Khas  

Saaba Endjak Si Perampok Beken dari Kampoeng Petoendoean

Ilustrasi sosok jagoan jaman bahela (ilustrasi foto di ambil dari kaskus)

Jakarta, tandabaca.id
Saat asyik menelusur arsip digital Hindia Belanda di delpher.nl, saya ketemu cerita tentang Saaba Endjak — si perampok hebat dari Kampoeng Petoendoan.

Pasti banyak yang bertanya di mana Kampoeng Petoendoean, atau Petunduan? Kampung itu kini bernama Stadion Gelora Bung Karno. Sedangkan nama Petunduan berusaha diabadikan menjadi Rumah Kost Petunduan di Tebet Barat VII A, Tebet Barat, Jakarta Selatan, oleh keturunan orang Kampong Petoendoean yang digusur Soekarno tahun 1960-an.

Tampaknya, Saaba Endjak tak dikenang atau menghilang dari sejarah kriminal Betawi bersamaan dengan hilangnya Kampung Petoendoean. Padahal, dibanding Si Pitoeng yang kariernya sangat singkat, Mat Item yang ngerampok di kampung sendiri dan sekitarnya, Saaba Endjak adalah perampok lintas tanah partikelir.

Mantan Anak Buah Oesoep

Bataviaasch nieuwsblad edisi 15 Juni 1920 menulis Saaba Endjak alias Raden Oemar, lahir di Kampong Petoendoean, Kecamatan Weltevreden, ditembak Reserse Afdeeling Kali Oloe, Distrik Tjibaroesah — kini masuk Kabupaten Bekasi — sekitar pukul 12:00.

Saaba Endjak sebelumnya tangan kanan Oesoep, atau Si Oesoep, penjahat paling intelek dan cerdas — karena bisa Bahasa Belanda, Arab, Inggris, dan Melayu, dengan sangat baik. Kecerdasan itulah yang membawa Oesoep, dengan Saaba Endjak sebagai tangan kanan, merampok dari satu ke lain kota. Jadi bukan jagoan kampung gitu lho.

Oesoep ditangkap di Tjeribon (Cirebon – red) dan dijatuhi hukuman mati. Saaba Endjak mengambil alih kepemimpinan kelompok dan menulis sejarahnya sendiri.

Raden Oemar

Saaba Endjak punya dua istri; Saleha yang tinggal di Passar Baroe, Tanah Abang, Weltevreden, dan Atti — warga Lebak Nangka, Buitenzorg (Bogor – red), tempat Saaba menyebut diri Raden Soehama alias Djangkoeng. Saat menetap di Pondok Gede, Saaba menyebut diri Raden Oemar.

Saaba Endjak diburu polisi sekujur Batavia en Ommelanden, Buitenzorg, dan Tjeribon. Di Kramat, Meester Cornelis, Saaba diburu karena merampok tiga orang Jepang pada 1 November 1919. Di Buitenzorg ia dilacak selama dua setengah tahun untuk berbagai perampokan.

Ia beberapa kali terlacak, disergap, tapi selalu lolos bersama empat anggota kelompoknya. Namun, polisi tak berhenti mengejarnya, seperti saat mereka mengakhiri petualangan Si Oesoep.

Saaba Endjak Dieksekusi

Hari itu, pertengahan Juni 1910, Recherche (Reserse) Mangkoeningrat dan lima detektif dan asisten wedana, bergerak ke Kali Oela, Tjibaroesa, setelah menerima laporan Saaba Endjak berada di sebuah kampung.

Saaba Endjak diperkirakan akan melewati lokasi tertentu. Perkiraan itu benar, Saaba Endjak dan empat anggotanya melewati jalan itu dan segera didekati Reserse Mangkoeningrat. Saaba Endjak tahu sedang diintai, dan segera melarikan diri.

Ia melepas beberapa tembakan, tapi tak satu pun mengenai anggota polisi. Satu tembakan asisten wedana membuatnya tersungkur. Ia terluka parah. Sebuah revolver berisi lima peluru, sejumlah perhiasan, dan jimat, ditemukan di sakunya.

Akhir Cerita Robin Hood

Saaba Endjak memang layak tak ngetop. Sejak petualangan Si Pitoeng berakhir tahun 1893, pers Hindia-Belanda tidak pernah lagi mengangkat kisah penjahat dan aksi-aksi kejahatannya secara berlebihan dan menimbulkan ketakutan luar biasa bagi penduduk kulit putih.

Pers Belanda yang ‘mencipakan’ Si Pitung sebagai perampok hebat, yang kemudian dipelintir masyarakatnya sebagai Robin Hood. Setiap kali Si Pitoeng beraksi, atau polisi gagal menangkapnya, korang-koran Hindia Belanda menaikan tiras karena yakin pasti laku.

Setelah Si Pitoeng tewas, tak ada lagi penjahat yang ‘diciptakan’ pers.

Teguh Setiawan

BACA INI JUGA
Miskin
Akhir Tanah Partikelir Semplak
Dengar Nama Si Pitoeng, Belanda Keringet Dingin, Jendela Ditralis dll

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *