubah nama menjadi Buffelsveld, atau Ladang Kerbau. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang menulis Oude Batavia Gedenboek, berasumsi nama Ladang Kerbau muncul dan menjadi sebutan umum untuk Prinsenplein setelah lubang-lubang bekas galian tanah untuk pembuatan batu bata menjadi kubangan kerbau.
Kini, buffelsveld atau ladang kerbau menjadi Lapangan Banteng. Menurut saya, buffelsveld menjadi Lapangan Banteng adalah terjemahan yang salah. Sebab, banteng dalam Bahasa Belanda adalah stier. Ya udahlah, Lapangan Banteng mungkin lebih keren dibanding Lapangan Kerbau.
Yang pasti, Lapangan Banteng muncul berkat kebutuhan tanah untuk pembuatan batu bata. Berkat Mossel, orang Indonesia tahu cara membuat rumah dari batu bata. Sebab, setelah lio pertama di Weltevreden, pembakaran batu bata muncul di sekujur Ommelanden, dan orang-orang Belanda tidak lagi mengandalkan impor batu bata dari negara nenek moyang.
Kini, terutama di perkoraan, batu bata di tepi sejarah. Posisinya digantikan hebel yang lebih murah, ringan, dan tak banyak semen. Rumah-rumah orang kelas menengah ke bawah menggunakan hebel.***
Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.
Baca Ini Juga
Wajah Pejuang Kemerdekaan RI yang Mendunia














Responses (2)