Barongan, menurut banyak pemerhati sejarah kebudayaan Betawi, adalah nenek moyang ondel-ondel. Kemiripan, terletak pada warna wajah, hiasan kembang kelapa, dan warna-warna pakaian.
Oleh Teguh Setiawan, penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur.
Keterangan di atas foto yang terdapat di situs digitalcollections.universiteitleiden.nl pendek saja, yaitu Barongandans te Batavia. Mengacu kata ‘dance’ dalam keterangan di bawah foto, arti teks foto itu kemungkinan Tari Barongan di Batavia.
Foto dibuat CM Pleyte tahun 1900. Tempat foto dibuat tidak diketahui. Yang juga tidak diketahui adalah dalam acara apa Tari Barongan di Batavia ini digelar.
Sejenak perhatikan dua Barongan dalam foto itu. Wajah dua boneka raksasa itu berbeda dengan ondel-ondel. Jelasnya, barongan lebih menyeramkan dan cenderung mengandung mistis.
Dalam catatan perjalanannya ke Batavia, W Scott — seorang pedagang Inggris — mencatat barongan telah ada sejak 1605. Namun Scott tidak merinci seperti apa wajah barongan, dan untuk apa penduduk menggunakannya.
Mita Purbasari Wahidiyat, dalam buku Ondel-ondel Sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi, menulis barongan berasal dari tradisi masyarakat Bali. Barongan, dalam tradisi Bali, adalah perwujudan danyang, atau roh halus pelindung desa.
Di Batavia, terdapat banyak permukiman masyarakat Bali. Nama Kampung Bali terdapat di banyak tempat di Jakarta. Selain itu ada Bali Mester dan Kampung Gusti.
Barongan kemungkinan muncul di masyarakat Bali yang bermukim, atau dimukimkan pemerintah VOC dan Hindia-Belanda di banyak tempat di Batavia. Ketika desa dilanda wabah penyakit, barongan akan keluar dan diarak keliling desa untuk menolak bala. Sebelum diarak, barongan akan diasapi agar prosesi berjalan lancar.
Akulturasi
Barongan, menurut banyak pemerhati sejarah kebudayaan Betawi, adalah nenek moyang ondel-ondel. Kemiripan barongan Bali dan ondel-ondel Betawi, seperti ditulis Mita Purbasari Wahidiyat, terletak pada warna wajah, hiasan kembang kelapa, dan warna-warna pakaian.
Tapi ada juga pengaruh Tiongkok, yaitu pada teknik mengggerakannya, alat musik, dan penggunaan petasan agar meriah.
Paramitha Rahayu Abdurachman, dalam Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia, mengatakan boneka yang kini kita sebut ondel-ondel serupa dengan boneka dalam perayaan di Portugal.
Boneka itu hadir dalam pawai keagamaan yang diiringi kelompok musik atau tangedores (baca: tanjidor) yang membawa berbagai alat musik; tambur Turki, tambur sedang (pandore), seruling, dan bermacam terompet.
Menjadi Ondel-ondel
Memasuki abad ke-19, pemukim Bali yang semakin mapan berbaur dengan masyarakat lokal dan menjadi Muslim. Dalam banyak literatur disebutkan, kapten masyarakat Bali di Angke dan Pekojan adalah Muslim. Di Angke, mereka membangun masjid sendiri dan terpelihara sampai saat ini.
Namun, mereka juga mempertahankan sebagian tradisi lama. Salah satunya barongan. Pembuatan barongan harus diawali ritual tertentu; penyediaan sesaji berupa kemenyan, kembang tujuh rupa, dan bubur sumsum.
Menurut Kemdikbud, seperti tertera dalam situs indonesiakaya.com, ritual serupa juga diterapkan dalam pembuatan ondel-ondel dan bertahan sampai 1980-an. Memasuki 1990-an, ritual itu mulai ditinggalkan dengan berbagai alasan.
Tidak diketahui sampai kapan barongan bertahan di masyarakat Betawi yang multikultur. Jika mengacu pada foto di atas, bukan tidak mungkin sampai 1950-an orang-orang di Jakarta masih menyebut boneka itu barongan.
Sebagai barongan, yang dibuat dengan ritual tertentu, boneka itu diperkirakan masih menyeramkan dan mistis. Barongan kemungkinan masih berfungsi sebagai danyang, atau perwujudan roh halus penjaga kampung.
Yang juga tidak diketahui adalah kapan orang Betawi meninggalkan akta barongan dan menyebut boneka itu ondel-ondel. Asumsi paling mungkin adalah sejak 1970-an, setelah lagu Ondel-ondel yang dinyanyikan Benjamin S populer di masyarakat.
Ritual Pengasapan
Sebagai ondel-ondel, boneka seukuran manusia itu bukan lagi danyang, atau perwujudan roh halus penjaga kampung, tapi boneka yang menghibur penduduk. Tidak ada lagi ritual pengasapan sebelum mengarak ondel-ondel, tapi pembuatan ondel-ondel masih diawali dengan penyediaan sesajen, bakar kemenyan, dan kembang tujuh rupa.
Perubahan paling mencolok terjadi setelah Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menjadikan ondel-ondel sebagai ikon Jakarta dan dekorasi kantor gubernuran. Wajah ondel-ondel, yang semula menyeramkan dan beraroma mistis, menjadi manis, bersahabat, dan lucu.
Evolusi berikut adalah masuknya pengaruh Islam ke dalam tubuh ondel-ondel. Ada ikat pinggang bermotif sarung kotak-kotak, yang mengingatkan orang pada pemuda pesantren dan pendekar silat Betawi, dan lainnya.
Biasanya, ondel-ondel muncul saat perayaan. Belakangan, ondel-ondel — dengan iringan musik dari tape digital — berkeliling kampung, menari-nari di depan orang banyak, dengan harapan mendapat saweran dari penduduk.
Ondel-ondel disewakan oleh pemiliknya sebagai alat untuk mengemis.***










Response (1)