NOUMEA, TANDABACA, ID – Di sudut Pasifik Selatan, jauh dari tanah air, suasana Lebaran tetap terasa hangat. Di Noumea, Kaledonia Baru, ratusan warga Indonesia berkumpul, membawa satu hal yang tak pernah lekang oleh jarak: tradisi. Halal Bihalal
Sekitar 160 orang hadir dalam perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah yang dirangkaikan dengan halal bihalal. Mereka datang dengan wajah sumringah.
Kegiatan ini dihadiri oleh Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK), dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Noumea (KJRI Noumea) berpartisipasi pada kegiatan Perayaan Idul Fitri dan Halal Bihalal tersebut.
Acara ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkenalkan budaya dan tradisi Indonesia kepada masyarakat luas di Kaledonia Baru. Secara khusus, kegiatan ini menitikberatkan pada pelaksanaan tradisi halal bihalal sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan di antara warga.
Tak sekadar berkumpul, acara ini menjadi ruang untuk “pulang”—bukan secara fisik, tetapi secara rasa.
Di tengah suasana penuh keakraban, satu per satu tangan saling berjabat. Kata maaf terucap, bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai jembatan hati yang mempererat hubungan di perantauan.


BACA INI JUGA : Jejak Jawa di Kaledonia Baru :130 Tahun Kisah yang Tak Pernah Usai
Konsul Jenderal RI di Noumea, Bambang Gunawan, mengingatkan pentingnya menjaga tradisi di tengah kehidupan diaspora.
“Marilah kita jadikan momen ini sebagai upaya untuk nguri-uri tradisi, sekaligus menjaga nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai tanggung jawab kita bersama, membuka hati, mempererat hubungan, dan memelihara semangat kebersamaan, sebagai wujud syukur atas hikmah dan pembelajaran dari setiap penuh puasa,” ujarnya.

Dentuman rebana pun mengalun, menghadirkan nuansa khas Indonesia yang seakan menghapus jarak ribuan kilometer dari tanah air.
Bagi generasi muda keturunan Indonesia, momen ini menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ini adalah ruang belajar—tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang perlu mereka jaga.
Di tanah rantau, halal bihalal bukan hanya tradisi. Ia adalah pengikat, pengingat, sekaligus penguat bahwa Indonesia selalu hidup—di mana pun warganya berada.
Melalui penyelenggaraan acara ini, diharapkan tradisi halal Bbhalal dapat terus dilestarikan serta menjadi jembatan dalam memperkenalkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. (gus)
BACA INI JUGA : 96 Ribu Pejabat Negara Belum Lapor LHKPN 2025, MAKI Desak KPK Umumkan Daftarnya













