Hari Ketiga Pencarian Korban Longsor Cisarua KBB, dan Penjelasan Walhi Jabar

Pencarian Korban Longsor di Kabupaten Bandung Barat (Foto Adpim Pemprov Jabar)

Hari Ketiga Pencarian Korban Longsor Cisarua KBB, Berhasil Dievakuasi Sembilan Jenazah, Jadi Total Korban yang telah ditemukan dalam kondisi meninggal 38 orang.

Bandung, tandabaca.id
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian menyatakan pihaknya telah mengevakusi total 38 jenazah korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, hingga Senin 26 Januari 2026.

Ade Dian menyatakan operasi SAR pada hari ketiga (Senin), berhasil mengevakuasi 13 jenazah. Korban longsor yang telah ditemukan itu, sudah diserahkan ke tim DVI Polri untuk identifikasi.

“Hari ini, hingga pukul 18.30 WIB, jumlah korban yang berhasil dievakuasi sebanyak sembilan jenazah, jadi total korban yang telah diserahkan berjumlah 38, sejak pertama kali operasi SAR dilaksanakan,” katanya, Senin.

Dijelaskan Ade Dian, tim SAR gabungan kembali akan melanjutkan operasi pencarian pada Selasa 27 Januari 2026. Saat itu, selain akan dikerahkan personel, juga akan digerakkan sebanyak 12 alat berat.

BACA INI JUGA : Hari Kedua Pencarian Korban Longsor KBB 16 Meninggal Dunia, 76 Belum Ditemukan

“Tadi kita sudah mendapatkan tiga bantuan alat berat, sehingga untuk pencarian selanjutnya kita dapat mengerahkan 12 unit alat berat,” terangnya.

Lebih lanjut, Ade menyampaikan pada hari ketiga pencarian, operasi SAR sempat terkendala kondisi cuaca. Pada siang hari, tim SAR bisa kembali bekerja dan memaksimalkan proses pencarian.

Ade menyatakan bahwa operasi SAR di wilayah terdampak longsor Cisarua akan dilakukan hingga 14 hari ke depan sesuai penetapan status tanggap darurat bencana.

“Sesuai dengan keputusan pemerintah terkait tanggap darurat bencana, operasi SAR direncanakan akan terus dilakukan hingga 14 hari ke depan dan akan dievaluasi pada hari ketujuh,” katanya.

BACA INI JUGA : Polri Laksanakan Mutasi 85 Pati dan Pamen pada Januari 2026
Degradasi Lingkungan yang Dibiarkan

Sementara itu, Direktur Eksekutif WALHI Jabar, Wahyudin Iwang menyebut peristiwa longsor yang terjadi pada Sabtu 24 Januari 2026 dini hari itu, sejatinya telah lama diperingatkan.

Menurut Wahyudin Iwang, wilayah Cisarua masuk dalam kawasan strategis Bandung Utara yang memiliki fungsi vital bagi keberlangsungan lingkungan dan keselamatan manusia.

“Peristiwa yang terjadi di Cisarua, sebenarnya sudah kami sampaikan sejak lebih dari 20 tahun lalu. Kabupaten Bandung Barat ini sebagian masuk kawasan Bandung Utara, dan Bandung Utara memiliki fungsi penting untuk keberlangsungan lingkungan, termasuk keselamatan nyawa manusia,” ujarnya, Senin 26 Januari 2026.

Wahyudin Iwang menilai longsor yang meratakan puluhan rumah di Kampung Pasirkuning dan Pasir Kuda merupakan bukti terjadinya degradasi lingkungan yang terus dibiarkan. WALHI menilai pemerintah kabupaten maupun provinsi telah mengabaikan berbagai peringatan yang selama ini disuarakan.

BACA INI JUGA : Layvin Kurzawa Resmi Diperkenalkan Persib sebagai Rekrutan Anyar

“Apa yang terjadi kemarin bagi kami adalah salah satu bentuk pengabaian yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi. Padahal selama 20 tahun ini WALHI terus menyuarakan bahwa KBU mengalami degradasi yang berlangsung terus-menerus,” tegasnya.

Wahyudin Iwang menambahkan, degradasi lingkungan di kawasan Cisarua dipicu oleh aktivitas alih fungsi kawasan dengan intensitas tinggi. WALHI mencatat setidaknya ada tiga jenis kegiatan utama yang memberi tekanan besar terhadap lingkungan.

“Yang paling tinggi itu aktivitas properti. Banyak izin dikeluarkan untuk perumahan, resort, vila, bahkan apartemen yang sifatnya betonisasi. Padahal kawasan itu sudah dinyatakan sebagai kawasan yang harus dilindungi dan dilestarikan sebagai kawasan resapan air dan hutan lindung,” jelasnya.

BACA INI JUGA : Tanpa Bocoran, dan Rumor Panjang, Persib Ucapkan Wilujeng Sumping Dion Markx

 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *