Bandung, tandabaca.id
Budaya sunda mati suri, tokoh jawa barat Momon Abdurohman siap tumbuh kembangkannya kembali, mengingkat dulu pernah diperintahkan untuk angkat budaya leluhur lewat lembaga Sunda Medal.
Nggak tanggung-tanggung, tugas itu diperintahkan langsung oleh sesepuh Jawa Barat Solihin GP. Jelang yang bersangkutan, mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur periode 1970-1975.
Entah apa alasan, tugas itu langsung diberikan Solihin GP kepada Kang Haji Momon (KHM). Padahal, saat itu, yang diberikan perintah hanya karyawan kecil.
“Karena waktu itu, saya karyawan paling rendah di situ, jadi saya nggak bisa menolak. Siap aja. Walaupun waktu itu, saya belum mengerti apa yang harus dilaksanakan. Namanya aja Sunda Medal, tetapi orang sunda kan biasa, yang penting terima dulu tanggungjawabnya. Setelah itu, baru kita cari ilmunya,” katanya, Rabu 7 Februari 2024.
Cerita itu diungkap Kang Haji Momon, kepada tandabaca usai acara Ngarumpi (ngariung bari ngopi) jeung Kabayan di Hotel Lodaya, Kota Bandung.
Di era Gubernur Aang Kunaefi tugas untuk menggebyarkan kembali budaya sunda dilaksanakan KHM, dan sukses. Momennya dengan membuat panggung-panggung pertunjukkan seni tradisional di acara CFD atau car free day.
“Karena waktu itu pemikiran saya, melalui jalur ini seni budaya sunda bisa terangkat kembali, kan waktu itu seni sunda sangat susah sekali untuk mendapatkan tempat untuk pentas.”
“Saat itu era peralihan, musik barat masuk, musik lokal nggak dipakai. Alhamdulillah, responnya baik, karena kan CFD itu dikunjungi banyak orang,” bebernya.
Bahkan, tidak hanya budaya sunda yang tampil di panggung-panggung hiburan CFD,tetapi juga budaya-budaya suku-suku lain yang ada di Indonesia.
“Saya kan memonitor juga orang-orang yang datang di kegiatan CFD itu. Katanya, sunda wae bosen,” kritik pengunjung.
“Akhirnya saya masukkan itu seni daerah lainnya Ponorogo, seni Batak, seni Padang,” bebernya.
Pelaku seninya, suku asli kesenian tradisional itu.
“Kan, banyak mahasiswa di Bandung, punya perkumpulan kesenian, lalu saya tampilkan,” terangnya.
Mengangkat Derajat Orang Sunda
Namun, seiring berjalannya waktu, gebyar seni tradisi di acara CFD itu nggak lanjut. Semangat untuk menggebyarkan seni asli sunda lewat Sunda Medal pun surut.
“Ini awal, era baru, jadi saya akan melembagakan, ieu. Bismillah ya. Sebab yang dulu itu pernah eksis tapi leungit, leungit kamana weh, kacandak batur.”
“Hari ini (di acara ngarumpi) saya punya niat dengan kang Kabayan (Porta Kabayan). Yuk, kita Bismillah, mengangkat derajat orang sunda, lewat budaya, lewat ekonomi, adat istiadat dan sebagainya,” ungkapnya di awal acara.
Sunda Medal itu, kata KHM, bukan hanya sekedar mengangkat seni budaya, tetapi semua, makro.
“Walaupun yang hadir disini aki-aki eungkeul, tapi saya lihat semangatnya masih bagus,” tambahnya.
Harapan KHM setelah acara itu, ada pertemuan-pertemuan lanjutan, duduk bersama, lalu dibuatkan program yang jelas untuk membuat lembaga Sunda Medal.
“Ini awal, masih transisi, kita tidak mau terlalu banyak dahulu, takut seperti kemarin. (maaf), hanet hanet tai ayam, sekarang menggebu-gebu terus ilang lagi, kita jangan sampai begitu, saya tidak mau, alon-alon asal kelakon,” terangnya.***















Response (1)