Rawa Bengkel

Rawa Bengkel
Ini peta Batavia en Omstreken tahun 1901. Dapat diakses di digitalcollections.universiteitleiden.nl.

Jakarta, tandabaca.id
Ini peta Batavia en Omstreken tahun 1901. Dapat diakses di digitalcollections.universiteitleiden.nl. Tiga nama yang dikurung Rawa Bengkel, Bamboe Rarangan dan Tjengkareng, adalah tempat bermain masa kecil gue.

Ini peta Batavia en Omstreken tahun 1901. Dapat diakses di digitalcollections.universiteitleiden.nl. Tiga nama yang dikurung itu adalah tempat bermain masa kecil gue.

Di peta lain tertulis Rawabengkel dan di era modern tertulis Rawa Bengkel, tempat bermain paling indah. Lainnya adalah Bamboe rarangan, tapi penduduk saat ini menyebutnya Bambu Larangan.

Kita lupakan saja. Nama itu berevolusi. Kita juga tidak tahu apakah ada arti kata rarangan. Sedangkan larangan adalah kata yang punya arti.

Yang juga jadi perdebatan adalah soal penyebutan Rawa Bengkel. Dengan é, atau dengan e.

Bengkel dengan é berhubungan dengan tempat reparasi kendaraan, perangkat elektronik, dan lainnya. Bengkel dengan e adalah kata tidak punya arti. Saya nggak tahu mana yang benar.

Dalam peta terlihat, Kampung Rawa Bengkel jauh dari jalan utama yang menghubungkan Tjengkareng dengan Tegal Alur dan Kamal. Ini memperlihatkan daerah tersebut tersebut adalah kampung petani penggarap yang bekerja di atas tanah partikelir.

Sebagai tanah partikelir, nama resmi Tjengkareng — dalam peta ini juga tertera — adalah Tjengkareng of Benteng Alang Alang. Of adalah kata dalam Bahasa Belanda yang artinya atau. Tanah partikelir dimiliki Cultuur-maatschappij Lie Tam Zoon Goan, dengan Ho A Tong sebagai huurder atau pengelola.

PENDUDUK RAWA BENGKEL

Penduduk Rawa Bengkel dan Bambu Larangan kemungkinan hanya ratusan, terdiri dari belasan keluarga, karena penduduk sekujur Cengkareng saat itu — lihat Regerings Almanak voor Nederlandsche-Indie 1903 — hanya 778 jiwa.

Jika dibanding Kalideres of Burgvliet dan Kamal of Tegalaloer, Tjengkareng relatif hanya hamparan sawah tak berujung, serta tanah-tanah kebun yang menghasilkan kacang dan kelapa. Kalideres saat itu dihuni 3571 jiwa dan Kamal of Tegal Aloer 3762 jiwa.

Saya memperkirakan pertumbuhan pesat penduduk di Cengkareng, khususnya di Bambu rarangan dan Rawa bengkel, terjadi setelah pembangunan kali pengairan — yang membelah Rawa Bengkel. Kali pengairan dibangun tahun 1927, berbarengan dengan pembangunan pintu air Tangerang.

Namun, Cengkareng — wilayah yang kini menjadi pasar dan sekitarnya — masih relatif sepi. Kantor Asisten Wedana, kini menjadi Kantor Kecamatan Cengkareng, berdampingan dengan pos polisi.

Begitulah kampung gue, yang kini menjadi permukiman padat dengan teman masa kecil yang terus menyusut.***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur

BACA INI JUGA
Wewe Gombel atau Kalong Wewe era Renaisans

 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *