Jongos, Baboe, Mata-mata Garde Depan Perang Spionase

Garda Depan Perang Spionase
Foto ini terdapat dalam artikel Nederlandse moordcommando’s op Java karya Ronald Frisart di situs historiek.net.

Di masa penjajahan, jangan anggap remeh Jongos, Baboe, TNI mempekerjakannya sebagai mata-mata garda depan perang spionase.

Jakarta, tandabaca.id
Jongos-jongos ini melakukan segala macam pekerjaan untuk tentara Brigade T di pos terdepan di Tonjong, Jawa Tengah, 1949. TNI mempekerjakan mereka sebagai mata-mata garda depan dalam perang spionase.

Foto ini terdapat dalam artikel Nederlandse moordcommando’s op Java karya Ronald Frisart di situs historiek.net. Keterangan Bahasa Belanda di bawah foto menyebutkan; Jongos-jongos ini melakukan segala macam pekerjaan untuk tentara Brigade T di pos terdepan di Tonjong, Jawa Tengah, 1949. TNI mempekerjakan mereka sebagai mata-mata garda depan perang spionase. Foto koleksi pribadi/Herman Frisart.

Tonjong yang dimaksud adalah Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, saat ini. Sedangkan jongos adalah kata untuk menyebut orang-orang yang melakukan pekerjaan 3D (dirty, difficult, dangerous), tapi ayah saya mengartikan jongos dengan bahasa lebih lunak, yaitu pesuruh.

Sejarawan Remy Limpach, dalam buku Tasten in het duister, bercerita banyak tentang peran oang-orang ini dalam perang spionase. Mereka, bersama baboe, ada di setiap pangkalan tentara Belanda di sekujur Jawa dan Sumatera. Selain mereka, ada satu kelompok lagi yang juga memainkan peran penting dalam perang mata-mata, yaitu pelacur.

Dinas Intelejen dan Keamanan Belanda (IVG) dan Dinas Keamanan Brigade Marinir (VDMB) membentuk regu pembunuh untuk mengejar para jongos dan baboe yang ketahuan melakukan tindakan mata-mata. Tidak jarang regu pembunuh menangkap mereka saat masih di dalam tangsi militer, disiksa sampai mati untuk mengoreksi informasi.

Regu Pembunuh bentukan kedua lembaga militer Belanda itu bertugas di Jawa Timur dan Jawa Barat. Namun Remy Limpach mengendus keberadaan mereka di sekujur Jawa Tengah. Regu Pembunuh terdiri dari pribumi yang berjuang untuk Belanda, biasanya dari prajurit KNIL pribumi yang mengerti Bahasa Melayu dan Jawa. Lainnya adalah Indo-Belanda dan sedikit kulit putih yang lahir di Hindia Belanda.

JIKA KEPERGOK, DISIKSA SAMPAI MAMPUS

Regu Pembunuh masuk-keluar kampung mengejar orang-orang yang ditengarai sebagai mata-mata republik. Mereka meninggalkan mayat penduduk di jalan-jalan setiap kali masuk kampung. Jika kepergok TNI, Regu Pembunuh juga menghadapi nasib serupa; disiksa sampai mampus.

Sejarawan Remy Limpach, dalam buku itu, mengajukan pertanyaan seberapa efektif regu pembunuh bentukan intelejen dan marinir Belanda melakukan perang kontraintelejen. Ia menjawab sendiri pertanyaan itu dengan mengatakan tentu saja ada keberhasilan tapi seperti setetes air di lautan.

Intelejen Belanda itu, lanjut Limpach, seperti petinju dengan mata tertutup, yang memukul-mukul di ruang kosong. Banyak operasi militer Belanda gagal total karena TNI mengendus sejak masih perencanaan. Menurut Limpach, perang intelejen itu — para jongos, baboe, dan pelacur di garda depan — dimenangkan Indonesia.***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur

BACA INI JUGA
Baboe dalam Perang Dekolonisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *