Khas  

Munggahan Tetap Eksis, Kian Populer di Tengah Dinamika Masyarakat Modern

Tradisi Munggahan (Foto Mode AI)

BANDUNG, TANDABACA.ID – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026, suasana religius dan penuh kehangatan mulai terasa di berbagai penjuru tanah air. Salah satu fenomena yang tetap eksis dan justru kian populer di tengah dinamika masyarakat modern adalah Munggahan.

Tradisi unik masyarakat Sunda ini terbukti mampu menembus batas zaman, tetap lestari meskipun dijalankan oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar dengan segala kesibukannya.

Makna Mendalam di Balik Kata “Munggah”

Secara etimologi, kata “munggahan” berasal dari bahasa Sunda munggah atau unggah, yang berarti “naik” atau “meningkat”. Tradisi ini dimaknai secara simbolis sebagai upaya meningkatkan kualitas spiritual dan perjalanan iman dari bulan Sya’ban menuju bulan suci Ramadan.

Masyarakat diajak untuk membuka lembaran baru dengan hati yang bersih, meninggalkan kesalahan masa lalu, dan bersiap menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan.

Cara Masyarakat Modern Melestarikan Munggahan

Meskipun zaman telah berubah, nilai-nilai utama munggahan seperti silaturahmi dan rasa syukur tetap tidak tergoyahkan. Berikut adalah beberapa cara masyarakat urban di kota besar melestarikan tradisi ini:

Botram atau Makan Bersama:

Di tengah penatnya pekerjaan, warga di kota besar seperti Bandung seringkali menyempatkan diri untuk makan bersama (botram) di taman-taman kota atau rumah tinggal. Mereka saling bertukar hidangan seperti daging dan sayur untuk mempererat hubungan antar tetangga.

Ajang Silaturahmi di Tengah Kesibukan:

Bagi para perantau yang tinggal di kota besar, munggahan menjadi momen berharga untuk berkumpul kembali dengan keluarga besar, sahabat, atau kerabat dekat yang mungkin jarang ditemui di hari biasa.

Saling Memaafkan secara Langsung:
Sebelum memasuki puasa, momen ini digunakan untuk saling meminta maaf guna membersihkan hati dari hawa nafsu.
Persiapan Spiritual dan Doa:

Selain aspek sosial, masyarakat modern tetap menjalankan sisi religius dengan mengadakan pengajian atau doa bersama (sidekah/tahlilan) untuk mendoakan para leluhur yang telah tiada.

Ziarah Kubur:

Tradisi mengunjungi makam keluarga untuk mendoakan saudara tetap menjadi kebiasaan turun-temurun yang dilakukan satu atau dua hari sebelum hari pertama puasa.

Munggahan: Dulu vs Sekarang

Dahulu, tradisi ini mungkin lebih identik dengan ritual mandi di sungai atau keramas menggunakan tanah liat di pedesaan untuk menyucikan diri. Namun, saat ini pelaksanaannya jauh lebih fleksibel tanpa mengurangi kesakralannya. Di kota-kota besar, munggahan lebih berfokus pada penguatan ikatan sosial dan kesiapan mental menghadapi bulan penuh berkah.

Esensinya Mengedepankan Kebersamaan

Munggahan bukan sekadar acara makan-makan biasa, melainkan sebuah kearifan lokal yang berfungsi menjaga ketahanan sosial dan spiritual. Bagi masyarakat Sunda, baik di desa maupun di metropolitan, tradisi ini tetap relevan karena esensinya yang mengedepankan kebersamaan, rasa syukur, dan pembersihan diri. Di tengah arus modernisasi, munggahan menjadi pengingat bahwa jati diri dan silaturahmi adalah elemen yang tak boleh luntur oleh perkembangan zaman.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *