Siesta

Siesta
Foto ini terdapat diambil dari situs digitalcollections.universiteitleiden.nl. Sederet toko di sebelah kanan gambar terlihat tutup. Itu mengindikasikan foto diambil pada tengah hari, atau selepas pukul 12:00 siang atau saat pemiliknya makan siang.

Jakarta, tandabaca.id

Perhatikan foto hitam-putih suasana Pasar Baroe tahun 1930 di atas. Foto ini terdapat di situs digitalcollections.universiteitleiden.nl. Sederet toko di sebelah kanan gambar terlihat tutup. Itu mengindikasikan foto diambil pada tengah hari, atau selepas pukul 12:00 siang atau saat pemiliknya makan siang.

Usai makan siang, pemilik tak langsung membuka kembali toko tapi tidur siang satu atau dua jam, atau mungkin lebih. Toko dibuka kembali jelang sore, sekitar pukul 15:00. Malam hari, toko akan tutup pukul 20:00 atau 21:00 WIB.

Itulah kebiasaan penduduk Batavia. Kebiasaan yang diperkirakan muncul sejak Nusantara di bawah kuasa Kerajaan Belanda, atau mungkin lebih jauh lagi, yaitu sejak era VOC.

Orang Belanda menyebut kebiasaan itu siesta, kata dalam Bahasa Spanyol yang artinya tidur siang. Saya nggak tahu mengapa orang Belanda tidak menggunakan dutje, kata dalam Bahasa Belanda yang artinya tidur siang, untuk menyebut kebiasaan mereka di tanah jajahan.

Saya mengenal kata ini pada dekade pertama karier wartawan saya di Republika. Saat itu saya ikut dalam rapat perencahaan rubrik, dan seorang kawan mengusulkan kata siesta sebagai nama rubrik.

Siesta dan Bantal Guling

Ketika mulai membangun industri pariwisata, pemerintah Hindia-Belanda menerbitkan buku panduan bagi pelancong asing. Siesta menjadi salah satu bahasan dalam buku itu.

Achmad Sunjayadi, dalam Pariwisata di Hindia Belanda 1891-1942, menulis siesta juga menjadi bahasan menarik yang ditulis pelancong mancanegara.

Pemerintah Hindia Belanda menyarankan siesta kepada wisatawan asing. Alasannya, Batavia tengah hari bolong sangat panas, yang membuat aktivitas di luar rumah tak nyaman. Orang Belanda itu seperti kucing, yang akan tidur saat udara panas.

Alih-alih mematuhi saran pemerintah, wisatawan justru ingin tahu suasana Batavia di siang hari. “Usai makan siang, hampir semua toko di Batavia tutup,” tulis Jagat Sit Singh, wisatawan India, dalam catatan perjalanan ke Batavia tahun 1920-an.

Fernand Bernard, perwira AL Prancis yang singgah di Batavia awal abad ke-20, keliling kota usai makan siang. Ia mengamati orang-orang tidur di bawah pohon, di beranda rumah, atau di bale-bale di halaman rumah.

Threes Susilastuti, dalam Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe, menyebut siesta sebagai budaya indisch. Tidur siang adalah cara orang Belanda menyesuaikan diri dengan iklim tropis.

Dari siesta, menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru, lahir bantal guling. Semula, bantal guling disebut dutch wife, atau istri Belanda.

Sebab, bantal guling dimiliki orang Belanda kelas menengah ke bawah yang ogah bergundik karena taat beragama atau tak tertarik dengan perkawinan antaras, serta bermimpi kembali ke Belanda dan menikah dengan kulit putih.

Batavia tidak hanya dihuni orang Belanda dan keturunan, tapi juga Arab, Tionghoa, dan pribumi. Orang Arab punya alasan lain untuk tutup toko tengah hari bolong, yaitu shalat dzuhur dan makan siang. Setelah itu leyeh-leyeh.

Pribumi Muslim, yang jadi jongos di rumah orang Belanda, ikut-ikutan apa kata tuan. Tionghoa tak kenal siesta. Saat semua toko tutup, pedagang Tionghoa tetap beraktivitas.

Siesta Hilang, Bobo Ciang Muncul

Saya nggak tahu kapan siesta hilang. Kemungkinannya setelah tahun 1960-an, atau ketika Jakarta mulai kebanjiran pendatang dari kota-kota di sekujur Pulau Jawa. Masyarakat di desa-desa di Pulau Jawa tak kenal siesta.

Namun, saat saya menjadi wartawan di Serang tahun 1994, saya kaget bukan kepalang ketika kantor pemerintah lengang tanpa mahluk hidup setelah makan siang. Saya tak tahu harus bertanya kepada siapa.

Setelah pukul 15:00, muncul beberapa karyawan. Saya bertanya kepada salah satunya; ke mana pegawai pergi usai makan siang. Jawabnya; “Pulang dan tidur siang.”

Saya kaget, dan berkata dalam hati; “Siesta masih ada di sini.”

Dari Serang, saya jadi wartawan di Tangerang, lalu ditarik ke Jakarta untuk ngepos di Departemen Luar Negeri dan ngintilin Menristek BJ Habibie. Saat itu, muncul budaya baru di Jakarta, yaitu bobo ciang.

Jika kelas menengah miskin Belanda ber-siesta dengan bantal guling, kelas menengah Jakarta di penghujung abad ke-20 bobo ciang dengan bantal hidup. Dalam bahasa lain, siesta bukan dengan dutch wife tapi hidden wife.***

BACA INI JUGA
Parit Perlindungan Sia-sia Lindesteves Batavia
Batu Bata, Kali Lio, dan Lapangan Banteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *