Wewe Gombel atau Kalong Wewe era Renaisans

Wewe Gombel atau Kalong Wewe, hantu di Pulau Jawa dalam lukisan Giovanni Battista de'Cavalieri tahun 1585.

Jakarta, tandabaca.id
Wewe Gombel atau Kalong Wewe, hantu di Pulau Jawa dalam lukisan Giovanni Battista de’Cavalieri tahun 1585. Foto ini terdapat di Wikipedia Common, tapi saya menemukannya dalam buku De postkoloniale spiegel.

Karena yang melukis orang Barat, wajah Wewe Gombel jadi nggak lokal. Lebih mirip perempuan Eropa abad pertengahan, dengan rambut kriwil-kriwil yang disukai kebanyakan wanita saat itu. Mungkin ini lebih cocok Wewe Gombel era renaisans. Pengaruh hantu Eropa juga terlihat pada kaki Wewe Gombel, yang merupakan kaki sapi.

Di masyarakat Betawi, nama Wewe Gombel berubah menjadi Kalong Wewe. Dulu, saat masih kecil di Kampung Rawabengkel, Cengkareng, saya sering mendengar orang tua menakuti anak-anak yang menolak masuk rumah saat maghrib, atau ketika matahari tenggelam dan kegelapan malam turun, dengan Kalong Wewe.

Maklum, Cengkareng tahun 1967 atau saat saya datang masih berupa hamparan tanah kosong, dengan pepohonan besar dan semak. Jarak satu dan lain kampung sedemikian jauh.

Wewe Gombel atau Kalong Wewe digambarkan sering menculik anak-anak yang bermain di luar rumah saat pergantian siang menjadi malam. Biasanya, orang kampung akan mencari anak yang hilang ke semak-semak atau rumah kosong dengan tetabuhan. Namun, selama tinggal di Cengkareng sampai hengkang dari Rawa Bengkel saya tak pernah menyaksikan ada anak kecil diculik Kalong Wewe.

Di penghujung 1970-an, ketika listrik masuk Rawa Bengkel dan kampung di pinggir kali pengairan program Politik Etis menjadi terang benderang, Wewe Gombel atau Kalong Wewe hilang dari ingatan kolektif penduduk.

Tidak ada lagi orang tua menakuti anak-anak mereka dengan Kalong Wewe, yang digambarkan memiliki payudara panjang tapi tak seksi. Generasi berikut tak lagi mewariskan cerita tentang Kalong Wewe.

Program Listrik Masuk Desa era Orde Baru mengakhiri eksistensi Kalong Wewe, alias Wewe Gombel, dalam ingatan kolektif masyarakat Betawi pinggiran.***

Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur

BACA INI JUGA
Ernest Dezentje, Pelukis Kesayangan Soekarno

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *