Menjelang Bangkrut? Tanda-tandanya mulai tampak. Pajak diperas makin halus. Tarif naik pelan-pelan. Subsidi dicabut senyap. Layanan publik tetap lamban seperti sengaja dipelihara untuk melatih kesabaran warga.
Esai Kontemplatif: Harri Safiari
DI Negeri Konoha Raya (NKR), logika ekonomi sudah lama dikubur tanpa upacara. Di atas makamnya, para penguasa menanam baliho bertuliskan: stabil, tumbuh, terkendali.
Tokoh paling nyaring di negeri itu bernama Korupsinikus, ditemani Rubi, aktivis anti korupsi yang kadang lebih sibuk memegang mikrofon daripada kenyataan.
Di NKR, pepatah lama besar pasak daripada tiang dianggap kuno. Mereka memperbaruinya menjadi: besar tiang daripada utang. Tiang dibangun menjulang, utang ditumpuk di ruang gelap, jauh dari mata rakyat.
Setiap tahun pidato digelar megah. Kata-kata seperti transformasi, hilirisasi, akselerasi, dan reformasi beterbangan seperti konfeti. Namun jalan tetap berlubang, dapur makin sepi, sekolah reyot berdiri malu-malu, dan pengangguran tumbuh lebih cepat dari taman kota.
Utang di NKR bukan beban. Ia dipanggil dengan nama sopan: instrumen fiskal. Rakyat diminta tenang. Katanya semua terukur.
Padahal yang terukur hanya naskah pidato. Bunga utang membengkak, cicilan mendekat, kebocoran anggaran mengalir seperti got saat hujan.
BACA INI JUGA : Fenomena 81 Persen Koruptor Pria Alirkan Duit ke Selingkuhan, Korupsinikus : Si Cinta Cadangan
Para pejabat punya bakat ajaib. Saat kas menipis, mereka tak memotong pemborosan. Mereka membangun proyek baru, gedung baru, monumen baru. Sebab dalam kitab pencitraan, beton lebih penting dari akal sehat.
“Rakyat itu mudah dilenakan. Cukup beri seremoni, musik keras, lampu terang, lalu lupa isi dompetnya,” ujar Korupsinikus. Dan banyak yang bertepuk tangan tanpa sadar sedang diejek.
Menjelang Bangkrut?
Tanda-tandanya mulai tampak. Pajak diperas makin halus. Tarif naik pelan-pelan. Subsidi dicabut senyap. Layanan publik tetap lamban seperti sengaja dipelihara untuk melatih kesabaran warga.
Rakyat mulai bertanya: “Jika uang terus dipungut, ke mana perginya?”
Pertanyaan seperti itu berbahaya. Biasanya dijawab dengan seminar mahal, infografik warna-warni, atau buzzer yang dibayar untuk marah.
BACA INI JUGA : Semua Fokus ke Selat Hormuz, Korupsinikus: Tak Mau Mampus!
Korupsinikus lalu berbisik di forum terbuka:
“Hati-hati. Negeri tak selalu bangkrut dengan suara ledakan. Kadang ia roboh pelan, sambil tersenyum di televisi.”
Kebangkrutan, katanya, tidak selalu diawali bank tutup atau mata uang tumbang. Kadang dimulai saat rakyat kehilangan harapan, anak muda ingin kabur, investor menunggu di pagar, dan pejabat mendadak rajin bepergian ke luar negeri.
Sebab para pejabat cerdas selalu menyiapkan pintu darurat jauh hari. Paspor lengkap. Aset aman. Rumah cadangan di negeri antah berantah. Rekening tenang. Anak-anak sudah sekolah di tempat yang tak mengenal antrean bansos.
Jika kapal retak, mereka bukan penumpang terakhir. Mereka justru sekoci pertama.
Sementara rakyat diminta tetap sabar, tetap nasionalis, tetap hemat, tetap percaya bahwa badai hanyalah hoaks oposisi.
BACA INI JUGA : Lebanon dan Gencatan yang Hilang Makna, Korupsinikus: Kala Damai Ditafsir Sepihak
Padahal sejarah mencatat: negara jarang runtuh karena utang semata. Ia runtuh saat dusta lebih tinggi dari gedung-gedungnya, dan pengkhianatan lebih dalam dari defisitnya.
Jika hari itu datang, rakyat akan sadar: selama ini mereka bukan tinggal di bawah tiang negara, melainkan di bawah reruntuhannya.
“Dan reruntuhan,” tutup Korupsinikus sambil tersenyum tipis, “selalu menimpa yang tak sempat lari.”
(Selesai)














Response (1)