Jawara

ilustrasi dari seorang jawara (laman senibudayabetawi)

Jakarta, tandabaca.id
Sampe saiki, saya tuh masih bingung dengan istilah jawara. Sebab, nyaris tidak ada definisi jelas tentang kata yang satu ini. Di sisi lain, kalau mengacu pada sejarawan Barat, terutama Robert Cribbs dan Margreet van Till, saya akan diberi stigma sebagai orang yang colonial minded — atau berpikiran kolonial.

Akhirnya, saya putuskan menjadi orang awam — alias orang nggak tahu apa-apa — tapi punya definisi sendiri. Jawara, menurut saya, adalah jagoan kampung, penguasa kampung, orang yang bertanggung jawab atas keamanan kampung dari kemungkinan gangguan luar dan dalam.

Definisi ini menjadi amburadul ketika Mat Item, Si Pitung, dan perampok legendaris lainnya, juga disebut jawara. Menjadi sangat amburadul ketika pemimpin organisasi tukang palak di pasar-pasar juga disebut jawara. Setahu saya, pernah ada istilah lain untuk ketua organisasi pengumpul pungutan liar di pasar, yaitu kepala kuli.

Dulu saat kecil, jika ada ‘Kliningan’ — masih ada yang tahu kesenian yang sempat populer di kalangan kepala kuli di Cengkareng — saya selalu dengar; “Selamat datang Haji @+62 812-9094-5456, kepala kuli pasar darurat, Bedeng.”

Jadi, jawara itu apa. Ada yang bilang asal kata jawara adalah juara. Jika demikian harusnya ada kompetisi maen pukul atau perkelahian bebas macam di UFC untuk menentukan jawara?

Untuk yang satu ini, saya hanya dengar satu cerita. Alkisah, Tuan Tanah Kedawung — namanya masih saya cari — menggelar sayembara terbuka; siapa yang bisa mengalahkan jago nomor satunya akan dijadikan kepala keamanan di semua tanah parikelir miliknya.

Singkat cerita, munculah seorang pedagang singkong goreng yang didorong-dorong kawannya untuk naik panggung melawan sang jago. Konon, kata di empunya cerita, tukang singkong goreng itu hanya butuh enam atau tujuh gerakan untuk membanting unggulan sang tuan tanah. Seni bela diri si tukang singkong goreng itu disebut Beksi. Benar atau tidak cerita ini saya masih meneliti.

Si Tukang Singkong

Menariknya, si tukang singkong goreng itu tak pernah dimitoskan sebagai jawara. Ia seolah lenyap ditelan sejarah yang dinarasikan secara lisan.

Tahun 1946, saat terjadi pembantaian Cina Benteng — orang tuanya @+62 813-1135-2616 pasti menyebutnya zaman gedoran — ada jawara Tionghoa di Sepatan yang melawan Laskar Hitam, milisi brutal yang dipimpin tokoh komunis Haji Achmad Chaerun, dan menyelamatkan banyak orang.

Tentu saja jawara Tionghoa itu, maaf saya lupa namanya karena harus buka lagi tesis Ravando Lie yang berjudul It’s Time to Kill Chinese , jawara sesungguhnya dalam pengertian jagoan atau pendekar pelindung masyarakatnya.

Sekali lagi, sang jawara tak pernah ternarasikan dari mulut ke mulut. Bahkan, komunitas Tionghoa Benteng pun — sepanjang saya tahu — tak mewariskan kisah heroisme sang jawara.

Masih di tahun 1946, ketika gedoran meluas ke tengah dan menghantui komunitas Cina Benteng Udik, masyarakat Tionghoa di Rumpin — lokasinya jadi AEON Plaza ujung BSD saat ini — memutuskan mengungsi ke Desa Pasir Gadung di Bogor.

Menghadang

Di Desa Pasir Gadung, keluarga Cina Benteng asal Rumpin yang terdiri dari dua marga (saya harus baca lagi penelitian sejarawan UI tentang hal ini) disambut tangan terbuka warga dan kepala desa. Laskar Hitam mengejar. Kepala Desa Pasir Gadung memutuskan untuk menghadapi sekitar 100 personel Laskar Hitam sendirian.

Berbekal dua golok di tangan dan satu keris di belakang pinggang, sang kepala desa menghadang Laskar Hitam di tengah jalan desa. Orang bilang sang kepala desa itu sakti. Sebenarnya tidak. Sang kepala desa melakukan semua itu untuk memotivasi semua warga; komunitas Cina Benteng yang mengungsi dan penduduk setempat melawan dan saling menolong.

Laskar Hitam mundur. Pembantaian tidak terjadi. Berikutnya adalah sejarah pembauran masif. Sekali lagi sang kepala desa tidak ternarasikan dalam sejarah para jawara. Hilang begitu saja, sampai sejarawan UI menelitinya.

Jika demikian, siapakah para jawara? Saya akhirnya harus setuju pada Cribbs dan van Till, bahwa jawara itu ya penjahat kampung. Setidaknya, pemahaman ini berlaku mungkin sampai akhir era kolonial. Sebab, setelah itu — seperti yang saya saksikan di Rawa Bengkel era 1970-an — yang namanya jawara itu yah yang mengenakan topi laken dan jalan petantang petenteng.***

Oleh Teguh Setiawan penulis buku toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

BACA INI JUGA
Daendels Bayar Upah Pekerja Saat Bangun Jalan Anyer-Panarukan?
Antara Si Pitung dan Si Patai

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *