Duet di Atas Panggung: Saat ‘Ayah’ dan Visi Padel Madiun Bersatu dalam Satu Harmoni

MADIUN, TANDABACA.ID – Di bawah sorot lampu panggung yang telah ditata rapi oleh panitia penyelenggara, dua sosok duduk berdampingan. Bukan dalam posisi yang berseberangan, melainkan saling melengkapi. Bersatu dalam satu Harmoni.

Di satu sisi, Drs H. Yuswanto, sang pemilik lapangan padel sekaligus visioner di balik proyek ini; di sisi lain, Ebiet G. Ade, legenda musik folk Indonesia. 

Mereka  tidak sekadar berbagi mikrofon. Mereka berbagi momen transisi.

Ketika Ebiet mulai melantunkan lagu Ayah, suaranya tidak menggema di ruang hampa. Ia menyatu dengan kehadiran Drs H. Yuswanto yang duduk di sebelahnya—simbol nyata bahwa “pulang” bagi generasi muda Madiun kini memiliki wujud baru: sebuah lapangan padel yang dibangun dengan dedikasi, tempat mereka bisa menemukan rumah dalam setiap reli dan tawa.

Panggung sebagai Simbol Kolaborasi

Panggung itu sendiri adalah metafora yang sempurna. Disiapkan dengan teliti oleh panitia penyelenggara, ia bukan sekedar tumpukan kayu dan kabel. Ia adalah representasi dari kerja keras kolektif—dari tangan-tangan yang memasang truss, mengatur tata suara, hingga memastikan setiap detail peresmian berjalan khidmat. Di atas panggung itulah, visi pribadi Drs H. Yuswanto bertemu dengan jiwa seni Ebiet G. Ade.

Drs H. Yuswanto ikut bernyanyi, dan kehadirannya di sana adalah bagian dari lagu itu sendiri. Setiap bola padel yang akan diputar di lapangannya kelak adalah respon terhadap lirik-lirik kerinduan yang dinyanyikan Ebiet. Sang pemilik membangun wadahnya; sang seniman mengisi ruhnya. Dan panitia? Merekalah arsitek tak terlihat yang membuat pertemuan kedua elemen ini mungkin terjadi.

Lebih Dari Sekadar Peresmian

Kritikus mungkin melihat ini sebagai acara seremonial biasa. Namun, mereka yang hadir di hadapan panggung itu memahami bahwa ini adalah cerminan identitas.

Di Madiun, kemajuan tidak pernah datang dengan memberikan kehangatan. Drs H. Yuswanto tidak hanya membangun fasilitas olahraga; ia membangun ruang komunitas. Dan ketika Ebiet G. Ade memilih “Ayah” sebagai soundtrack-nya, ia sedang menegaskan bahwa ruang itu akan diisi dengan nilai-nilai yang sama: kesetiaan, pengorbanan, dan rasa memiliki.

Duet di atas panggung itu—antara penyanyi dan pemilik lapangan, di antara persiapan panitia yang tak kenal lelah—adalah janji. Bahwa padel di Madiun tidak akan menjadi olahraga yang dingin dan elitis. Ia akan menjadi olahraga yang dipeluk, seperti seorang anak yang memeluk ayahnya setelah lama pergi.

Saat lagu berakhir dan tepuk tangan meledak, Drs H. Yuswanto tersenyum. Ebiet mengangguk hormat. Panitia menarik napas lega. Di atas panggung yang mereka ciptakan bersama, sebuah era baru tidak hanya dimulai. Ia merayakannya. (gus)

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *