Khas  

Miskin

foto kertosono com

Di Kampung Miskin di Oud Batavia, atau Batavia Lama — letaknya tak jauh dari Roa Malaka saat ini — tidak seluru penghuni kampung orang nggak gablek duit.

Jakarta, tandabaca.id
Pagi ini, saya iseng-iseng membaca lagi The Kapitan Cina of Batavia karya Mona Lohanda, profesor sejarah Universitas Indonesia (UI) yang orang Cina Benteng. Mata saya tertuju ke satu pagraraf yang sebenarnya pernah saya baca beberapa tahun lalu.

Paragraf ini membahas kata ‘miskin’, yang menurut Mona Lohanda — dengan rujukan ada di catatan kaki — berasal dari ‘masikin’, kelas dalam masyarakat Hadramaut yang terdiri dari kelompok masyarakat biasa dan pedagang keliling.

‘Masikin’ berevolusi menjadi ‘miskin’ yang berarti orang kecil dan tidak penting. Di Batavia abad ke-17 terdapat Gang Orpa, yang nama lainnya adalah Kampung Miskin. Sampai abad ke-20, lihat peta Batavia 1920, Kampung Jawa — yang di era 1980-an terkenal dengan sekolah STM-nya — dibagi dua; Kampung Jawa dan Kampung Jawa Miskin.

Kata ‘miskin’ di era kolonial tidak melulu mengacu pada ketiadaan harta. Di Kampung Miskin di Oud Batavia, atau Batavia Lama — letaknya tak jauh dari Roa Malaka saat ini — tidak seluru penghuni kampung orang nggak gablek duit. Ada orang-orang berduit tapi bukan orang penting, bukan penguasa, pengusaha, dan birokrat.

Namun, kenapa ketika kata ‘miskin’ diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia jadi beda arti. Miskin, dalam Bahasa Indonesia, identik dengan ketiadaan harta, asset, dan properti.

Kembali ke ‘masikin’ sebagai kelas orang kebanyakan dalam masyarakat Hadramaut. Saat orang-orang ‘masikin’ itu datang ke Batavia, tidak ada penghormatan untuk mereka dari kelas masyarakat mana pun di masyarakat.

Antara Arab dan Hadramaut

Namun, sesuatu menjadi terbolak-balik ketika kaum ‘masikin’ ini tahu pribumi Batavia saat itu sudah memeluk Islam. Beberapa kaum ‘masikin’ mendeklarasikan diri sebagai sayyid alias keturunan Nabi Muhammad. Ada pula yang menyebut diri ‘sjech’ atau ulama bangsawan.

Yang terjadi berikutnya adalah pribumi Batavia cium tangan bolak-balik para sayyid dan sjech. Belum cukup, mereka cipika-cipiki.

Seiring perkembangan zaman, pribumi Batavia membuat definisi sendiri mengenai orang Arab dan Hadramaut. Menurut mereka, orang Arab adalah mereka yang berasal dari tanah kelahiran Rasululullah dan layak dihormati. Orang Hadramaut tidak sepeti orang Arab, dan tentu saja tidak ada di antara mereka yang sayyid.

Usai membaca pagraf itu saya bertanya, yang saat ini dihormati orang Betawi itu siapa; Arab atau Hadramaut. Jawab: Arab Hadramaut.

Mari kita berbingung-bingung.

Oleh Teguh Setiawan penulis buku toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

BACA INI JUGA
Akhir Tanah Partikelir Semplak
Dengar Nama Si Pitoeng, Belanda Keringet Dingin, Jendela Ditralis dll
Dibanding Mat Item, Kundur Lebih Banyak Membunuh

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *