Antara 1890-1939, menurut Jacob van den Burg, Belanda memboyong 33 ribu kuli kontrak dari Pulau Jawa ke Suriname. Buruh kontrak pertama, tiba di Jaglust, sebuah perkebunan besar di Suriname, tahun 1898.
Jakarta, tandabaca.id
Foto ini saya temukan di situs suriname.nu, di atas artikel Javaanse contractarbeiders yang ditulis Jacob van der Burg. Saya baca sekilas artikel itu, lalu saya teringat pada seorang tua yang saya temui saat kampanye Partai Berkarya tahun 2019.
Saya lupa nama orang tua itu. Yang masih saya ingat adalah orang tua itu berumur 70 tahunan dan pensiunan mayor AL Suriname. Ia pindah ke Indonesia, dan bermukim di kampung halaman leluhurnya di Kebumen, tahun 1990-an.
“Saya mengikuti keinginan orang tua, ingin meninggal kampung nenek moyang di Kebumen,” katanya kepada saya. “Orang tua saya sudah meninggal. Adik-adik saya masih di Suriname sampai saat ini.”
Saya sempat ragu dengan pengakuan orang tua itu, tapi ketika dia berbicara dalam Bahasa Jawa (kasar), Belanda, Inggris, dan mengerti beberapa bahasa yang digunakan komunitas etnis di Suriname, saya mulai yakin dia benar orang Jawa Suriname –generasi keempat kuli kontrak yang didatangkan Belanda ke koloninya di Amerika Selatan.
Antara 1890-1939, menurut Jacob van den Burg, Belanda memboyong 33 ribu kuli kontrak dari Pulau Jawa ke Suriname. Alasan utamanya, pemerintah kolonial Suriname kesulitan mendapatkan pasokan kuli Hindustan karena berkewarga-negaraan Inggris.
Ketika Inggris mengatakan fasilitas kesehatan dan penghidupan di Suriname tidak memadai, pemerintah kolonial Suriname menghentikan perekrutan kuli Hindustan dan berpaling ke orang Jawa.
Kuli Kontrak dan Krisis Ekonomi
Orang Belanda tak perlu merundingkan kondisi kerja kepada orang Jawa. Kalian mau, ayo berangkat. Namun, tidak sedikit orang Jawa yang dipaksa berangkat. Ada yang dicomot di jalan-jalan, dan dinaikan ke kapal.
Akibatnya, banyak yang tidak siap bekerja di perekebunan yang super berat. Belanda tidak punya pilihan selain menempa mereka terus-menerus.
Orang Jawa dipekerjakan di 27 perkebunan. Setelah kontrak awal berakhir, yang berdurasi lima tahun, mereka diminta memilih; menandatangani kontrak baru atau kembali ke Jawa dengan biaya Belanda.
Sebanyak 8.000 kembali ke Jawa. Lainnya, sebanyak 25 ribu, terpaksa, dipaksa, atau diintimidasi, bertahan di Suriname dengan menandatangani kontrak baru.
Kelompok pertama kuli kontrak asal Jawa ke Suriname terdiri dari 94 orang; terdiri dari 62 laki-laki dan 32 perempuan. Kelompok ini direkrut atas prakarsa Perusahaan Dagang Belanda untuk dipekerjakan di perkebunan tebu Marienburg.
Tahun-tahun berikut, perekrutan, transportasi dan pekerjaan menjadi tanggung jawab pemerintah Belanda. Sehingga, buruh kontrak pertama yang direkrut pemerintah Belanda untuk dikirim ke Suriname berjumlah 793. Buruh kontrak pertama ini tiba di Jaglust, sebuah perkebunan besar di Suriname, tahun 1898.
Kondisi kerja yang keras, dengan bentang alam yang masih perawan, menyebabkan banyak kuli kontrak yang tewas. Kematian terbesar disebabkan oleh tenggelam. Lainnya adalah penyakit.
Orang Jawa Cukup Kreatif
Hingga 1930 sebagian besar kuli kontrak asal Jawa bekerja di sektor perkebunan. Ketika terjadi malaise, atau krisis ekonomi dunia, banyak perkebunan tutup. Menghadapi situasi ini, orang Jawa cukup kreatif. Mereka mengolahan lahan pertanian kecil-kecilan sebagai cara menghadapi ketiadaan penghasilan berupa gaji.
Tanah pertanian milik para tuan dikelola untuk menghasilkan komoditas yang diserap pasar lokal. Pemerintah Belanda membantu dengan cara mendistribusikan lahan milik para tuan yang melarikan diri dari krisis.
Ribuan hektar lahan dibagi ke dalam petak-petak kecil, antara empat sampai lima hektar, untuk setiap keluarga. Ketika krisis ekonomi berakhir, para tuan kembali tapi situasi telah berubah. Para tuan menyaksikan buruh mereka mengambil alih lahan yang mereka tinggalkan.
Merindukan Orang Jawa
Ada yang menarik dari pembicaraan saya dengan orang tua yang saya temui saat kampanye Partai Berkarya, yaitu betapa Suriname masih membutuhkan orang Jawa.
“Silahkan datang, Anda akan diberi tanah dan modal untuk mengolah lahan,” kata orang tua itu.
Seorang kawan satu sekolah saya mengirimkan video kampanye orang Jawa di Suriname. Video yang bisa ditemui di YouTube itu menarasikan keinginan orang Jawa di Suriname akan kedatangan saudara mereka dari Jawa.
“Namun tujuannya sudah lain,” kata orang tua itu. “Kami ingin populasi kami bertambah dan memperoleh banyak kursi di parlemen.”
Saat ini, orang Jawa berjumlah 14,6 persen dari populasi Suriname yang 632.638 seluruh penduduk Suriname. Hindustani menempati urutan pertama dengan 27,4 persen, Kreol 17,7 persen, Bushnegro dan Marun 14,7 persen. Lainnya adalah Tionghoa, Amerindian, Yahudi Sefardim, dan imigran dari Brasil, Lebanon, dan Portugis.***
Oleh Teguh Setiawan penulis toponimi Jakarta Barat dan Jakarta Timur
BACA INI JUGA
Rawa Buaya Cengkareng, Dipenghujung Abad ke-19 Binatang Melata Itu Musnah










Responses (2)