Joe Biden Kirim Rudal Cluster Munitions ke Ukraina, Ledakannya seperti Misil Beranak

Rudal Cluster Munitions
Tangkapan layar video twitter @Michael______T -

Jakarta, tandabaca.id –
Amerika segera kirim rudal Cluster Munitions ke Ukraina yang ledakannya seperti rudal Jericho, atau misil beranak di film Iron Man pertama.

Hal tersebut diungkapkan oleh Joe Biden selaku Presiden Amerika bahwa pihaknya segera mengirimkan rudal Cluster Munitions ke Ukraina karena rudal biasa telah kehabisan stok.

“Ini adalah perang yang berkaitan dengan amunisi. Dan mereka kehabisan amunisi serta kita juga kekurangannya,” kata Biden.

“Jadi, saya memberikan rekomendasi dari Departemen Pertahanan untuk tidak secara permanen, tetapi untuk memungkinkan masa transisi ini, sementara kami mendapatkan lebih banyak 155 senjata, peluru ini, untuk Ukraina,” katanya.

Biden mengatakan memberikan rudal Cluster Munitions keputusan yang sulit.

Presiden AS menambahkan bahwa rudal Cluster Munitions atau amunisi tandan diperlukan untuk meningkatkan kemungkinan serangan balasan Ukraina.

“Hal utama adalah mereka memiliki senjata untuk menghentikan Rusia, apakah itu mencegah Rusia menyerang Ukraina atau tidakn, saya pikir mereka membutuhkannya,” katanya.

Amerika pada hari Jumat secara resmi mengumumkan akan mentransfer rudal Cluster Munitions ke Ukraina, meskipun belum dikatakan secara pasti berapa banyak amunisi yang akan di kirimkan.

MISIL BERANAK

Farhan Haq selaku wakil juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, mengatakan bahwa Sekjen PBB mendukung Konvensi Munisi Tandan dan menentang penggunaan senjata jenis ini di medan perang.

Rudal Cluster Munitions merupakan rudal yang dapat berisikan ratusan submunisi.

Saat bom diledakkan di udara, ledakannya seperti misil beranak di film iron man –submunisi tersebar di area seluas puluhan meter persegi.

Beberapa di antaranya tidak langsung meledak dan tetap berada di tanah, menjadi ancaman bagi warga sipil lama setelah konflik berakhir.

Konvensi Munisi Curah, yang diadopsi pada tahun 2008, telah diikuti oleh 111 negara, dan 12 negara lainnya telah menandatangani tetapi belum meratifikasinya.

Menurut organisasi hak asasi manusia internasional Human Rights Watch, proporsi submunisi yang tidak meledak biasanya jauh lebih tinggi dari yang dinyatakan.

***

BACA INI JUGA
Perang Ukraina Masih Berkecamuk, Rusia Ganti Komandan Tempurnya Lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *