Viral Joget Bos SPPG ‘Cuan Rp 6 Juta Sehari’, Korupsinikus: dibekukan supaya tidak cepat basi. Dapur itu tempat masak bung.
Esai Satir: Harri Safiari
ENTAH sedang mengalami hari sial, ketiban apes, atau memang lupa diri.
Di Negeri Konoha Raya (NKR), seorang mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendadak viral. Bukan karena inovasi gizi, bukan pula karena keberhasilan program—melainkan karena berjoget di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Video itu beredar luas.
Gerakannya luwes.
Senyumnya lepas.
Dan di sudut lain negeri, ada anak-anak yang tetap makan seadanya.
Belakangan diketahui, sosok itu bernama Hendrik Irawan. Ia memamerkan penghasilan hingga Rp6 juta per hari dari operasional dapur MBG. Sebagian menyebutnya kreatif. Sebagian lagi menyebutnya keterlaluan.
Korupsinikus yang saya hubungi via video call dari rumahnya yang beratap seng hanya tertawa kecil.
“Dapur itu tempat masak, Bang…” katanya.
“Bukan tempat masak citra.”
Ia mengangkat alis.
“Tapi sekarang beda. Yang penting bukan makanannya matang…”
“Yang penting matang di algoritma.”
BACA INI JUGA : ‘Upeti’ THR Bupati Cilacap Kena OTT KPK, Korupsinikus: Kasihan
Program MBG sejatinya dirancang sebagai intervensi sosial: memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi layak. Tapi ketika angka Rp6 juta per hari ikut menari di tengah dapur, publik mulai bertanya—ini program sosial atau peluang bisnis?
Korupsinikus menjawab tanpa diminta.
“Rp6 juta sehari?”
“Itu bukan dapur umum lagi, Bang…”
Ia tersenyum miring.
“Itu sudah dapur yang lebih paham pasar daripada rasa lapar.”
Di kota-kota besar, terutama sekolah-sekolah favorit, fenomenanya bahkan lebih ganjil.
Makanan gratis tersedia.
Tapi tidak selalu dimakan.
Bukan karena rasanya buruk.
Tapi karena yang menerima… memang tidak benar-benar lapar.
“Programnya untuk yang butuh,” lanjut Korupsinikus.
“Distribusinya ke yang mampu.”
Ia mengangkat bahu.
“Sisanya jadi konten.”
BACA INI JUGA : Perang Iran vs Israel & Amerika, Korupsinikus: Siapa Bakal Menang?
Data yang beredar menyebutkan, mitra tersebut memiliki tujuh dapur. Namun baru satu yang beroperasi. Enam lainnya masih dalam tahap pengembangan.
Korupsinikus tertawa pelan.
“Ini konsep pembangunan baru, Bang…”
“Yang jalan satu, yang dibanggakan tujuh.”
Ia menatap kamera.
“Kadang yang belum ada… lebih menjanjikan daripada yang sudah nyata.”
Polemik ini akhirnya sampai ke Badan Gizi Nasional (BGN).
Satu dapur dibekukan.
Alasannya jelas: pelanggaran standar, etika, dan prosedur.
Korupsinikus mengangguk.
“Dibekukan itu bagus,” katanya.
“Di negeri tropis seperti ini, sesuatu memang harus dibekukan supaya tidak cepat basi.”
Ia berhenti sejenak.
“Masalahnya…”
“Yang sering basi itu bukan makanannya.”
“Kepekaan.”
BACA INI JUGA : Demokrasi, Nepotisme, dan Utopia Pilpres, Korupsinikus : Hindarkan Ijazah Palsu!
Kasus ini membuka diskusi lama yang belum pernah benar-benar selesai: etika dalam program publik.
Dapur seharusnya steril.
Prosedur seharusnya ketat.
Tujuan seharusnya jelas.
Namun di lapangan, semuanya bisa berubah bentuk—tergantung siapa yang memegang sendoknya.
Korupsinikus mengambil gelas kosong di dekatnya, membalikkannya.
“Etika sekarang seperti ini, Bang…”
“Bentuknya ada.”
Ia mengetuk gelas itu pelan.
“Isinya kosong.”
Pertanyaan besar pun kembali mengemuka:
apakah program sosial memang sedang bergeser menjadi ruang bisnis?
Di satu sisi, keterlibatan mitra membuka peluang ekonomi.
Di sisi lain, garis antara pelayanan dan keuntungan mulai tampak kabur.
Korupsinikus tersenyum, kali ini lebih tipis.
“Ini bukan kecelakaan, Bang…”
“Ini evolusi.”
“Dari niat baik…”
“jadi niat baik-baik saja…”
“lalu jadi niat baik untuk diri sendiri.”
BACA INI JUGA : Gentengisasi & Catatan Melipir Korupsinikus – Merawat Citra Permukaan
Di beberapa sekolah, makanan itu bahkan kembali utuh ke tempat sampah.
Bukan karena tidak layak makan.
Tapi karena tidak pernah benar-benar dibutuhkan.
Korupsinikus menatap saya lama.
Tidak tertawa kali ini.
“Program yang baik itu sederhana, Bang…” katanya pelan.
“Yang lapar makan.”
Ia berhenti.
“Masalahnya di sini…”
“Yang makan tidak lapar.”
“Yang lapar tidak masuk daftar.”
Layar video call mendadak gelap.
Tak ada suara.
Hanya satu kalimat yang seperti tertinggal di udara—
tidak jelas dari siapa:
Di negeri ini, yang paling cepat kenyang… biasanya bukan perut rakyat. (Selesai).













