Khas  

Perang Iran vs Israel & Amerika, Korupsinikus: Siapa Bakal Menang?

Perang Iran vs Israel & Amerika, Korupsinikus : Siapa Bakal Menang? Pasti Industri Senjata paman Sam. Sekarang kan dia sedang mempertebal PAD Domestik. Yang rugi, atau korbannya rakyat jelata.

Esai Reflektif

Oleh: Harri Safiari

HAMPIR seminggu perang antara Iran melawan Israel yang berdiri di bawah payung militer Amerika Serikat, televisi di warung kopi tampak bekerja lebih keras daripada akal sehat manusia.
Rudal melintas di layar seperti meteor yang terlalu rajin.
Analis militer bergantian muncul, menunjuk peta digital dan menghitung jet tempur. Mereka berbicara tentang strategi, sistem pertahanan udara, dan satu istilah yang selalu terdengar serius: stabilitas kawasan.
Biasanya itu berarti kawasan sedang tidak stabil.
Di meja pojok, Korupsinikus menonton semuanya dengan wajah datar, seperti orang yang sudah tahu akhir film sebelum lampu bioskop dimatikan.
Saya bertanya kepadanya.
“Menurutmu siapa bakal menang?”
Korupsinikus tidak langsung menjawab. Ia malah memanggil Rubi yang sedang sibuk memotret kopi.
“Rubi,” katanya, “kalau dua orang berkelahi di pasar, siapa yang paling untung?”
Rubi berpikir sebentar.
“Yang jual plester luka?”
Korupsinikus menggeleng.
“Yang jual pentungan.”
Kami tertawa kecil, tetapi televisi terus menayangkan statistik perang: jumlah rudal, drone, pesawat tempur, dan korban manusa. Semua dihitung dengan presisi tinggi—kecuali satu hal yang jarang dihitung: keuntungan industri senjata!
Korupsinikus menyeruput kopi.
“Dalam perang modern,” katanya pelan, “yang menang sering kali bukan yang menembakkan senjata.”
Ia berhenti sebentar.
“Yang menang adalah yang menjualnya.”
Sejarah tampaknya tidak keberatan dengan kesimpulan itu.

BACA INI JUGA : Apple Rilis iPad Air dengan Chip M4, Performa Makin Kencang Dengan RAM 12 GB

Pada Perang Dunia I, jutaan orang mati di parit-parit Eropa.
Pada Perang Dunia II, kota-kota berubah menjadi abu.
Namun di tempat lain, pabrik senjata bekerja tanpa tidur.
Mesin berputar.
Kontrak ditandatangani.
Dan laporan laba terlihat sangat sehat.
Rubi kemudian bertanya polos.
“Setelah itu kan ada masa damai?”
Korupsinikus tertawa pendek.
“Damai?”
Ia menggeleng.
“Setelah perang dunia selesai, manusia menemukan cara baru untuk tetap bermusuhan tanpa benar-benar menembak.”
Namanya Perang Dingin.
Masalahnya cuma satu: industrinya sangat panas.
Blok Barat dan Timur berlomba membangun nuklir seperti dua tetangga yang saling curiga lalu memutuskan membeli bom yang cukup kuat untuk menghapus kota dari peta.
Rubi mengerutkan dahi.
“Kalau perang itu dingin, kenapa nuklirnya panas?”
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Karena ketakutan manusia selalu lebih panas daripada logikanya.”
Televisi kemudian menyiarkan diskusi tentang ancaman nuklir di Timur Tengah.
Tentang kekhawatiran dunia jika Iran suatu hari memiliki bom atom.
Korupsinikus menatap layar itu lama.
“Ada ironi kecil di sini,” katanya.
Menurut laporan International Atomic Energy Agency, tidak ada bukti Iran memiliki senjata nuklir. Namun dunia tetap khawatir.
Sementara itu Israel secara luas diyakini memiliki nuklir—meski tidak pernah secara resmi mengakuinya.

BACA INI JUGA : OPPO A6s Hadir 6 Maret, Punya Desain Kerang Mutiara, Baterai 7000mAh dan IP69

Rubi mencoba merumuskan logikanya.
“Jadi ini seperti restoran?”
Korupsinikus mengangguk.
“Ya. Ada tamu yang boleh membawa pisau dapur. Ada tamu lain yang membawa sendok saja sudah dicurigai.”
Rubi tertawa.
“Restoran itu pilih kasih.”
Korupsinikus menatap televisi lagi.
“Kadang sangat.”
Di layar, seorang analis mengatakan konflik ini bisa memicu perlombaan senjata baru. Korupsinikus tidak terlihat terkejut.
“Itu kalimat sederhana,” katanya.
“Sederhana bagaimana?”
“Negara-negara akan membeli lebih banyak senjata.”
Ia lalu menyebut dua nama yang jarang muncul dalam diskusi geopolitik global tetapi cukup akrab bagi telinga Indonesia: PT Pindad dan PT PAL Indonesia.
“Siapa tahu,” katanya santai, “kalau dunia makin rajin perang, industri senjata kita juga ikut berkembang.”
Rubi menyeringai.
“Berarti perang ini semacam pameran produk?”
Korupsinikus tertawa kecil.
“Semacam expo global.”
Ia kemudian berdiri.
Sebelum pergi, saya bertanya sekali lagi.
“Jadi siapa yang kalah?”
Korupsinikus menjawab tanpa berpikir lama.
>“Rakyat biasa.”
>Rakyat yang rumahnya berada di bawah lintasan rudal.
>Rakyat yang tidak pernah ikut rapat strategi.
>Rakyat yang selalu membayar harga perang—meski tidak pernah memesannya.
Korupsinikus membuka pintu warung kopi.
“Perang adalah tragedi bagi rakyat,” katanya.
Ia berhenti sebentar.
“Tapi sering kali kuartal fiskal terbaik bagi industri senjata.”
Rubi menatap televisi yang masih menyiarkan langit penuh rudal itu.
Lalu ia berkata pelan:
“Kita selalu takut perang.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi tidak pernah berhenti memproduksi masa depan termasuk senjatanya.” (Selesai).

Bandung, tandabaca.id 5 Maret 2026

BACA INI JUGA : Leica Leitzphone Diperkenalkan di Peluncurkan Xiaomi 17 Series

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *