Ketika Daendels Menggeser Bandung

TOPONIMI

Daendels Menggeser Bandung
Ketika Daendels Menggeser Bandung

Bandung, tandabaca.id
Tahun 1933, pemukim Belanda di Bandoeng dikejutkan munculnya artikel panjang di majalah Tropisch Nederland Edisi 23 tanggal 6 Maret, yang mengulas tentang kota mereka.

Artikel itu, ditulis SA Reitsma, tidak hanya memuji Bandoeng sebagai kota paling layak mukim, tapi juga mengupas sejarah yang tak banyak diketahui.

Situs javapost.nl 26 Oktober 2011 menurunkan lagi tulisan menarik itu dan masih menarik perhatian banyak orang. Terutama orang-orang Belanda yang mewariskan cerita tentang Bandoeng dari nenek moyangnya.

Reitsma tidak sekedar memuji Bandoeng sebagai kota yang menempati posisi luar biasa di Hindia-Belanda. Bandoeng, menurutnya, muncul sebagai kota ketika pedagang-pedagang Belanda lebih suka menetap di permukimanan permanen di wilayah pesisir dan tidak berpikir tinggal di pedalaman dengan sarana transportasi dan infrastruktur serba terbatas.

Ketika Reitsma menulis artikel itu, Bandoeng relatif masih sangat muda, alias baru berusia seratus tahun. Sebab, Bandoeng saat itu — dan yang kita kenal saat ini — bukan kota peninggalan era Kerajaan Pajajaran tapi sebuah kota kolonial.

Pada 25 Mei 1810 Gubernur Jenderal Herman William Daendels memindahkan desa induk Bandung ke lokasi saat ini, yaitu pertemuan Grote Postweg dan Sungai Cikapundung.

JA van der Chijs, dalam Nederlandsch-Indie Plakaatboek, mencatat Landdrost dari Jacatrasche Preanger Bovenlanden menyatakan telah mendengar bahwa desa utama di Bandoeng dan Praccamoentjang (Parakanmuncang – red) terletak jauh dari jalan baru, sehingga mempengaruhi pekerjaan Jalan Raya Pos yang mulai dibangun pertengahan 1808.

Ada usulan memindahkan permukiman utama itu dari Bandoeng ke Cikapundung dan dari Praccamoentjang ke Andawadak, yang terletak di sisi Jl Raya Pos dan sangat sesuai untuk keperluan. Relokasi juga akan mempromosikan budaya berbeda karena kesesuaian tanah di lokasi.

Sesuai rekomendasi, masih menurut Plakaaatboek, diputuskan untuk memindahkan desa-desa utama di Bandoeng ke Cikapundung dan dari Parakanmuncang ke Andawadak.

PERKEMBANGAN BANDOENG

Situasi politik Hindia-Belanda yang tidak biasa saat itu menyebabkan relokasi Bandoeng nyaris tak terlihat. Hindia-Belanda di bawah Daendels secara de jure jajahan Prancis. Inggris berusaha menaklukan untuk mencekik Prancis dan mengakhiri Perang Napoleon.

Akibantya, sampai lebih 30 tahun setelah Daendels menggeser Bandung, ibu kota Jawa Barat yang kita kenal saat ini hanya memiliki sembilan pemukim Eropa, 13 orang Tionghoa, 30 orang Arab, dan 11 ribu pribumi asli.

Bandoeng mengalami kemajuan signifikan tahun 1862, setelah menggantikan Cianjur sebagai ibu kota Kabupaten Preanger. Tahun 1884, Bandoeng kian bergengsi setelah jalur kereta api dibuka. Bengkel kereta api juga berada di Bandoeng.

Koneksi mudah dengan Batavia terjalin melalui Buitenzorg, yang diperluas melalui Cilacap, Djokja (Yogyakarta – red), Solo, Semarang, Surabaya, dan sudut paling timur Pulau Jawa.

Namun, Bandoeng tetap kota pedalaman. Sensus 1905 menunjukan Bandoeng dihuni 48 ribu orang, tapi hanya ada 2.000 orang Eropa di dalamnya. Tahun 1933, ketika Reitsma menulis artikel panjangnya, Bandoeng dihuni 160 ribu jiwa dengan 20 ribu orang Eropa di dalamnya.

Terjadi peningkatan pemukim Eropa sepuluh kali lipat dalam kurun 28 tahun. Sedangkan jumlah penduduk secara keseluruhan meningkat tiga kali lipat.

Ada beberapa penyebab terjadinya peningkatan populasi. Pertama, pemindahan Departemen Perang. Kedua, pemindahan perusahaan negara; Perkeretaapian, Tenaga Air dan Listrik, Perusahaan Pos, Telegraf dan Telepon, dan Perusahaan Pertambangan.

Lainnya adalah pendirian Technische Hoogeschool, HBS dengan kursus lima tahun, HBS untuk anak perempuan, Christelijk Lyceum, sekolah kejuruan (MULO), dan lainnya. Pada akhirnya, perluasan budaya pada periode ini berpengaruh tidak kecil terhadap pertumbuhan dataran tinggi Preanger.

PERKEMBANGAN TERHENTI

Sampai 1906, Bandoeng dipimpin assiten residen. Setelah 1 April 1906, Bandoeng punya Dewan Kotamadya yang beranggotakan delapan orang Eropa, dua pribumi, dan satu Tionghoa. Asisten residen EA Maurenbrecher terpilih menjadi ketua dewan kota, dan selanjutnya menjadi walikota pertama.

Menarilnya, SA Reitsma, penulis artikel di Tropisch Nederland, juga pernah menjabat walikota Bandoeng 1921-1928. Sedangkan N. Beets menjadi orang Belanda terakhir yang memimpin Bandoeng antara 1942-1945.

Perkembangan Bandoeng akhirnya terhenti ketika pemerintah Hindia-Belanda memutuskan pusat pemerintah Jawa Barat di Batavia, bukan Bandoeng. Keputusan yang sempat mendapat protes, tapi pemerintah Hindia-Belanda punya alasan historis.***

Oleh Teguh Setiawan, penulis buku toponimi

BACA INI JUGA
Mushola Kapten Orang Bali Muhammad Abdul Latif di Blandongan

Ketika Daendels Menggeser Bandung

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *