TANDABACA.ID – Sebuah drone menghantam Kedutaan (Kedubes) Besar Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak, Sabtu (14/3) waktu setempat. Serangan terjadi setelah dua anggota milisi Kataeb Hizbullah, tewas.
Kepulan asap tebal membubung tinggi di Kedubes AS setelah terkena hantaman drone, demikian dilaporkan oleh AFP.
“Drone menghantam kedutaan,” ujar salah satu pejabat Kedubes AS yang bersedia memberikan keterangan dengan identitas anonim, kepada AFP.
Sumber anonim lain dari pihak keamanan menyatakan bahwa serangan drone itu menargetkan misi diplomatik AS.
Serangan tersebut terjadi beberapa saat setelah dua anggota milisi yang didukung Iran, Kataeb Hizbullah, tewas dalam serangan AS-Israel di ibu kota Irak, Baghdad.
AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan ke Baghdad dan mengeklaim telah menewaskan dua anggota Kataeb Hizbullah. Itu merupakan serangan pertama kali bagi AS-Israel ke jantung kita Baghdad selama perang melawan Iran.
BACA INI JUGA : Reading the US–Israel vs Iran Conflict through Conflict Theory, International Law, and Geopolitics
Salah satu anggota Kataeb Hizbullah yang tewas diklaim merupakan figur penting milisi tersebut.
“Rudal menghantam rumah yang biasa digunakan anggota Kataeb Hizbullah pada pukul 02.15 (waktu setempat),” demikian keterangan pihak keamanan Irak.
Jika Tanda Ini Muncul Trump Akan Stop Perang
Presiden AS Donald Trump memberi sinyal perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran bisa berakhir jika sudah ada tanda yang muncul.
Trump menyampaikan komentar itu saat wawancara dengan Fox News Radio’s dalam program The Brian Kilmiade.
“Setelah ini berakhir, dan saya rasa tidak akan lama lagi ini, situasinya akan kembali memburuk dengan cepat,” kata Trump saat ditanya kapan perang dengan Iran akan berakhir.
“Kapan Anda tahu perang akan berakhir?” tanya presenter lagi.
“Saat saya merasakannya. Firasat yang sangat kuat,” imbuh dia, dikutip CNN, Jumat (13/3).
BACA INI JUGA : Perang Iran vs Israel & Amerika, Korupsinikus: Siapa Bakal Menang?
AS dan Israel menggempur secara membabi buta ke Iran sejak 28 Februari. Serangan di hari itu menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya tewas.
Mereka yang tewas menantu Khamenei, cucunya, dan sederet pejabat top keamanan Iran.
Hingga kini, korban tewas secara keseluruhan di Iran mencapai lebih dari 1.300 jiwa termasuk anak-anak dan perempuan.
Pada hari pertama pemboman AS-Israel, Iran langsung meluncurkan serangan balasan ke Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Saat Khamenei dinyatakan meninggal, serangan balasan Iran kian intensif. Di tengah pembalasan itu, mereka juga menutup jalur perdagangan minyak global Selat Hormuz.
Terbaru, AS melancarkan serangan udara besar-besaran ke markas militer Iran di Pulau Kharg, dekat Selat Hormuz. Menurut Trump serangan itu merupakan salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah.
BACA INI JUGA : Mojtaba Khamenei Calon Kuat Pengganti Ayahnya, Iran Sebut Monarki Berjubah
Dalam serangan tersebut AS memilih menghindari mengebom infrastruktur minyak Iran di pulau itu.
Namun, dia mengancam akan mempertimbangkan menghancurkan infrastruktur minyak apabila Iran dan sekutunya mengganggu kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Iran pun mengancam akan menyerang balik fasilitas minyak dan energi di kawasan yang dimiliki perusahaan Amerika Serikat atau bekerja sama dengan AS, jika Washington menyerang infrastruktur minyak Teheran.***













