Orang Armenia di Batavia

TOPONIMI

Orang Armenia di Batavia

Jakarta, tandabaca.id
Foto di atas adalah Gerja St Johannes, satu-satunya saksi tak berbekas tentang kehadiran orang Armenia di Batavia era VOC dan Hindia Belanda. Orang Jakarta masih melihat gereja ini sampai 1961, setelah itu lenyap ditelan penataan ulang kota Jakarta.

Dalam peta Hindia-Belanda, gereja terletak di Koningsplein. Dibangun tahun 1852 dan diresmikan 1857, untuk menggantikan gereja kayu St Hripsimen yang dibangun 1831 dan terbakar ludes 1841.

Bersama De Papanger, Armenia adalah populasi mungil di Hindia-Belanda. Di Batavia, jumlah mereka antara 400 sampai 500 orang. Populasi terbesar ada di Surabaya, tapi jumlahnya tak diketahui.

Yang membedakan mereka dari minoritas lain adalah seluruh dari mereka adalah pedagang, pemilik toko di Pasar Baru, Weltevreden, kawasan sekitar Koningsplein dan Molenvliet. Komunitas mereka mengelompok di permukiman elite Weltevreden dan kaya raya.

Orang Armenia di Batavia itu, kini memiliki negara yang bernama Republik Armenia, adalah salah satu bangsa paling menderita. Mereka mati-matian menahan gempuran Persia, tanpa mendapat bantuan Romawi, dan kalah. Sebagian dari mereka dipindahkan ke Isfahan dan membentuk New Julfa.

Ketika Kekaisaran Utsmaniah memperluas kekuasaan ke Asia Tengah dan Kaukasus, Armenia dianeksasi. Setelah Uni Soviet berdiri, Armenia dicaplok Bolshevik dan menjadi bagian imperium komunis.

Armenia adalah diaspora. Mereka menyebar ke berbagai negara Eropa. Ada yang dibuang ke Lebanon, dan wilayah Utsmaniah lainnya, karena memberontak. Mereka yang berasal dari Persia menjelajah ke berbagai negara Asia, terutama India dan kawasan Asia Tenggara.

Mereka yang datang ke Batavia dan India berasal dari New Julfa di Isfahan, karena VOC memiliki pos dagang di Persia sejak abad ke-17. Saat ke Isfahan, Iran, tahun 2003 saya sempat melewati Gereja Armenia.

Di Batavia, mereka melewati Perang Dunia II dengan mengenaskan. Keluarga mereka dimasukan ke Kamp Adek, kamp interniran untuk warga Eropa dan Belanda yang dibentuk Jepang. Sebanyak 100 orang Armenia menjadi prajurit KNIL dan tewas saat menghadapi Jepang.

GEREJA ST JOHANNERS

Usai Perang Dunia II, menurut indischhistorisch.nl, beberapa dari mereka tewas di tangan pribumi yang melancarkan aksi balas dendam terhadap pemukim kulit putih, lainnya melanjutkan tradisi diaspora; menyebar ke AS dan Australia, hanya beberapa yang pulang ke kampung nenek moyang di Isfahan. Tidak ada yang tersisa di Republik Indonesia sampai 1950, atau setelah penyerahan kedaulatan.

Mereka meninggalkan Gereja St Johannes yang indah, dengan sejumlah pendeta yang bertahan untuk mengurus. Tahun 1961, akibat kesulitan dana untuk pemeliharaan, para pendeta menjual Gereja St Johannes ke pemerintah Indonesia.

Saat itu, gedung baru Bank Indonesia — yang terletak di sebelahnya — selesai dibangun. Tahun 1962, menurut arkeolog dan sejarawan Chandrian Attahiyat, pemerintah Indonesia membongkar Gereja St Johannes untuk pelebaran jalan. Kisah komunitas Armenia pun berakhir.

Namun, menurut penutur sejarah Jakarta almarhum Alwi Shahab, tidak seluruh orang Armenia meninggalkan Batavia. Ada satu yang tertinggal, yaitu seorang perempuan yang menetap di Gg Scott, kini Jl Budi Kemuliaan.

Alwi Shahab, karena usia tua, tak mengingat nama perempuan Armenia itu. Yang ia ingat hanya wajahnya yang jelita dan bertubuh tinggi. Perempuan Armenia itu menjadi mualaf, menyandang nama Farah, dan dinikahi saudagar Arab Saleh Bisyir.

Rumah tangga keduanya tak berlangsung lama karena Saleh Bisyir meninggal pada usia relatif muda. Farah, menurut Alwi Shihab, menikah lagi dengan seorang menteri kabinet Orde Baru.

Tidak ada informasi siapa menteri itu, dan apakah mereka memiliki keturunan. Jika kabar yang disampaikan Alwi Shihab benar, setidaknya kita masih akan menyaksikan living heritage eksistensi Armenia di Indonesia.***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur

BACA INI JUGA
Ketika Daendels Menggeser Bandung

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *