Mushola Kapten Orang Bali Muhammad Abdul Latif di Blandongan

TOPONIMI

Mushola Kapten Orang Bali
Mushola Kapten Orang Bali Muhammad Abdul Latif di Blandongan

Jakarta, tandabaca.id
Penulis Oude Batavia Platen Album 1919 menyebutnya Oud-Hollandsch koepeltje atau Kubah Belanda Kuno. Keterangan lain, terdapat dalam Oude Batavia Volume II, menyebutkan Kubah Belanda Kuno yang terletak di Gang Blandongan ini adalah rumah bermain.

Sebagai tempat bermain, rumah berdiri di atas panggung, dan di bawahnya saluran air yang mengarah ke kali atau. Jika tak digunakan sebagai tempat bermain, rumah berfungsi sebagai pemandian karena air limbah langsung turun ke saluran.

Di Batavia Lama, rumah-rumah seperti ini tak banyak. Dokumentasi lebih awal menyebutkan rumah sejenis terdapat di Molenvliet Oost, atau Jl Hayam Wuruk, tepi Kali Krukut, dan di Tandjongpriok.

Johannes Rach, pelukis Denmark yang mengabadikan suasana Batavia era VOC ke atas kanvas, pernah melukis salah satunya. Sayangnya, sejarawan Van Linschoten tak dapat mengidentifikasi letak rumah bermain itu.

Rumah Bermain di Gang Blandongan, menurut penulis Oude Batavia Volume II, adalah permata dari jenisnya. Kita bisa membayangkan kegiatan apa yang dilakukan pemiliknya sebelum rumah menjadi mushola. Mungkin menghabiskan waktu dengan minum teh sambil ngobrol, atau hal-hal lain.

MENJADI MUSHOLA

Tidak ada keterangan siapa yang membangun rumah ini. Juga tidak ada informasi pemilik terakhir rumah penanda zaman ini. Yang pasti, saat ditemukan rumah ini telah menjadi musholla tak digunakan lagi.

Mohammad Abdul Latif, kapten Masyarakat Bali di Kampung Angkee, diduga membeli rumah ini — berikut satu rumah di depannya — sebagai tempat tinggal. Ia mengubah rumah bermain menjadi mushola dengan menambah mihrab atau relung dan memanfaatkan saluran untuk tempat berwudlu.

Abdul Latif menjadi kapten masyarakat Bali di Kampung Angkee antara 1772 sampai 1800. Setelah itu kabar tentang dirinya tidak ada lagi. Tidak diketahui sampai kapan dia tinggal di rumah depan mushola. Warga sekitar kemungkinan masih menggunakan mushola itu sampai pergantian abad, setidaknya sampai bangunan itu tak layak lagi digunakan.

Menariknya, saat didokumentasikan tahun 1919, identitas Belanda pada mushola itu masih utuh. Desain pintu dan jendela yang berasal dari abad ke-18, ambang pintu dari batu Cornmandel dengan deretan ubin putih di bawahnya.

Seperti Blandongan, identitas etnis Bali yang masih bertahan sampai dekade kedua abad ke-20, mushola Kapten Bali Mohammad Abdul Latif tergerus kerakusan kota.***

Oleh Teguh Setiawan penulis buku toponimi Jakarta Barat

BACA INI JUGA

Blandongan

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *